Jangan Salah Menambatkan Hati

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
MANUSIA diciptakan dengan fitrah memiliki beragam perasaan dalam hatinya. Di antara yang paling kuat adalah cinta (mahabbah), takut (khauf), dan harap (raja’). Ketiganya menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu terus kita renungkan: kepada siapakah cinta, takut, dan harapan itu kita arahkan?
Tidak sedikit kegelisahan, kekecewaan, bahkan penderitaan batin muncul karena kita keliru menempatkan ketiga rasa tersebut.
Allah SWT adalah satu-satunya Dzat yang berhak disembah, tempat hati tunduk dan bergantung. Karena itu, menjadikan Allah sebagai Ilah berarti mengembalikan seluruh orientasi hidup kepada-Nya, termasuk cinta, rasa takut, dan harapan.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap tanpa sadar menggantungkan hatinya kepada makhluk. Kita mencintai seseorang, pekerjaan, jabatan, harta, atau berbagai kenikmatan dunia secara berlebihan. Ketika apa yang dicintai itu hilang atau tidak sesuai harapan, hati pun mudah patah, kecewa, bahkan menyimpan kemarahan.
Padahal, mencintai makhluk adalah fitrah. Yang perlu dijaga adalah agar cinta kepada makhluk tidak menggeser cinta kepada Sang Pencipta. Sebab, ketika hati terlalu bergantung kepada manusia, kita akan mudah terluka oleh perubahan sikap manusia.
Demikian pula dengan rasa takut. Takut kehilangan pekerjaan, takut miskin, takut kehilangan kedudukan, atau takut terhadap penilaian manusia dapat membuat seseorang kehilangan ketenangan. Bahkan ketika berada di tempat yang mulia sekalipun, hati tetap gelisah jika ketakutan kepada makhluk telah mengalahkan rasa takut kepada Allah.
Seorang mukmin bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Namun, ia menempatkan rasa takut pada tempat yang benar. Ia takut kepada Allah, sekaligus berharap penuh kepada rahmat-Nya. Dengan demikian, ketakutan tidak membuatnya lumpuh, tetapi mendorongnya untuk semakin dekat kepada Allah.
Begitu pula dalam berdoa. Ada kalanya manusia terlalu sibuk meminta apa yang diinginkannya, seolah-olah mengetahui dengan pasti apa yang terbaik bagi dirinya. Padahal, manusia memiliki keterbatasan pengetahuan, sedangkan Allah Maha Mengetahui apa yang tampak dan apa yang tersembunyi.
Karena itu, doa bukan sekadar cara untuk meminta Allah memenuhi keinginan kita. Doa juga merupakan bentuk penghambaan, pengakuan atas kelemahan diri, sekaligus penyerahan diri kepada ketetapan-Nya.
Orang yang bertauhid akan terus memuji Allah, mengagungkan nama dan sifat-Nya, kemudian memohon dengan penuh kerendahan hati. Ia berusaha, berdoa, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Jika mendapatkan apa yang diminta, ia bersyukur. Jika belum mendapatkannya, ia tetap percaya bahwa Allah memiliki ketetapan yang lebih baik.
Di sinilah kemerdekaan sejati seorang hamba. Ia bekerja tanpa menjadi budak pekerjaan. Ia menghormati manusia tanpa menjadikan manusia sebagai tempat bergantung. Ia mencintai dunia tanpa diperbudak olehnya. Ia menghadapi masa depan dengan harap, tetapi tidak menggantungkan hidup pada kepastian yang dibuat manusia.
Ketika cinta, takut, dan harap dikembalikan hanya kepada Allah, hati menjadi lebih tenang. Kekecewaan tidak mudah menghancurkan, pujian tidak mudah melambungkan, dan celaan tidak mudah menjatuhkan.
Kalimat la ilaha illallah bukan sekadar ucapan yang berulang di lisan. Ia adalah ikrar yang semestinya hidup di dalam hati dan tercermin dalam seluruh orientasi kehidupan.
Mari kita tanamkan kembali makna la ilaha illallah di kedalaman kalbu. Kembalikan cinta kepada Pemilik cinta, rasa takut kepada Yang Mahakuasa, dan harapan kepada Yang Mahapengasih.
Sebab, ketika hati hanya bersandar kepada Allah, seorang hamba tidak lagi mudah diperbudak oleh dunia. Ia berjalan di bumi dengan tenang, karena mengetahui bahwa hidup, mati, rezeki, kehormatan, dan masa depannya berada dalam genggaman Allah SWT.*