Tadzkirah

Istikamah Setelah Ramadan

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

 

RAMADAN telah berlalu, namun semangat ibadah seharusnya tidak ikut surut. Justru, momentum Idulfitri menjadi titik awal bagi setiap Muslim untuk menjaga konsistensi amal dan keimanan. Sebab, ukuran keberhasilan Ramadan bukan hanya pada seberapa khusyuk ibadah selama sebulan, tetapi sejauh mana nilai-nilainya terus hidup setelahnya.

Allah Ta’ala memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang istiqamah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: Janganlah kamu takut dan jangan bersedih hati, serta bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat: 30).

Ayat ini menegaskan bahwa istiqamah bukan perkara ringan, tetapi memiliki balasan yang luar biasa. Keteguhan dalam iman dan amal akan mendatangkan ketenangan hidup, bahkan hingga akhir hayat.

Menjaga Konsistensi 

Teladan terbaik dalam menjaga konsistensi ibadah adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga amalannya. Jika ada ibadah yang biasa dilakukan namun terlewat karena suatu urusan yang lebih besar, maka beliau akan menggantinya di waktu lain.

Ketika Rasulullah tidak sempat beri’tikaf karena adanya panggilan jihad, beliau menggantinya pada bulan Syawal. Begitu pula ketika beliau tidak melaksanakan shalat malam, maka beliau menggantinya dengan shalat Dhuha di pagi hari. Ini menunjukkan bahwa kesinambungan amal lebih dicintai daripada amalan yang hanya sesaat.

Dari teladan tersebut, umat Islam diajarkan bahwa menjaga ritme ibadah setelah Ramadan adalah sebuah keharusan. Istikamah bukan berarti melakukan hal besar sekaligus, tetapi konsisten dalam amal, meskipun kecil.

Salah satu amalan yang sangat penting untuk dijaga adalah istighfar. Setelah Ramadan, tidak sedikit orang yang kembali disibukkan oleh urusan dunia, bahkan merasakan kesempitan dalam rezeki. Dalam kondisi seperti ini, memperbanyak istighfar menjadi kunci.

Allah Ta’ala berfirman, “Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10–12).

Istighfar bukan hanya penghapus dosa, tetapi juga pembuka pintu keberkahan. Memohon ampun kepada Allah dengan sungguh-sungguh, bahkan berulang-ulang, merupakan bentuk ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Berbeda dengan meminta kepada manusia yang memiliki batas, memohon kepada Allah justru dianjurkan dengan penuh kesungguhan, bahkan dengan “merayu” dan mengulang-ulang doa. Hal itu menunjukkan betapa seorang hamba sangat bergantung kepada-Nya.

Namun demikian, dalam menjalani kehidupan, penting untuk memahami bahwa tidak semua kenikmatan terletak pada banyaknya harta. Justru, harta yang melimpah bisa menjadi ujian yang berat. Oleh karena itu, apa pun yang dimiliki saat ini harus disyukuri dan dimohonkan keberkahannya.

Jika dihadapkan pada pilihan antara kenikmatan dunia dan keistikamahan iman, maka pilihlah iman. Sebab, hanya iman dan takwa yang mampu menyelamatkan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Untuk menjaga istiqamah, doa menjadi senjata utama. Rasulullah mengajarkan berbagai doa agar hati tetap teguh, di antaranya, “Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.” (Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku).

Selain itu, doa lain yang tidak kalah penting adalah, “Yaa Muqalibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala diinik.” (Wahai Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).

Doa-doa ini seharusnya tidak hanya dibaca, tetapi diulang-ulang dengan penuh kesadaran dan harapan. Sebab, hati manusia sangat mudah berubah, dan hanya Allah yang mampu menjaganya.

Pada akhirnya, istiqamah adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesungguhan. Ramadan telah melatih kita, dan kini saatnya menjaga hasil latihan tersebut. Jangan biarkan semangat ibadah meredup seiring berlalunya waktu.

Teruslah beribadah, teruslah mendekat kepada Allah, dan jadikan-Nya satu-satunya tempat bergantung. Dengan demikian, kita termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapatkan ketenangan, perlindungan, dan kabar gembira dari Allah Ta’ala.

Istiqamahlah, karena di sanalah letak keselamatan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.*

Exit mobile version