Tadabbur

Tafakkur dan Tadzakkur, Dua Sayap Menuju Peradaban Islam

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali ‘Imran [3]: 190–191)

Berpikir dan berdzikir atau tafakkur dan tadzakkur seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim. Terutama bagi generasi muda, dua amalan ini penting untuk menumbuhkan budaya reflektif dan spiritual yang sehat.

Budaya berpikir dan berdzikir akan mengantarkan seorang mukmin untuk mengenal Rabb-nya. Sementara mengenal Allah ‘Azza wa Jalla merupakan puncak dari segala ilmu. Kedua hal ini juga menjadi energi penggerak peradaban Islam, sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika dengan akal dan petunjuk Allah, mampu mematahkan logika Raja Namrud yang zalim.

“Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya karena Allah telah memberinya kerajaan? Ketika Ibrahim berkata, ‘Tuhanku yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu menjawab, ‘Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.’ Maka bingunglah orang kafir itu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 258)

Keutamaan Dzikir dan Pikir

Dalam khazanah Islam, kemampuan berpikir dan berdzikir ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Tafakkur mengasah akal, tadzakkur menenangkan hati. Dengan berpikir mendalam, kritis, dan menyeluruh, seseorang akan menyadari bahwa alam semesta dan kehidupan tidak terjadi secara kebetulan.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 190)

Melalui tadzakkur, seorang Muslim mengenali bahwa segala kejadian bersumber dari kehendak Allah Ta’ala. Ia membaca tanda-tanda kebesaran-Nya, baik melalui wahyu maupun realitas alam. Dengan demikian, tadzakkur menumbuhkan keyakinan akan kekuasaan dan kemahabesaran Allah.

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali ‘Imran [3]: 191)

Tafakkur melahirkan kematangan berpikir dan ketepatan bertindak. Tadzakur menuntun manusia agar pikirannya tetap dalam koridor syariat. Melalui keduanya, seorang Muslim menyadari bahwa pilihan hidup yang paling logis dan menenteramkan adalah beribadah kepada Allah. Jalan itu tak bernama lain selain Islam.

Kesadaran Ibadah

Tafakkur dan tadzakkur menumbuhkan kesadaran bahwa agama yang lurus hanya dapat ditegakkan melalui kemurnian ibadah. Penghambaan kepada Allah menjadi inti dari segala amal, disertai pelaksanaan salat dan penunaian zakat sebagai wujud ketaatan.

“Mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)

Namun, tidak semua yang telah merenung mampu menangkap pelajaran dari Al-Qur’an. Ada yang sering membaca dan mendengarkan ayat-ayat Allah, tetapi hatinya belum tersentuh. Kesibukan dan kecenderungan duniawi membuat mereka lalai menghadirkan hati dalam ibadah dan amalan.

Orang beriman sejati adalah mereka yang hatinya hidup dan siap menerima peringatan. Mereka tidak dilalaikan oleh urusan dunia dari mengingat Allah.

“Di dalamnya senantiasa bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS. An-Nur [24]: 36–37)

Dua Kunci Kesadaran

Ada dua cara menjaga kesadaran ini. Pertama, dengan bertasbih kepada Allah Ta’ala, menyucikan Dzat-Nya melalui pengenalan terhadap asma dan sifat-Nya. Dengan itu, manusia mampu memahami makna di balik setiap kejadian dan ciptaan.

Kedua, dengan berorientasi pada akhirat. Kesadaran tentang kematian dan hari pembalasan akan menuntun manusia untuk hidup lebih terarah dan berhati-hati.

Dengan tafakkur dan tadzakkur, seorang Muslim tak hanya berpikir tentang kehidupan, tetapi juga menemukan makna terdalam dari keberadaannya untuk menyembah, mencintai, dan kembali kepada Allah Ta’ala.*