Jangan Sampai Kita Menjadi Umat yang Dikeluhkan Rasulullah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
AL-QUR’AN bukan sekadar kitab suci yang dibaca pada waktu-waktu tertentu. Ia adalah petunjuk kehidupan yang semestinya senantiasa hadir dalam hati, pikiran, dan perilaku seorang Muslim.
Allah SWT mengabadikan keluh kesah Rasulullah SAW dalam QS Al-Furqan ayat 30:
“Dan Rasul (Muhammad) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan.’”
Ayat tersebut menggambarkan kegelisahan Rasulullah SAW terhadap sikap kaumnya yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan atau diabaikan.
Keluhan Rasulullah SAW bukanlah bentuk kebencian terhadap umatnya. Di balik keluhan tersebut terdapat harapan agar umatnya senantiasa setia bersama Al-Qur’an, menjadikannya sumber petunjuk sekaligus pedoman dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, ayat ini semestinya menjadi bahan introspeksi bagi setiap Muslim. Seberapa dekat kita dengan Al-Qur’an? Apakah ia menjadi bagian dari keseharian, atau justru semakin jarang dibaca, didengarkan, dipahami, dan diamalkan?
Sebab, meninggalkan Al-Qur’an tidak selalu berarti menolaknya secara terang-terangan. Mengabaikannya juga dapat terjadi ketika seseorang tidak lagi menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber rujukan dalam membentuk cara berpikir dan menentukan arah kehidupan.
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT Yang Mahabesar. Karena itu, ia semestinya dihadapi dengan kesungguhan yang besar pula. Jangan sampai kitab yang membawa gagasan dan petunjuk luar biasa justru diperlakukan secara biasa-biasa saja.
Al-Qur’an dan Gagasan Besar
Kedekatan dengan Al-Qur’an semestinya melahirkan cara berpikir yang besar.
Al-Qur’an tidak hanya berbicara mengenai ibadah ritual. Di dalamnya terdapat prinsip-prinsip tentang keadilan, ekonomi, keluarga, pendidikan, muamalah, kehidupan sosial, dan berbagai aspek kehidupan manusia.
Karena itu, umat yang ingin membangun kehidupan yang lebih baik membutuhkan visi yang besar. Bukan hanya besar dalam cita-cita, tetapi juga kuat dalam nilai dan niat.
Memiliki gagasan besar tanpa fondasi nilai dapat membuat seseorang kehilangan arah. Sebaliknya, kedekatan dengan Al-Qur’an dapat membentuk cara pandang yang lebih luas dan orientasi yang lebih mulia.
Jika ingin melahirkan gagasan besar, bacalah kitab yang diturunkan oleh Allah Yang Mahabesar.
Al-Qur’an seharusnya tidak hanya berada di tangan, tetapi juga hadir dalam cara berpikir, mengambil keputusan, membangun usaha, mengelola masyarakat, dan menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Ketika Al-Qur’an Diabaikan
Allah SWT juga menggambarkan upaya orang-orang kafir untuk menjauhkan manusia dari Al-Qur’an.
Dalam QS Fussilat ayat 26 disebutkan, “Dan orang-orang kafir berkata, ‘Janganlah kamu mendengarkan Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan mereka.’”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki kekuatan besar dalam membentuk manusia. Karena itu, menjauhkan seseorang dari Al-Qur’an dapat menjadi jalan untuk melemahkan keyakinan dan daya juangnya.
Dalam kehidupan modern, bentuknya tidak selalu berupa larangan secara langsung. Hiruk-pikuk kehidupan dapat membuat seseorang semakin jauh dari Al-Qur’an.
Waktu dan perhatian dapat habis untuk pekerjaan, hiburan, media sosial, informasi, dan berbagai kesibukan duniawi. Sementara waktu untuk membaca atau mendengarkan Al-Qur’an semakin sedikit.
Di sinilah pentingnya muhasabah.
Apa yang paling banyak kita dengarkan setiap hari? Apa yang paling banyak memenuhi pikiran kita? Dan dari mana kita memperoleh nilai ketika menentukan pilihan dalam kehidupan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena manusia pada akhirnya dibentuk oleh apa yang paling sering ia dengarkan, baca, pikirkan, dan ikuti.
Jika Al-Qur’an semakin jarang hadir dalam kehidupan, jangan heran apabila nilai-nilai yang berasal dari sumber lain semakin kuat memengaruhi cara berpikir kita.
Sebaliknya, ketika Al-Qur’an terus dibaca, dipahami, direnungkan, dan diamalkan, ia akan menjadi cahaya yang membimbing perjalanan kehidupan.
Karena itu, jangan menjadikan Al-Qur’an sekadar hiasan di rumah. Jangan pula membatasinya hanya sebagai bacaan dalam momentum tertentu.
Jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat dalam kehidupan.
Membacanya setiap hari. Mendengarkan ayat-ayatnya. Memahami maknanya. Merenungkan pesannya. Kemudian menghadirkan petunjuknya dalam kehidupan nyata.
Sebab, persoalan terbesar bukan semata-mata ketika kita meninggalkan Al-Qur’an. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika hati kita sudah tidak lagi merasa membutuhkan Al-Qur’an.
Jangan sampai itu terjadi.
Jangan tinggalkan Al-Qur’an, agar Al-Qur’an senantiasa menjadi petunjuk yang menerangi kehidupan kita.*
