Tadabbur

Sudahkah Hidup Kita Bersanad?

Ilustrasi

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

 

DALAM hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia kerap terjebak dalam rutinitas. Pagi berangkat bekerja, petang kembali ke rumah. Menuntaskan pendidikan, mengejar karier, mengumpulkan harta, dan membangun kehidupan yang dianggap mapan.

Semua itu tentu tidak salah. Namun, ada satu pertanyaan penting yang acap kali luput direnungkan: ke mana seluruh pencapaian itu bermuara?

Apakah profesi yang kita jalani, ilmu yang kita tuntut, dan cita-cita yang kita kejar memiliki hubungan dengan visi penghambaan kepada Allah SWT? Ataukah semuanya berhenti pada kepentingan duniawi semata?

Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika kita menadabburi firman Allah SWT dalam Surah ash-Shaffat ayat 113. Allah SWT berfirman tentang Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ishaq AS:

“Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishaq. Dan di antara keturunannya ada yang berbuat ihsan dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.”

Ayat ini memberikan pelajaran bahwa keberkahan tidak semata-mata berkaitan dengan bertambahnya sesuatu secara material. Keberkahan adalah ketika kebaikan menetap dalam sesuatu, kemudian terus tumbuh dan memberikan manfaat.

Dijelaskan bahwa keberkahan (al-barakah) berkaitan dengan luzumul khair fis syai’, yakni menetapnya kebaikan pada sesuatu. Karena itu, keberkahan dalam keluarga tidak cukup diukur dari seberapa banyak harta yang diwariskan kepada anak-anak. Lebih jauh dari itu, keberkahan keluarga terletak pada kemampuan mewariskan iman, tauhid, ilmu, akhlak, dan cita-cita untuk meneruskan risalah kebaikan.

Mencari Sanad dalam Kehidupan

Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad merupakan sesuatu yang sangat penting. Ilmu qiraat Alquran dan riwayat hadis, misalnya, memiliki rantai transmisi yang harus jelas dan tersambung.

Sanad menjaga agar ilmu tidak terputus dari sumbernya.

Lalu, bagaimana dengan kehidupan kita? Apakah cita-cita, profesi, dan jalan hidup yang kita pilih juga memiliki “sanad” yang menghubungkannya kepada tujuan penciptaan manusia?

Pertanyaan ini patut diajukan karena manusia modern sering kali menentukan masa depannya berdasarkan ukuran yang sangat material. Profesi dipilih karena gaji yang tinggi. Pendidikan ditempuh demi gelar. Karier dibangun demi jabatan. Bahkan keberhasilan kerap diukur dari popularitas, kekayaan, dan kenyamanan hidup.

Padahal, seorang Muslim semestinya tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa pekerjaan saya?” tetapi juga bertanya, “Untuk apa saya menjalani pekerjaan ini?”

Seorang dokter dapat menjadikan profesinya sebagai jalan pengabdian. Seorang dosen dapat menjadikan ilmunya sebagai sarana mencerdaskan umat. Pengusaha dapat menjadikan bisnisnya sebagai jalan menghadirkan kemaslahatan. Demikian pula pekerja dari berbagai bidang dapat menjadikan profesinya sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah SWT.

Dengan demikian, profesi bukan sekadar pekerjaan. Ia menjadi bagian dari perjalanan penghambaan.

Jangan Sampai Ilmu Memutus Akar Tauhid

Pendidikan yang tinggi semestinya membawa manusia semakin mengenal kebesaran Allah SWT. Gelar akademik seharusnya memperluas wawasan sekaligus memperdalam tanggung jawab moral.

Namun, ilmu dapat kehilangan arah apabila ia tercerabut dari nilai tauhid.

Seseorang bisa mencapai pendidikan hingga jenjang tertinggi, menjadi akademisi, dokter, profesional, atau ahli di bidang tertentu. Akan tetapi, apabila ilmu tersebut tidak lagi memiliki hubungan dengan pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan manusia, maka pencapaian tersebut berisiko kehilangan makna hakikinya.

Karena itu, ukuran keberhasilan seorang Muslim tidak cukup hanya dengan melihat seberapa tinggi ia naik dalam tangga sosial. Yang lebih penting adalah apakah semakin tinggi kedudukannya, semakin besar pula manfaat yang ia berikan. Inilah salah satu makna menjadi muhsinun—orang-orang yang berbuat ihsan.

