Bulan Sya’ban, Saatnya dinaikkan Amalan.

Oleh KH Bachtiar Nasir
Bagi Rasulullah dan para sahabat, Sya’ban bukanlah waktunya istirahat. Justru makin intens untuk memasuki Ramadhan.
Aisyah Radhiallahu Anhu tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa lebih banyak dibandingkan pada bulan Sya’ban.
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
Dari riwayat An-Nasa’i, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengingatkan, Bulan Sya’ban banyak dilalaikan manusia. Bulan yang diapit antara Rajab dan Ramadhan ini adalah saatnya diangkatnya amal. Kata Nabi, “Aku ingin saat diangkatnya amalku, aku sedang berpuasa.”
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Sya’ban merupakan rapor tahunan, di mana Rasulullah ingin menutup catatan tersebut dalam keadaan sedang beribadah. Dan ibadah yang dipilihnya adalah berpuasa.
Tentu kita ingin mengikutinya dengan cara yang benar.
Saatnya amalan-amalan diangkat
Sya’ban adalah momen, di mana amal-amal akan dilaporkan kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.
Nifsu Sya’ban, dalam hadits riwayat Ibnu Majah adalah malam istimewa, walaupun semua malam bernilai istimewa.
عن أبي موسى الأشعري عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” إن الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن ” . رواه ابن ماجه ) 1390)
“Dari Abu Musa Al-Asy’ari, dari Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (H.R. Ibnu Majah hadits no 1390, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Rasulullah bersabda, sesungguhnya Allah memeriksa malam nifsu Sya’ban kecuali orang yang musyrik dan menyimpan permusuhan.
Sikap para sahabat Nabi
Pertama membersihkan hati dari semua penyakit hati: syirik, riya’, ujub, permusuhan.
Semua itu penyakit hati yang dapat menghalangi turunnya ampunan Allah kepada mereka.
Begitu juga kita mengikuti salafussaleh, memperbanyak doa karena malamnya dibukanya pintu langit. Orang-orang saleh mengisinya dengan istighfar dan memohon ampunan.
Memohon kepada Allah Subhana Wa Ta’ala,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”.
Doa ini dibaca agar istiqomah yang sering dibaca Rasulullah untuk memohon keteguhan hati dalam iman dan Islam.
Malam Nifsu Sya’ban hindari perayaan selebrasi. Isilah dengan banyak duduk di atas sajadah, memohon ampunan sebanyaknya dan sepanjang-panjangnya dengan penuh kesungguhan.
Salah seorang sahabat, Amr bin Qois ketika memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya dan lebih menyibukkan diri dengan Al Qur’an.
Perbanyak Istighfar
Amalan yang sangat dianjurkan pada Bulan Sya’ban adalah memperbanyak istighfar. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Hasani Al-Maliki (wafat 1425 H) menjelaskan bahwa istighfar merupakan zikir yang paling utama untuk diperbanyak, terutama pada waktu-waktu yang dimuliakan, seperti halnya Sya’ban dan malam Nisfu Sya’ban:
الِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَعْظَمِ وَأَوْلَى مَا يَنْبَغِي عَلَى الْمُسْلِمِ الْحَرِيصِ أَنْ يَشْتَغِلَ بِهِ فِي الْأَزْمِنَةِ الْفَاضِلَةِ، الَّتِي مِنْهَا: شَعْبَانُ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ
“Istighfar termasuk amalan yang paling agung dan paling utama yang semestinya disibukkan oleh seorang Muslim yang bersungguh-sungguh, terutama pada waktu-waktu yang utama, di antaranya Sya’ban dan malam Nishfu Sya’ban.
Hati yang bermusuhan dan membenci, hati yang marah dan dendam, tidak dapat digunakan untuk mendapatkan ampunan-Nya. Karenanya menjadi penting bagi kita dalam menilai orang lain.
Bukan orang lain yang menjengkelkan, tetapi hati kita yang kurang sabar menghadapinya.
Perbanyak istighfar dengan Sayyidul Istighfar,
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, Engkau Rabbku, tidak ada sembahan yang haq kecuali Engkau. Engkau menciptakanku dan aku hamba-Mu. Aku di atas perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang aku lakukan, aku mengakui untuk-Mu nikmat-nikmat-Mu atasku, dan aku mengakui untuk-Mu dosa-dosaku, maka ampunilah aku, sungguh tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau.”