Agar Allah Mudahkan Pekerjaan Kita

Oleh:
KH. Bachtiar Nasir
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena, jika kematian itu diingat oleh orang yang sedang berada dalam kesusahan hidup, maka hal itu akan bisa meringankan kesusahannya. Dan jika diingat oleh orang yang sedang dalam kelapangan (senang), maka akan bisa membatasi kebahagiaannya itu (tidak membuatnya lalai).” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim).
Bersyukurlah kita masih diberikan usia dalam kondisi sakit atau dalam kondisi yang sehat. Semoga kita termasuk mereka yang jiwanya sehat (walau mungkin dalam kondisi badan yang sakit) karena selalu mengingat kematian. Ibnu Mas’ud ra ketika ditanya, “Siapakah manusia yang paling cerdas?” Maka, beliau menjawab, “Manusia yang paling banya mengingat mati dan paling bagus dalam menyiapkan bekal setelah kematian. Itulah manusia yang paling cerdas.”
Berbekal Maksimal
Dunia ini penuh dengan tipu daya setan dengan berbagai perangkap kemaksiatannya. Pintu utama adalah hati. Bisikan kemaksiatan setan menyelusup ke dalam hati kemudian menjalar pada pikiran. Inilah yang membuat kita terkadang tidak sadar berbuat maksiat karena otak sudah menjustifikasi bahwa maksiat yang kita perbuat adalah hal wajar, bahkan boleh dilakukan. Apalagi kalau kurang ilmu seseorang, maka perbuatan yang dilakukan, bisa jadi kemaksiatan yang dilegalkan. Baik oleh masyarakat maupun diri kita sendiri.
Allah Azza wa Jalla memberikan tuntunan tentang apa yang harus kita perbuat. Agar perbuatan kita tidak sia-sia, apalagi sampai terjerumus menjadi maksiat. “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS Al-Insyirah ayat 7-8).
Dimasa serba sulit ini, ada orang cerdas yang bertambah cerdas dan ada orang malas yang bertambah malas. Ada orang produktif yang semakin menghasilkan dan ada orang yang semakin terpuruk karena sulitnya mendapatkan penghasilan yang memadai. Banyak orang yang “downgrade” karena sulitnya mendapat pekerjaan atau sekadar bisa bertahan tetap bekerja, meski dengan penghasilan yang sedikit asal di perusahaan yang stabil.
Namun, ada satu prinsip dasar yang harus kita pegang kuat-kuat yaitu “rezeki tidak akan dipengaruhi oleh seperti apa pun kondisi yang ada di sekitar kita.” Susah senang hidup kita, tak lain berdasar dari seberapa ridha Allah Azza wa Jalla dari apa yang diri kita lakukan sendiri. Sukses dan gagalnya diri, bergantung dari apa yang dilakukan oleh diri kita sendiri. Untuk tetap setia, mengikuti teladan Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan mencari ridha Allah Ta’ala.
Dua langkah yang mereka ingin selalu sukses dan mudah dalam kehidupannya. Buya Hamka dalam tafsirnya menerangkan makna ayat Al-Insyirah ayat 7-8 ini adalah “Bila kita sudah selesai dari satu pekerjaan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh pekerjaan yang lain.”
Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang selalu sibuk. Beliau selalu punya banyak hal bermanfaat yang harus dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Dan, seselesainya beliau dari suatu urusan atau pekerjaan, beliau tidak kemudian bersantai dan mengerjakan sesuatu yang tidak bermanfaat. Oleh karena itu, tafsir dari ayat 7 surat Al-Insyirah ini adalah penjelasan dari sikap Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang sibuk dengan satu pekerjaan yang bermanfaat. Setelahnya, beliau kembali bersungguh-sungguh menyelesaikan pekerjaan yang lain.
Sikap Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ini tentu sangat berbeda dengan sebagian besar orang yang justru ingin lebih banyak bersantai. Lelah sedikit ingin healing, bertemu masalah sedikit melarikan diri atas nama healing, dan ingin banyak kemudahan untuk bisa healing. Berbanding terbalik dengan ayat dan contoh Rasulullah SAW ini. Di ayat tujuh dan delapan surat Al-Insyirah ini jelas bahwa orang yang mudah pekerjaannya dan mudah mendapatkan hasil yang diharapkan dari pekerjaannya adalah orang banyak bekerja. Banyak bekerja dan semuanya bermanfaat. Dan, bukan rahasia lagi bahwa orang yang hidupnya susah adalah mereka yang banyak menganggur. Pengangguranlah orang yang hidupnya susah. Bukan orang sibuk.
Kemudahan Usai Kesulitan
Kemudahan yang diberikan adalah milik orang yang telah melalui kesulitan. Orang yang telah bersungguh-sungguh memecahkan persoalannya dan mengerjakan urusannya. Allah Ta’a berfirman di ayat pertama hingga ayat keempat di surat Al-Insyirah: “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan, Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu. Yang memberatkan punggungmu. Dan, Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” Bahwa orang-orang yang dihilangkan beban yang memberatkan dada dan punggungnya serta ditinggikan namanya (terhormat) adalah orang yang telah menjejaki kesulitan. Bertarung dengan kesulitan dan karena kesungguhannya, Allah Ta’ala memberikan pertolongan berupa kemudahan. Kemudahan itu tidak datang sebelum kita berjibaku dengan kesulitan. Karena, dalam jibaku itulah kita belajar dan berjuang menemukan titik jalan keluar. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah ayat 5-6).
Inilah kunci kemudahan dalam setiap urusan yang kita hadapi. Sesulit dan seberat apa pun, jejakilah dan bersungguh-sungguhlah dalam menyelesaikannya.
Perjuangan yang dihadapi akan membuat kita banyak belajar dan kesungguhan dalam usaha dan doa akan membuktikan bahwa kita adalah orang yang pantas diberi kemudahan Allah Ta’ala. Setelahnya, jangan surut ke belakang. Kerjakanlah lagi urusan bermanfaat lainnya, hingga makin banyak hikmah dan kemudahan yang Allah Ta’ala limpahkan. Insyaallah.*