Risalah kenabian pada hakikatnya mengarahkan manusia untuk menegakkan tauhid dan menghadirkan penghambaan hanya kepada Allah SWT.

Prinsip iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in—hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan—semestinya menjadi fondasi dalam seluruh aktivitas kehidupan.

Karena itu, apa pun profesi kita, orientasi akhirnya tidak boleh terputus dari kebaikan.

Seorang pengusaha tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menghadirkan kemanfaatan. Seorang guru tidak sekadar menyampaikan pelajaran, tetapi menanamkan nilai. Seorang dokter tidak hanya mengobati penyakit, tetapi menghadirkan kepedulian. Seorang pekerja tidak sekadar menyelesaikan tugas, tetapi menjaga amanah.

Ketika pekerjaan diletakkan dalam kerangka ibadah dan kemaslahatan, aktivitas duniawi dapat memperoleh dimensi ukhrawi. Allah SWT mengingatkan, “Hal jaza’ul ihsan illal ihsan”—tidak ada balasan bagi kebaikan selain kebaikan pula.

Waktu sebagai Cermin Sanad Kehidupan

Cara seseorang menggunakan waktunya juga dapat memperlihatkan ke mana hidupnya diarahkan. Bayangkan seseorang menempuh perjalanan udara selama tujuh jam. Waktu yang sama dapat digunakan dengan cara yang berbeda.

Ada yang sekadar membunuh waktu dengan hiburan tanpa memberikan nilai tambah. Ada pula yang memanfaatkan perjalanan tersebut untuk membaca, berdzikir, bertafakur, berdoa, atau menyelesaikan pekerjaan yang bermanfaat.

Perbedaannya bukan terletak pada panjangnya waktu. Waktunya sama. Yang berbeda adalah orientasi hati dan cara memaknainya.

Seorang muhsin berusaha menjadikan setiap ruang dan kesempatan sebagai jalan mendekat kepada Allah. Bahkan perjalanan yang tampak sederhana dapat menjadi ruang untuk melakukan khalwat dengan-Nya.

Karena itu, jangan sampai hidup kita habis hanya untuk “mengisi waktu”. Yang semestinya kita lakukan adalah menghidupkan waktu dengan amal yang memiliki nilai di hadapan Allah.

 

Sanad Kehidupan Membutuhkan Lingkaran Kebaikan

Menjaga arah kehidupan bukan perkara mudah. Manusia membutuhkan lingkungan yang mengingatkan ketika mulai lalai dan menguatkan ketika mulai lemah.

Alquran menggambarkan pentingnya keberadaan umat yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Karena itu, komunitas dan persahabatan memiliki peran penting dalam menjaga arah kehidupan.

Circle pertemanan jangan hanya menjadi tempat berbagi kesenangan. Ia semestinya menjadi ruang untuk saling mengingatkan, menguatkan iman, bertukar ilmu, dan mendorong lahirnya amal.

Sebab lingkungan yang baik dapat membantu seseorang mempertahankan “sanad” kehidupannya agar tetap terhubung dengan nilai-nilai kebaikan. Pada akhirnya, hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk menggugurkan rutinitas.

Kita perlu sesekali berhenti dan memeriksa kembali arah perjalanan: Untuk apa ilmu yang kita miliki? Untuk apa pekerjaan yang kita jalani? Untuk apa harta yang kita kumpulkan? Dan kepada siapa seluruh pencapaian itu kita pertanggungjawabkan?

Barangkali inilah saatnya kita memeriksa kembali sanad cita-cita dan profesi kita. Jangan sampai jalan yang kita bangun dengan susah payah ternyata membawa kita semakin jauh dari tujuan penciptaan.

Semoga setiap ilmu yang kita pelajari, setiap pekerjaan yang kita jalani, setiap rupiah yang kita hasilkan, dan setiap tarikan napas yang kita miliki menjadi mata rantai kebaikan yang tidak terputus.

Sebab keberkahan bukan sekadar tentang apa yang kita tinggalkan setelah kematian, melainkan nilai kebaikan yang terus hidup dan mengalir setelah kita tiada.

Semoga Allah SWT menjadikan kita bagian dari golongan muhsinun: mereka yang hidupnya menjadi jalan kebaikan, menjaga tauhid, meneruskan risalah, dan memperoleh ridha-Nya.*

Exit mobile version