Tadzkirah

Dari Bencana, Alam Meminta Kita Kembali Bijak

 

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

 

SETIAP bencana sebenarnya bukan hanya kejadian alam biasa. Ia seperti alarm yang membangunkan kita dari kelalaian. Musibah membuat kita melihat ke dalam diri, menilai kembali bagaimana kita memperlakukan lingkungan yang selama ini menjaga hidup kita.

Alam punya hukum yang pasti. Lebih pasti dari rumus matematika yang kita pelajari di sekolah. Hukum alam tidak bisa dinegosiasi, tidak bisa dibeli, tidak bisa dibohongi dengan kata-kata. Kalau alam sudah menunjukkan tanda bahaya, maka itu benar-benar bahaya. Dan kalau keseimbangannya diganggu, dampaknya bisa dirasakan semua orang, bukan hanya pelakunya.

Karena itu, bencana harus kita baca sebagai peringatan. Kita ini bukan bangsa yang hidup di tengah gurun tanpa pepohonan. Kita tumbuh dan hidup dari hutan, sungai, ladang, hewan, dan udara segar. Berabad-abad alam memberi kita kehidupan tanpa pernah berhitung untung-rugi.

Tapi mungkin karena terlalu sering diberi, kita jadi lupa caranya menjaga. Kita mengambil terlalu banyak, seolah semua yang ada di alam bisa dipakai sesuka hati. Padahal alam hanya butuh satu hal: ambillah secukupnya, jangan habiskan semuanya.

Para ahli sudah mengingatkan bahwa kondisi lingkungan sedang berbahaya. Kalau sudah begitu, jangan lagi menawar atau menunda. Bencana datang tiba-tiba, tanpa memberi waktu untuk bersiap, dan kekuatannya sering kali di luar dugaan.

Karena itu, mari jadikan musibah ini sebagai cermin untuk memperbaiki diri. Kita belajar kembali menjadi penjaga alam, bukan sekadar pemakai. Sebab dari alam kita hidup, dan masa depan kita sangat bergantung pada seberapa baik kita menjaganya.*