Tadzkirah

Keadaan Orang Kafir di Akhirat

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

SEBAGAI orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita harus meyakini bahwa urusan nasib dan keadaan seluruh makhluk di hari pembalasan nanti adalah mutlak hak Allah SWT. Hanya Dia lah yang tahu nasib dan akhir dari kehidupan seseorang apakah dalam keadaan beriman kepada-Nya atau dalam keadaan kafir.

Sebagai orang yang beriman kita hanya mengikuti dan meyakini apa yang dijanjikan Allah Ta’ala di dalam Alquran kepada hamba-hambanya, baik yang beriman dan beramal shaleh maupun yang kafir dan ingkar kepada-Nya. Karena Allah telah menegaskan dalam Alquran bahwa Dia tidak akan mengingkari janji-Nya.

Dalam Alquran, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan surga bagi orang kafir dan telah menyediakan neraka sebagai tempat kembali bagi mereka. Oleh karena itu kita harus meyakini bahwa semua orang yang sampai kepadanya dakwah Islam dan tetap ingkar dan tidak mau memeluk Islam serta mentauhidkan Allah SWT, tempatnya di akhirat nanti adalah neraka.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُ‌وا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِ‌كِينَ فِي نَارِ‌ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَـٰئِكَ هُمْ شَرُّ‌ الْبَرِ‌يَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (Surat Al-Baiyyinah [98]: 6).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ ، عَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ : ” وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Demi Yang jiwa Muhammad di tangannya! Tidak seorang pun yang mendengar tentangku -apakah itu Yahudi atau Nasrani- kemudian dia mati dalam keadaan belum beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia menjadi penduduk neraka.” (Riwayat Muslim).

Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita bahwa hal pertama yang menjadi ukuran adalah keimanan kepada Allah SWT serta mentauhidkan-Nya dalam ibadah dan penghambaan, bukan akhlak yang baik atau amal perbuatan yang baik. Hal itu karena tauhid merupakan inti ajaran Islam dan karena tauhid itulah Allah Ta’ala mengutus para nabi dan rasul dari Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW, yaitu untuk menyeru dan mengajak manusia untuk hanya menyembah dan beribadah kepada Allah SWT.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّ‌سُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّـهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (Surat An-Nahl [16]: 36).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan dalam sebuah hadits qudsi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ” قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: لَنْ يُعِيدَنِي كَمَا بَدَأَنِي، وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا، وَأَنَا الْأَحَدُ الصَّمَدُ، لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُوًا أَحَدٌ

Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a. bahwasanya Nabi bersabda, Allah SWT telah berfirman: Ibnu Adam (umat manusia) telah mendustakanku, dan mereka tidak berhak untuk itu, dan mereka mencelaku padahal mereka tidak berhak untuk itu, adapun kedustaannya padaku adalah perkataanya, “Dia tidak akan menciptakankan aku kembali sebagaimana Dia pertama kali menciptakanku (tidak dibangkitkan setelah mati)”, adapun celaan mereka kepadaku adalah ucapannya, “Allah telah mengambil seorang anak, (padahal) Aku adalah Ahad (Maha Esa) dan Tempat memohon segala sesuatu (al-shomad), Aku tidak beranak dan tidak pula diperankkan, dan tidak ada bagiku satupun yang menyerupai.” (Riwayat Bukhari).

Bagaimana mungkin akhlak mereka baik, sedangkan mereka mendustakan Allah SWT, tidak beradab kepada-Nya. Padahal Allah SWT telah memberikan kepada mereka pendengaran dan penglihatan, memberikan nikmat yang tak terhitung, memudahkan segala sesuatu bagi mereka, mengutus para rasul serta menurunkan kitab agar mereka mendapat petunjuk. Tapi mereka tidak bersyukur dan tetap ingkar serta tidak mau beriman. Maka betapapun banyaknya ia berbuat baik di mata manusia, tapi di sisi Allah hal itu tidak ada nilainya. Allah berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِ‌ينَ أَعْمَالًا ﴿١٠٣﴾ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا ﴿١٠٤﴾ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُ‌وا بِآيَاتِ رَ‌بِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (Surat al-Kahfi [18]: 103-105).

Adapun mereka yang belum sampai dakwah Islam kepada mereka atau bayi yang dilahirkan dalam keluarga kafir maka hukumnya menurut mayoritas ulama adalah sama dengan hukum mereka yang hidup sebelum masa diutusnya Nabi Muhammad SAW (ahlu fatrah/masa vakum kenabian). Dijelaskan dalam hadits bahwa nanti mereka akan diuji oleh Allah SWT. Jika mereka mematuhi perintah Allah mereka akan masuk surga, sebaliknya jika mereka ingkar maka mereka akan masuk neraka.

عَنِ الأَسْوَدِ بنِ سَرِيْعٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أرْبَعَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَصَمُّ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا ، وَرَجُلٌ أَحْمَقُ ، وَرَجُلٌ هَرَمٌ ، وَرَجُلٌ مَاتَ فِي فَتْرَةٍ ، فَأَمَّا الْأَصَمُّ ، فَيَقُولُ : رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَسْمَعُ شَيْئًا ، وَأَمَّا الْأَحْمَقُ ، فَيَقُولُ : رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونِي بِالْبَعْرِ ، وَأَمَّا الْهَرَمُ ، فَيَقُولُ : رَبِّي لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَعْقِلُ شَيْئًا ، وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ ، فَيَقُولُ : رَبِّ مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ . فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ لَيُطِيعُنَّهُ ، فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ أَنْ ادْخُلُوا النَّارَ ، قَالَ : فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ دَخَلُوهَا ، لَكَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، مِثْلَ هَذَا غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ فِي آخِرِهِ : ” فَمَنْ دَخَلَهَا كَانَتْ عَلَيْهِ بَرْدًا وَسَلَامًا ، وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا يُسْحَبُ إِلَيْهَا

Dari Aswad bin Sari’ sesungguhnya Nabi SAW. bersabda, “Empat golongan (yang akan diuji) pada hari kiamat yaitu seseorang yang tuli yang tidak bisa mendengar sesuatu pun, seorang yang bodoh, seorang yang tua [pikun] dan seorang lelaki yang mati dalam waktu fatrah [periode vakum kenabian/sebelum diutusnya Rasul]. Adapun orang yang tuli akan berkata, “Tuhan, sungguh telah datang Islam dan aku tdk bisa mendengar sesuatu pun”. Dan orang yang ideot berkata, “Tuhan, sungguh telah datang Islam, dan anak-anak kecil melempariku dengan kotoran”. Sedangkan orang tua berkata, “Tuhan, sungguh telah datang Islam, sedangkan aku tidak bisa memahami sesuatu”. Adapun orang yang meninggal dalam masa fatrah berkata, “Tuhan, tidak datang kepadaku seorang rasul-MU. Maka Dia (Allah) mengambil perjanjian dari mereka agar mentaati-Nya, lalu Dia mengirim utusan untuk menyuruh mereka agar memasuki neraka. Barangsiapa yang memasukinya maka neraka itu akan menjadi sejuk dan keselamatan baginya. Dan dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan seperti riwayat ini tetapi diakhirnya disebutkan “Barangsiapa yang memasukinya maka neraka itu akan menjadi sejuk dan keselamatan baginya dan barangsiapa yang tidak memasukinya dia akan ditarik ke dalamnya. (Riwayat Ahmad dan Baihaqi).*

Wallahu a’lam bish shawab.