Tadzkirah

Keutamaan Puasa Asyura

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim).

Asyura adalah hari kesepuluh di bulan Muharram sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. Rasulullah saw memerintahkan untuk berpuasa Asyura sebagaimana yang disebutkan dalan hadits riwayat Bukhari, Muslim, dan Tarmidzi. Sepanjang hidup beliau, puasa di hari ini adalah satu dari empat hal yang tidak pernah beliau tinggalkan.

Dari Hafshah RA, dia berkata, “Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw yaitu: puasa Asyura (10 Muharam), puasa 10 hari bulan Zulhijah, puasa tiga hari setiap bulan, dan salat dua rakaat sebelum salat fajar (subuh).” (HR Ahmad dan an-Nasa’i)

Momentum Besar

Hukum berpuasa Asyura adalah sunah, walaupun Rasulullah saw tidak pernah meninggalkannya sepanjang hayat. Sehingga, sejatinya ini adalah momentum besar yang tidak layak diabaikan begitu saja, terutama bagi mereka yang bertekad untuk mengikuti jejak Rasulullah Muhammad saw hingga ke surga.

Orang-orang yang besar adalah mereka yang selalu memperhatikan momentum-momentum yang besar. “Besar” di sisni bukan berdasarkan ukuran keduniaan. Namun, berdasarkan standard ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Berdasarkan itulah, Asyura termasuk momentum besar yang harus diperhatikan. Jangan sampai kita kehilangan moment yang besar dan sangat diperhatikan oleh Rasulullah saw ini.

Rasulullah yang telah ma’sum saja tidak melewatkan momentum Asyura bahkan bertekad mengistimewakannya dari orang-orang Yahudi, maka tentu kita tidak boleh tertinggal untuk melaksanakannya sepeninggal beliau. Karena, orang-orang besar adalah mereka yang memperhatikan apa-apa yang dibesarkan oleh Allah Azza wajalla. Jadi, semua yang dipikirkan dan menjadi targetnya adalah apa yang dianggap besar dan diagungkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Apa yang sebenarnya melatarbelakangi keutamaan puasa Asyura? Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ketika Nabi Muhammad saw tiba di Madinah, orang-orang Yahudi disana sedang melakukan puasa Asyura. Rasulullah kemudian bertanya, “Apa puasa yang sedang kalian kerjakan?” Mereka menjawab, “ Ini adalah hari kemenangan. Hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya. Karena itu, Nabi Musa as berpuasa di hari ini. “

Apa yang kemudian Rasulullah Saw katakan terhadap mereka? Rasulallah Saw bersabda, “Saya lebih berhak terhadap Musa as dari pada kalian.” Maksudnya kedudukan Rasulullah saw sebagai nabi dan rasul, menjadikan beliau lebih berhak mengadopsi syariat Musa as – sebagai sesama nabi untuk menjalankan syariatnya.

Ini kemudian juga mengingatkan kita agar tidak sembarang mengadopsi syariat dari nabi atau rasul sebelum Rasulallah Muhammad saw. Karena, hanya syariat yang diadopsi oleh Rasulullah Muhammad saw dan dilakukan oleh beliaulah yang boleh kita ikuti.

Pada hari Asyura, Nabi Musa diselamatkan dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Di hari Asyura pula laut Merah terbelah dan menenggelamkan Fir’aun. Oleh karena itu, Nabi Musa as kemudian berpuasa di hari itu. Rasulullah saw yang mengadopsi syariat Musa ini juga kemudian berpuasa di hari Asyura dan memerintahkan kepada umatnya untuk berpuasa Asyura.

Puasa Tasu’a

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berpuasa pada hari Asyura pada tahun-tahun berikutnya dan memerintahkan orang agar berpuasa padanya. Suatu ketika, sebagian sahabat berkata, “‘Ya Rasulullah, ia adalah suatu hari yang dibesarkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Jika datang tahun depan, insya Allah kita berpuasa juga pada hari kesembilan.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Maka belum lagi datang tahun berikutnya itu, Rasulullah SAW pun wafat.’” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Walaupun Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam wafat sebelum melaksanakan puasa tasu’a, maka apa yang telah ditetapkan beliau di tahun sebelumnya sudah menjadi hal yang harus dilaksanakan oleh umatnya. Karena hadits adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah Muhammad saw.
Selain merupakan puasa yang diutamakan setelah Ramadhan, puasa Asyura juga puasa yang akan menghapus dosa kita setahun sebelumnya.

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ‘Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.’ Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ‘Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.’” (HR. Muslim no. 1162).

Kata Imam Nawawi rahimahullah, yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil. Bila dosa kecil ssebelumnya sudah diampuni, maka dosa besarlah yang diringankan oleh Allah Ta’ala. Bila dosa besarnya sudah diampuni, maka diangkatlah derajatnya oleh Allah Azza Wajalla. Ini semua adalah bentuk rahmat dan keagungan dari Allah kepada mereka yang berpuasa.

Ada beberapa alasan hikmah disunnahkannya puasa 9-10 Tasu’a dan Asyura di bulan Muharram:

1. Agar tidak sama puasa kita dengan puasanya orang Yahudi. Oleh karena itu, jika tidak sempat berpuasa tasu’a maka berpuasalah di tanggal 10 dan 11 Muharram. Tujuannya tidak lain untuk menyelisihi dan membuat tidak samanya puasa kita dengan puasa orang Yahudi.

2. Menguhubungkan Asyura dengan satu hari sebelum atau sesudahnya. Bahkan Imam Syafii menganjurkan agar kita berpuasa tiga hari, yaitu tanggal 9-10-11 Muharram. Namun, yang utama tetaplah berpuasa tanggal 9-10 Muharram.

3. Menjaga agar tidak salah tanggal.
Hari Tasu’a dan Asyura beberapa hari lagi akan datang. Berpuasa di hari Asyura bahkan tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw hingga akhir hayatnya. Tentunya akan menjadi sebuah kerugian besar manakala kita mengabaikannya. Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan dan kekuatan untuk kita menjalankannya.*