Tadzkirah

Ketika Tauhid Menjadi Jalan Kemerdekaan Hati

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

DALAM pusaran kehidupan yang serba tidak pasti, hati manusia kerap dihampiri lelah, kecewa, bahkan amarah yang mengendap. Harapan yang tidak sesuai kenyataan, perlakuan yang terasa tidak adil, atau sikap orang lain yang menyakiti hati dapat meninggalkan luka yang tidak mudah sembuh.

Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa penderitaan batin itu terkadang begitu lama bersemayam?

Boleh jadi, persoalannya bukan semata-mata pada apa yang terjadi di luar diri kita, melainkan pada bagaimana hati menempatkan Allah dalam kehidupan. Lisan kita mungkin fasih mengucapkan la ilaha illallah. Akan tetapi, dalam praktiknya, belum tentu hati benar-benar menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung.

Tauhid bukan sekadar kalimat yang diucapkan. Ia adalah cara hati memandang kehidupan. Kata ilah berakar dari alaha–ya’lahu, yang mengandung makna menyembah, tunduk, dan menghambakan diri. Al-Ilah adalah Dzat yang satu-satunya berhak disembah dan menjadi tempat bergantung seluruh makhluk.

Dalam penghambaan itu terdapat tiga kekuatan yang menggerakkan hati: cinta (mahabbah), takut (khauf), dan harap (raja’).

Keseimbangan ketiganya akan melahirkan ketenteraman. Sebaliknya, ketika ketiganya salah arah, kehidupan batin mudah kehilangan kendali.

Ketika harapan kepada manusia terlalu besar, kekecewaan pun menjadi semakin dalam. Kita lupa bahwa manusia memiliki keterbatasan, sementara Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ketika cinta kepada harta, kedudukan, popularitas, atau bahkan manusia melebihi cinta kepada Allah, kita berisiko menjadi tawanan dari sesuatu yang fana. Apa yang semestinya menjadi sarana kehidupan berubah menjadi pusat kehidupan.

Demikian pula dengan rasa takut. Takut kehilangan jabatan, takut tidak disukai, takut dikucilkan, atau takut menghadapi penilaian manusia dapat membuat seseorang mengorbankan prinsip demi mendapatkan penerimaan sesama. Padahal, hati seorang mukmin semestinya lebih takut kehilangan ridha Allah daripada kehilangan penghargaan manusia.

Karena itu, tauhid sejatinya adalah jalan menuju kemerdekaan hati.

Orang yang menggantungkan hatinya hanya kepada Allah tidak berarti terbebas dari masalah. Ia tetap dapat disakiti, dikecewakan, kehilangan sesuatu yang dicintai, dan menghadapi ketidakadilan. Namun, ia memiliki tempat kembali yang tidak pernah mengecewakannya.

Dalam berdoa pun demikian. Kita terkadang datang kepada Allah dengan membawa daftar panjang keinginan, seolah-olah doa hanya menjadi sarana untuk meminta apa yang kita kehendaki. Padahal, doa sejatinya adalah pengakuan bahwa kita adalah hamba dan Allah adalah Rabb.

Karena itu, memuji Allah, mengagungkan nama-Nya, dan menyerahkan urusan kepada-Nya merupakan bagian penting dari doa. Ketika hati terlebih dahulu mengenal kebesaran Allah, persoalan yang kita hadapi tidak lagi tampak sebagai sesuatu yang lebih besar daripada pertolongan-Nya.

Alquran mengingatkan, “Innamallahu ilahun wahidun”—sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa (QS an-Nisa: 171).

Kalimat tauhid bukan hanya membebaskan manusia dari penyembahan kepada berhala. Ia juga membebaskan hati dari penghambaan kepada makhluk, harta, kedudukan, pujian, dan berbagai ketakutan yang membuat manusia kehilangan ketenangan.

Seseorang yang tauhidnya tertanam kuat tidak mudah hancur hanya karena disakiti manusia. Ia tidak terlalu takut ketika dijauhi, tidak kehilangan arah ketika direndahkan, dan tidak merasa hidupnya berakhir ketika kehilangan sesuatu.

Sebab, ia mengetahui bahwa ada satu Dzat yang tidak pernah meninggalkannya.

Ketika cinta, takut, dan harap hanya bermuara kepada Ilahun Wahid, di situlah hati menemukan kemerdekaannya. Bukan kemerdekaan dari ujian, melainkan kemerdekaan dari menjadi budak selain Allah.

Maka, ketika hati sedang lelah, barangkali yang perlu kita lakukan bukan sekadar mencari siapa yang harus disalahkan. Bisa jadi, kita perlu kembali bertanya kepada diri sendiri: kepada siapa sebenarnya hati ini bergantung?

Semakin lurus tauhid seseorang, semakin ia memahami bahwa manusia hanyalah sebab, sementara Allah adalah tempat bergantung yang sesungguhnya.

Hasbunallahu wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir.

Cukuplah Allah menjadi penolong kami. Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.*

Exit mobile version