Bahaya Hedonisme

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid ayat 20).
Kita ketahui bersama, mayoritas manusia modern sangat menyukai hidup serba instan. Serba cepat, serba mudah, dan serba enak. Padahal semua itu adalah hal yang mustahil di dunia ini. Untuk orang yang bergelar sultan sekalipun. Dunia ini Darul Bala’ yaitu tempatnya ujian dan fitnah. Dunia ini tak lain adalah Darul Amal; tempatnya bekerja membuktikan iman dan ketaatan kita kepada Allah Azza Wajalla. Sementara akhirat adalah Darul Jaza yaitu tempat pembalasan dari segala amal yang kita lakukan di dunia.
Oleh karena itu, kalau kita masih termasuk kaum rebahan, santuy, dan asik dengan gadget, maka sampai kapan pun kita tidak akan pernah menjadi pemenang. Karena, tidak akan ada yang bisa dicapai dengan gaya hidup serba instan dan ingin serba enak. Kita akan selalu kalah dan tidak akan pernah sampai pada pencapaian terbaik yang mampu kita raih. Sebaliknya, jika kita memilih gaya hidup yang tak ragu berdampingan dengan susah dan lelah, maka kita akan bisa keluar dari petaka masa depan yang suram.
Bila kita adalah pekerja keras yang senantiasa berdampingan dengan resiko dan tantangan, bahkan dekat dengan kematian, maka tak diragukan, kita akan sukses dimana pun kita berada. Nasihat ini terutama untuk anak muda. Yang masih banyak waktu luang, tanpa mesti berjibaku dengan kewajiban dan beban pikiran.
Lima Dampak Hedonisme
Rasulullah saw berpesan untuk memperbanyak berdzikir untuk menghancurkan kecenderungan kita akan kesenangan duniawi. Kesenangan duniawi, bila diartikan dengan konteks kekinian yang kita hadapi berarti hedonisme. Hedonisme ini bila ada dalam diri manusia ditambah adanya harta yang berlebih, maka akan terjadilah lima hal buruk, sebagaimana apa yang digambarkan oleh Suyfan Ats-Tsauri.
Pertama, panjang angan. Padahal, kita tahu, berpanjang angan tidak akan pernah mengantarkan pada keberhasilan. Angan-angan hanya akan membuat kita semakin malas dan akhirnya sakit hati karena hal yang sebatas kita angankan itu tidak akan pernah terjadi.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis berbentuk persegi empat dan membuat garis lain di tengah-tengahnya yang keluar dari garis persegi empat tadi.
Beliau juga membuat lagi beberapa garis kecil-kecil di tengah-tengah sampai ke pinggiran garis yang tengah, lalu beliau bersabda, “Ini adalah manusia dan ini adalah ajalnya meliputi diri manusia tadi, atau memang telah meliputinya. Garis yang keluar dari kotak ini adalah angan-angannya, sedangkan garis-garis kecil ini adalah halangan-halangannya. Jika ia terluput dari yang ini (bencana ini), ia terkena yang satunya lagi. Dan jika ia luput dari yang ini, maka ia tentu akan terkena oleh yang itu” HR. Bukhari no.6417).
Ketiga, jiwa kita dikuasai oleh keserakahan. Tidak pernah merasa cukup dan selalu mencari apa yang dapat memuaskan diri. Bila tabiat manusia pada dasarnya tidak pernah merasa cukup; apalagi bila sudah dicengkeram keserakahan. Oleh karena itu, Rasulullah saw berpesan, “Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun, kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketiga, perilaku buruk selanjutnya adalah pelit. Pelit yang melebihi pelit dalam kadar normal. Kita akan mudah cemas kehabisan harta, bila berbagi dengan orang lain.
Bahkan, pada orang-orang terdekat kita yang kekurangan makan. Allah Ta’ala berfirman, “Jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan karunia yang Allah anugerahkan kepadanya mengira bahwa (kekikiran) itu baik bagi mereka.
Sebaliknya, (kekikiran) itu buruk bagi mereka. Pada hari Kiamat, mereka akan dikalungi dengan sesuatu yang dengannya mereka berbuat kikir. Milik Allah-lah warisan (yang ada di) langit dan di bumi. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180).
Keempat, menganggap enteng yang syubhat dan dekat dengan yang haram. Perilaku ini tentu sangat berbahaya. Syubhat sendiri sangat dekat dengan yang haram. Karena itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan.” HR. Bukhari dan Muslim
Kelima, lupa kepada akhirat. Akhirnya, orang sudah mengabaikan aturan halal dan haram dan tidak lagi memelihara agama, tentu akan melupakan akhiratnya. Rasulullah saw berpesan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Bahaihaqi dari Zaid bin Tsabit ra,
“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”
Marilah selalu mengingat bahwa sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanyalah permainan yang menipu dan melalaikan. Sungguh, tidak ada kebahagiaan dan kesuksesan yang sejati, bila orientasi hidup hidup kita masih berkutat pada dunia. Dunia hanyalah sementara. Setiap hari yang kita lalui pun tak pernah abadi. Selalu berganti antara tangis dan tawa. Kebahagiaan yang hakiki itu ada pada sedekat apa kita pada Allah Azza wa Jalla dan sebesar apa takwa yang mengakar di dalam jiwa.
Jangan tertipu dengan gaya hidup hedonis yang menyilaukan mata dan jiwa. Ingatlah selalu bahwa hidup ini sementara dan kematian itu begitu dekat. Berdzikirlah dengan mengingat bahwa kelak kita harus mempertanggungjawabkan apa yang kita terima dan lakukan di dunia ini. Dan, semua itu benar-benar akan dimulai saat maut yang menjemput. Yang tak pernah kita ketahui kapan menghampiri.*
