Kemuliaan Tak Bisa Hanya Diwariskan

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
DALAM kehidupan, ada orang yang merasa bangga karena lahir dari keluarga terpandang. Nasabnya baik, leluhurnya dikenal saleh, atau keluarganya memiliki sejarah panjang dalam perjuangan umat. Kebanggaan semacam itu tidak selalu salah. Namun, menjadi persoalan ketika seseorang merasa kemuliaan leluhurnya otomatis menjadi kemuliaan dirinya.
Islam mengajarkan sesuatu yang jauh lebih mendasar. Kemuliaan di hadapan Allah SWT bukan perkara darah, marga, kekayaan, atau kebesaran keluarga. Kemuliaan harus diperjuangkan dengan ketakwaan.
Alquran mengingatkan manusia melalui kisah Nabi Ibrahim AS. Ketika Allah SWT menjadikan Ibrahim sebagai imam bagi manusia, ia kemudian memohon agar kepemimpinan itu juga diberikan kepada keturunannya. Allah SWT menjawab, “Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (QS Al-Baqarah: 124).
Ayat ini mengandung pelajaran penting. Nasab yang mulia tidak menjadi jaminan seseorang memperoleh kedudukan mulia di sisi Allah. Bahkan keturunan seorang nabi sekalipun tidak memiliki hak istimewa jika memilih jalan kezaliman.
Sebaliknya, seseorang yang berasal dari keluarga sederhana, tidak memiliki nama besar, dan tidak mewarisi kebesaran apa pun, dapat memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah apabila ia menjaga ketakwaannya.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS Al-Hujurat: 13).
Karena itu, persoalan terbesar sebuah keluarga bukan sekadar bagaimana mewariskan harta, nama baik, jabatan, atau jaringan kepada anak-anaknya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana mewariskan nilai dan perjuangan.
Sebab, ada generasi yang ingin menikmati hasil perjuangan orang tuanya, tetapi tidak bersedia meneruskan perjuangan tersebut. Mereka mewarisi rumah, usaha, kedudukan, bahkan nama besar keluarga, tetapi tidak mewarisi kesungguhan beribadah dan beramal.
Alquran menggambarkan keadaan seperti itu: “Kemudian datanglah setelah mereka generasi pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti hawa nafsu. Mereka kelak akan tersesat.” (QS Maryam: 59).
Inilah salah satu tantangan terbesar dalam regenerasi umat. Prestasi orang tua tidak bisa menjadi pengganti amal anak.
Seorang ayah mungkin dikenal sebagai ulama. Seorang ibu mungkin dikenal sebagai perempuan salehah. Sebuah keluarga mungkin memiliki sejarah panjang dalam dakwah dan perjuangan. Namun, setiap generasi tetap harus membuktikan ketakwaannya sendiri.
Kemuliaan itu tidak bisa diwariskan seperti sertifikat.
Ketika Anak Berbeda Jalan
Lalu bagaimana dengan orang tua yang telah mendidik anaknya dengan baik, tetapi sang anak justru memilih jalan yang menyimpang?
Di sinilah kita melihat keadilan Allah SWT. Kesalahan seorang anak tidak otomatis menjadi dosa orang tuanya. Demikian pula kesalehan seorang ayah tidak otomatis menjadi tiket keselamatan bagi anaknya.
Allah SWT berfirman:
“Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS Al-An’am: 164).
Kisah Nabi Nuh AS menjadi pelajaran yang sangat dalam. Beliau adalah seorang nabi, tetapi salah seorang putranya memilih untuk ingkar. Nuh AS telah menyampaikan dakwah dan menjalankan amanahnya. Namun, hidayah bukan berada di tangan manusia.
Kisah itu sekaligus menjadi penghiburan bagi para orang tua. Tugas manusia adalah mendidik, menasihati, memberi teladan, dan terus mendoakan. Adapun hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT.
Karena itu, orang tua tidak boleh merasa aman hanya karena telah melahirkan anak dari keluarga Muslim atau keluarga yang dikenal baik. Pendidikan iman harus terus dirawat. Ketakwaan harus terus diperbarui. Nilai-nilai kebaikan harus terus dihidupkan dalam keluarga.
Sebab setiap generasi akan menghadapi zamannya sendiri dengan godaan dan tantangan yang berbeda.
Jangan Hanya Mewarisi Nama Besar
Ada pelajaran penting yang perlu direnungkan: jangan hanya mewariskan hasil perjuangan kepada anak, tetapi wariskan pula semangat dan proses perjuangannya.
Jika orang tua dahulu membangun kehidupan dengan shalat, kejujuran, ilmu, kerja keras, pengorbanan, dan kepedulian kepada sesama, maka anak-anak perlu diperkenalkan kepada nilai-nilai tersebut. Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengenal cerita tentang kebesaran leluhur, tetapi tidak memahami mengapa leluhur mereka dahulu menjadi mulia.
Pada akhirnya, yang akan dibawa manusia menghadap Allah bukanlah nama belakangnya, bukan panjangnya silsilah, dan bukan kebesaran keluarganya.
Yang dibawa adalah amal.
Karena itu, setiap generasi perlu melakukan semacam “verifikasi ketakwaan” dalam dirinya. Apakah kita masih menjaga shalat? Apakah kita masih jujur? Apakah kita masih peduli kepada sesama? Apakah ilmu dan harta yang kita miliki semakin mendekatkan kita kepada Allah atau justru menjauhkan kita dari-Nya?
Kemuliaan keluarga bukanlah ketika anak-anak sekadar mampu menyebut nama besar orang tuanya.
Kemuliaan yang sesungguhnya adalah ketika anak-anak mampu melanjutkan kebaikan yang pernah diperjuangkan orang tuanya, lalu menghadirkan kebaikan yang lebih luas pada zamannya.
Sebab, tujuan akhir sebuah keluarga Muslim bukan sekadar memiliki silsilah yang panjang di dunia. Lebih dari itu, ia adalah bagaimana orang tua, anak, dan keturunannya kelak dikumpulkan kembali dalam rahmat Allah dan bersama-sama memasuki surga-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.