Tadzkirah

Harapan Muharam

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Ya Allah, tampakkanlah bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” (HR. Ahmad, 1:162 dan Tirmidzi, no. 3451, dan Ad-Darimi)

Bulan ini kita sudah memasuki tahun yang baru. Tahun 1447 hijriah. Semoga hari-hari yang telah dilewati dipenuhi dengan ampunan dari segala kesalahan dan kekhilafan. Semoga hari-hari ditahun mendatang penuh kebahagiaan, kenikmatan, dan kemulian. Semoga rahmat dan barokah Allah Azza wa Jalla tercurah untuk kita semua. Alhamdulillah, kita masih diberi panjang usia, maka berterimakasihlah kepada Allah Ta’ala. Tersenyumlah dan berbahagialah karena hari-hari mendatang dengan izin-Nya, akan menjadi lebih baik.

Harapan di Awal Muharam

Jika persepsi dan harapan kita seperti itu, maka semoga yang seperti itulah yang akan terjadi di hari-hari kita yang akan datang. Karena, Allah Azza wa Jalla dalam banyak hal, bergantung pada apa yang menjadi persepsi kita. Semoga juga istiqomah dalam menegakkan ibadah sampai husnul khatimah. Ditahun baru ini mari kita mengukir catatan amal yang terbentang sepanjang perjalanan hidup kita dengan amal-amal terbaik. Jangan lagi kotori catatan kehidupan kita dengan “catatan merah” yang akan menjadi sesal di kemudian hari. Jadikan awal tahun 1447 H ini momentum membersihkan catatan buruk masa lalu dan kita ganti dengan catatan yang baik.

Tekadkanlah, catatan di tahun yang baru dibuka lembarannya ini: dipenuhi dengan catatan dosa dan kesalahan yang telah diampuni, ibadah-ibadah yang telah diterima, dan amal-amal saleh yang kelak mengantarkan kita memasuki surga. Amal-amal yang akan meninggikan kemuliaan kita karena Allah Azza wa Jalla ridha pada apa yang telah kita upayakan selama di dunia.

Tersenyumlah menatap hari-hari yang akan kita jalani dan optimislah selalu. Sambutlah dengan hati dan bersemangat dan pikiran yang positif. Menjauhlah dari pikiran negatif, syakwasangka, dan berhentilah berjalan di bawah bayang-bayang kekhawatiran. Sungguh, hari kemarin sudah berlalu dan hari esok adalah sesuatu yang ghaib. Maka, isilah hari ini dengan sebaik-baiknya karena sejatinya, kita berbekal untuk hari esok dan waktu untuk bisa berbuat yang terbaik adalah hari ini.

Jejaki perjalanan kita di hari ini dan hari-hari mendatang dengan kebaikan. Selain untuk menambah berat timbangan kebaikan, juga untuk menghapus keburukan-keburukan yang telah kita buat di waktu-waktu kemarin. Sungguh, kebaikan itu menghapus keburukan dan mengganti catatan buruk dengan catatan baik. Setiap yang kita anggap kurang baik di hari ini dan kemarin, biasanya karena persepsi kita yang keliru. Karena, hanya Dialah Yang Maha Baik, Maha Sayang, dan Maha Suci dari kesalahan. Maka, apa pun takdir yang datang dari-Nya, itulah cerminan dari Maha Baiknya, Maha Sayangnya kepada kita, dan Maha Sucinya Allah dari segala hal yang kotor, buruk, maupun salah.

Jauhilah sifat berkeluh kesah dari keseharian hidup kita karena tidak ada yang buruk dari takdir Allah Ta’ala. Apa yang diberikan-Nya kepada kita selalu yang terbaik. Hanya saja, kita yang selalu salah paham terhadap apa yang Allah Ta’ala berikan.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” Qs. Al-Ma’arij ayat 19-21

Tuntunan Bulan Muharam

Bulan Muharam yang berasal dari kata haram yang artinya suci atau terlarang. Dinamakan Muharam karena di bulan ini dan tiga bulan lainnya (Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Rajab); orang-orang Arab dilarang untuk berperang dan membunuh. Larangan itu berlanjut hingga masa Islam datang. Di bulan ini dilarang untuk berbuat dzalim dan dosa atas kedzaliman yang dilakukan lebih berat. Kecuali bila terjadi kondisi yang terpaksa atau darurat, maka peperangan dan pembunuhan boleh dilakukan. Misalnya, bila kaum muslimin diserang orang kafir, maka wajib untuk berperang membunuh orang-orang kafir dan dzalim itu.

Di bulan ini kita disunnahkan untuk berpuasa yaitu puasa asyura dan tasu’a. Puasa asyura dilakukan pada tanggal 10 Muharam. Ia adalah puasa yang berkedudukan utama setelah puasa Ramadhan.

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (berpuasa) di bulan Allah, Muharam.” (HR. Muslim).

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan dalam sabdanya bahwa puasa ini bisa menghapus dosa setahun kedepan. “Rasulullah ditanya mengenai puasa asyura, beliau menjawab, ‘Ia bisa menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).

Sedangkan puasa tasu’a adalah puasa yang dilakukan di tanggal 9 Muharam. Awalnya Rasulullah saw beserta sahabat hanya berpuasa di tanggal 10 Muharam, akan tetapi karena orang Yahudi pun berpuasa di hari yang sama dan kita dilarang untuk menyerupai orang kafir dalam hal apa pun, maka Rasulullah saw dan sahabat bertekad untuk melakukan puasa 2 hari, di tanggal 9 dan 10 Muharam.

Namun, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di tahun berikutnya meninggal dunia. Para sahabat kemudian tetap melaksanakan apa yang sudah ditekadkan bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Mereka melakukan puasa tasu’a dan tetap dilakukan oleh orang-orang shaleh hingga sekarang.

Inilah bulan Muharam yang penuh dengan harapan dan keutamaan. Maka, tiada sikap yang lebih baik sebagai orang beriman, kecuali menyambutnya dengan keoptimisan dalam untaian doa dan ketaatan dalam menjalankan ibadah-ibah utama yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam beserta sahabatnya.*