Halaman Baru, Amal Baru

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
JIKA hari ini hidup kita adalah sebuah buku, maka tanggal satu ini seolah menjadi halaman baru yang terbentang bersih. Pena ada di tangan kita, dan setiap pilihan, sikap, serta amal adalah tinta yang perlahan membentuk kisah hidup. Pertanyaannya sederhana, tetapi menggugah: kelak, ketika buku itu dibuka di hadapan Sang Pencipta, apakah kita akan membacanya dengan rasa bangga, atau justru menunduk malu karena terlalu banyak halaman yang diisi kelalaian?
Hidup tidak berjalan tanpa hukum. Salah satu hukum paling pasti adalah hukum menanam dan memanen. Apa yang kita tanam hari ini, niat, usaha, doa, dan amal, itulah yang akan kita tuai, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak ada kebaikan sekecil apa pun yang sia-sia, dan tidak ada keburukan yang benar-benar hilang tanpa jejak. Semuanya tercatat rapi dalam perhitungan Ilahi.
Sering kali kita menginginkan hasil yang indah, tetapi enggan bersabar dalam proses. Kita ingin panen yang melimpah, namun lupa menanam dengan sungguh-sungguh. Padahal dalam hitungan Allah, tidak ada hasil yang mengkhianati proses. Jika prosesnya lurus dan penuh keikhlasan, hasilnya akan lurus pula. Jika prosesnya penuh kelalaian, maka hasilnya pun akan mencerminkan hal yang sama.
Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih hati-hati menjalani hari. Setiap detik adalah ladang, setiap perbuatan adalah benih. Ada benih kebaikan yang tumbuh perlahan, ada pula benih keburukan yang tampak sepele, tetapi kelak berbuah pahit. Tidak ada yang tertukar. Semua akan kembali kepada penanamnya.
Maka, jadikan setiap awal hari, setiap tanggal satu, bahkan setiap tarikan napas, sebagai kesempatan memperbaiki tulisan hidup. Tanamlah kebaikan dengan niat yang benar, rawatlah dengan kesabaran, dan serahkan hasilnya kepada Allah. Sebab kelak, ketika buku kehidupan itu ditutup, yang tersisa hanyalah panen dari apa yang telah kita tanam. Dan dalam hitungan Ilahi, sungguh, tidak ada hasil yang mengkhianati prosesnya.*