Tadabbur

Takwa dalam Momentum Iduladha

 

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

JIWA-JIWA yang beriman sedang bergelora saat ini, dengan datangnya momentum haji, Iduladha, kurban, dan tasyrik. Hanya energi takwalah yang bisa membuat kita menikmati dan meresapi hikmah dari keadaan dan kondisi yang sangat agung ini.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ﴿ ١
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ﴿ ٢
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ﴿ ٣

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (Surat Al-Kautsar ayat 1-3).

Seorang ulama mengatakan bahwa di hari Iduladha itu ada dua ibadah agung yang disatukan. Yang satunya bersifat horizontal dan yang satunya lagi bersifat vertikal. Yaitu, “Dirikanlah shalat dan sembelihlah hewan kurban.” Mendirikan shalat adalah ibadah vertikal yang berhubungan dengan Allah Ta’ala yang bersemayam di langit, di Arsy-Nya yang agung. Sementara kurban adalah ibadah yang berhubungan dengan orang-orang di sekelilingnya secara horizontal.

Oleh karena itu, hanya orang-orang yang telah mempersiapkan dengan sebenar-benar takwalah yang bisa meraih kebahagiaan di hari ini dengan melaksanakan dua ibadah tersebut. Di hari ini, para jamaah haji juga tengah merasakan kebahagiaan karena telah menyelesaikan puncak haji yaitu wukuf di padang Arafah.

Refleksi renungan kita di hari Iduladha ini tak lain adalah sebuah upaya untuk mengukuhkan hikmah atas sebuah peristiwa dahsyat yang memuat ketaatan Ibrahim as, kesabaran Ismail as, dan ketabahan sang Ibunda, Hajar. Memandang peristiwa kurban yang agung ini, mari gunakan perspektif takwa. Bahwa, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mempersiapkan sesuatu kecuali di baliknya ada manfaat yang besar.

Dalil tentang sunnah berkurban menurut mazhab Imam Syafii adalah karena Rasulullah saw mengurbankan hewan untuk dijadikan binatang kurban, sekaligus juga menyembelihnya sendiri. Bila dilihat kondisi umat Islam saat ini, maka manfaat dari qurban ini sangat terasa untuk menggerakkan perekonomian umat sekaligus menjembatani kesenjangan sosial. Moment ini dapat menggerakkan perekonomian umat, sekaligus menumbuhsuburkan kepekaan umat kepada saudara seimannya yang kurang mampu.

Apa sebenarnya tujuan di balik ibadah Kurban dalam sudut pandang takwa?

Pertama, bahwa orang yang berkurban setelah menunaikan ibadah shalat Id, di hari-hari Nahr; merupakan bentuk pengakuan bahwa Allah telah memberikan nikmat yang besar. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-Kautsar di ayat pertama. Maka sebagai bentuk pengakuan atas nikmat yang besar itu, kewajiban kita adalah mendirikan shalat dan berkurbanlah.

Orang-orang yang menunjukkan kesyukuran atas segala nikmat besar yang Allah berikan selama ini dengan mendirikan shalat dan berkurban, maka merekalah orang-orang yang dicintai Allah dan disebut sebagai Asy-Syakur. Allah akan menambahkan nikmat yang mereka dapati dan syukuri tersebut, bahkan sebelum darah hewan sembelihan itu jatuh ke tanah. Darah hewan tersebut akan tertampung terlebih dahulu pada bejana yang tidak terlihat yang telah Allah siapkan sebagai saksi orang-orang yang berkurban di akhirat nanti.

Kedua, salah satu makna besar berkurban adalah memerdekakan diri dari segala macam penghambaan kecuali kepada Allah Ta’ala. Kita bisa melihat bagaimana ketundukan Ibrahim AS, kesabaran Ismail AS, dan ketabahan Hajar; yang merupakan manifestasi kemerdekaan mereka dari segala bentuk nafsu duniawi, termasuk rasa cinta kepada darah daging sendiri. Semuanya boleh ada, tetapi tidak ada yang boleh melebihi ketundukkan kepada perintah dan syariah Allah Azza wa Jalla. Inilah kemerdekaan dan kebebasan yang sepenuhnya, sehingga seseorang bisa benar-benar menjalani hidup sebagai khalifah Allah saja yang tunduk pada aturan-Nya semata.

Ketiga, Iduladha adalah napak tilas perjalanan Ibrahim as untuk mengurbankan yang paling berharga dari dirinya untuk ketundukan kepada Rabbnya. Bila kemudian di hari Id tiba dan benar-benar tidak ada kemampuan untuk membeli hewan qurban, maka berikanlah yang terbaik dari dirimu untuk bisa menjadikan hewan kurban itu sebagai santapan terbaik untuk mereka yang berhak menerimanya. Ini juga merupakan bentuk ketaatan kita dalam menjalankan perintah berkurban. Walaupun saat ini kurban yang kita berikan belumlah dalam bentuk hewan sembelihan, tetapi semoga Allah mau menerimanya sebagai bentuk kesiapan kita beribadah dan menjalankan perintah-Nya.

Keempat, pada masa lalu ada orang-orang yang menyucikan hewan tertentu bahkan menyembah hewan tertentu. Islam kemudian datang dan menurunkan syariah untuk menyembelih binatang-binatang yang sebelumnya disucikan dan disembah itu. Ini untuk menekankan bahwa Islam tidak memperkenankan hewan-hewan tersebut untuk disejajarkan dengan Penciptanya. Bahwa mereka hanyalah mahluk yang diciptakan untuk melayani dan mencukupi kehidupan manusia. Oleh karena itu, mereka kemudian disyariatkan untuk disembelih atau dijadikan hewan kurban demi kemaslahatan hidup manusia sendiri. Ini semua semata adalah bukti ketauhidan kita hanya kepada Allah Ta’ala.

Kelima, ini adalah pendidikan kepada kaum lelaki terutama bagi para pemuda untuk bisa menyembelih hewan tanpa takut darah. Ini bukan ajaran kekerasan, melainkan menumbuhkan keberanian dalam hati setiap lelaki muslim untuk membela agama, untuk berhati baja saat menjalankan syariat, dan agar lengan-lengan lelaki muslim terutama para pemudanya kokoh untuk memanggul kewajiban berjihad dan berjuang untuk agamanya.

Keenam, ini adalah syiar tentang mulianya tatacara yang diajarkan Islam untuk menyembelih hewan. Menyembelih didahului Basmallah, menggunakan pisau yang tajam, membacakan doa, menghindarkan penyembelihan di saksikan oleh bintang lain yang belum disembelih; serta berbagai tuntunan adab mulia lainnya yang diajarkan melalui sunah-sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. *

 

Exit mobile version