Tadabbur

Membenarkan Allah

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Surat At-Taubah [9]: 119).

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang beriman agar bertakwa dan selalu bersama orang-orang yang membenarkan Allah Ta’ala. Ayat ini diturunkan setelah penyebutan kisah tiga orang sahabat yang tidak ikut perang Tabuk tanpa alasan, yaitu Ka’ab bin Malik, Murarah bin al-Rabi’ al’Amri, dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi.

Berbeda dengan orang-orang munafik yang memberikan sekian banyak alasan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kenapa mereka tidak ikut berperang, bahkan mereka bersumpah untuk itu. Ketiga sahabat ini memilih untuk jujur kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa mereka tidak punya alasan kenapa tidak ikut berperang. Sehingga mereka mendapakan hukuman didiamkan selama 50 hari, dimana tidak seorang muslim pun yang mau menyapa mereka. Bahkan untuk sekadar menjawab salam mereka. Sehingga mereka merasakan betapa sempitnya dunia ini.

Namun, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kabar gembira dan memuliakan mereka karena kejujuran mereka. Allah Ta’ala mendeklarasikan penerimaan taubat mereka melalui Alquran, wahyu dari langit yang akan dibaca umat manusia sampai akhir zaman nanti.

Jujur dengan Allah

Jujur dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala atau membenarkan Allah Ta’ala itu mencakup jujur dengan Allah dalam niat dan dalam perbuatan.

Ibnu al-Qayyim dalam kitab Fawaid menjelaskan bahwa tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba dari membenarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam semua urusannya. Dimana dia membenarkan Allah SWT dalam niat dan perbuatannya. Beliau melanjutkan ‘barangsiapa yang membenarkan Allah SWT dalam semua urusannya maka Allah akan menganugerahkan kepadanya apa yang tidak dianugerahkan kepada yang lain. Membenarkan Allah itu adalah suatu makna yang mencakup keikhlasan yang benar dan kebenaran rasa tawakkal, maka orang yang paling jujur dan membenarkan Allah Subhahanu wa Ta’ala adalah orang paling benar keikhlasan dan tawakkalnya’.

Jujur dengan Allah Ta’ala adalah kesesuaian antara yang ada di dalam hati dengan yang diucapkan lisan dan dilakukan oleh anggota badan. Jujur dengan Allah SWT adalah tidak adanya riya sedikitpun dalam hati ketika berkata dan beramal. Jujur dengan Allah adalah selalu takut kepada Allah SWT ketika sendiri maupun ketika di depan orang banyak. Jujur dengan Allah SWT adalah menepati setiap janji dan ucapan kepada Allah SWT. Jujur dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah membenarkan janji-janji Allah SWT kepada para hamba-Nya.

Hal itulah yang dilakukan oleh Anas bin Nadhar yang tidak sempat ikut dalam perang Badr sehingga membuatnya sangat sedih, beliau kemudian berjanji dan berikrar bahwa jika Allah memberinya kesempatan untuk dapat ikut dalam peperangan berikutnya antara kaum muslimin dan orang-orang musyrik maka Allah SWT akan melihat apa yang ia lakukan.

Allah pun memberinya kesempatan itu dalam perang Uhud, dan Anas bin Nadhar pun membuktikan janji dan ucapannya dimana beliau bertempur dengan penuh semangat tanpa rasa takut, bahkan ketika ada yang memberitakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, beliau dengan tegas berkata, “Jika Rasulullah SAW telah wafat, maka bangkitlah dan matilah dalam membela apa yang Nabi kalian mati karena membelanya.” Beliaupun gugur dengan hampir 80 luka tusukan dan tebasan pedang sehingga jasad beliau tidak dikenali oleh kaum muslimin sampai saudara perempuannya mengenalinya. Tentang Anas bin Nadhar dan orang-orang seperti beliau inilah ayat berikut diturunkan:

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِ‌جَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّـهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ‌ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (Surat Al-Ahzab [33]: 23).

Begitu juga dengan seorang laki-laki badui yang datang menemui Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia beriman dan mengikuti beliau hijrah ke Madinah. Setelah terjadi perang, Rasulullah membagikan ghanimah (harta rampasan perang) termasuk kepada orang badui ini.

Tetapi, Kemudian dia membawa harta itu menemui Nabi Muhammad SAW dan berkata, “Bukan untuk hal ini aku mengikuti engkau. Aku mengikuti engkau agar aku dilempari anak panah di sini -dia menunjuk ke tenggorokannya dengan anak panah- sampai aku mati dan aku masuk surga.” Rasulullah kemudian bersabda, “Jika kamu jujur kepada Allah, niscaya Allah akan jujur kepadamu.”

Tidak lama kemudian, para sahabat kembali berperang melawan musuh. Setelah selesai perang orang tersebut dibawa ke tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan cara diangkut, dia terkena anak panah pada tempat yang dia tunjuk. Maka Nabi  SAW. bersabda, “Apakah dia orangnya?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Dia benar dalam berjanji kepada Allah dan Allah mewujudkan permintaannya.” Kemudian Rasulullah mengkafaninya dengan jubah beliau. Beliau memajukannya dan menshalatkannya. Di antara bacaan yang kedengaran dalam shalat beliau adalah, “Ya Allah, inilah hamba-Mu, Dia telah keluar berhijrah di jalan-Mu. Lalu dia terbunuh dalam keadaan syahid, dan aku menjadi saksi atas hal tersebut.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan surga dan keridhaannya bagi orang-orang yang jujur dan selalu membenarkan Allah SWT. ini.

 قَالَ اللَّـهُ هَـٰذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِ‌ي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ‌ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَّ‌ضِيَ اللَّـهُ عَنْهُمْ وَرَ‌ضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. (Surat al-Maidah [5]: 119).

Sebaliknya Allah SWT memberi peringatan terhadap sikap dan perilaku mendustakan Allah SWT. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْهُم مَّنْ عَاهَدَ اللَّـهَ لَئِنْ آتَانَا مِن فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿٧٥﴾ فَلَمَّا آتَاهُم مِّن فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوا وَّهُم مُّعْرِ‌ضُونَ ﴿٧٦﴾ فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَىٰ يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّـهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ ٧٧

“Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.” (Surat At-Taubah [9]: 77).

Wallahu a’lam bish shawab.*

 

Exit mobile version