Siapkan Amal Sebelum Allah Hisab

Oleh:
KH. Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ إِلَيْنَآ إِيَابَهُمْ
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُم
“Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS Al-Ghasyiyyah ayat 25-26).
Dalam dinamika hidup, terkadang kita suka bertanya-tanya mengapa orang yang jelas-jelas banyak menyakiti orang lain, merugikan hajat hidup orang banyak, dan menghalangi banyak kebaikan; tidak segera diazab Allah Ta’ala? Mengapa mereka terus berkeliaran di atas muka bumi dengan kesombongan dan kekuasaan yang mereka miliki?
Mengapa banyak orang yang didakwahi, tetapi hanya sedikit mereka yang mau membuka mata dan telinga untuk membaca dan mendengarkan ayat-ayat Allah? Jangankan untuk menjadikannya sebagai panduan hidup, menoleh sedikit pun mereka tidak sudi. Sehingga banyak orang merasa lelah berbuat kebaikan, menyampaikan kebenaran, dan akhirnya malah patah arang merasa diri pun masih banyak kekurangan. Padahal jihad dan dakwah adalah sebuah keharusan bagi seseorang yang telah menyatakan dirinya seorang muslim.
Hanya Pengingat
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku, meskipun satu ayat.” (HR. Bukhari no. 3461)
Dalam berdakwah menghadapi kebejatan kaum musyrikin, orang-orang kafir, pengikut ajakan iblis dan setan; sungguh ayat 25 dan 26 Al-Ghasyiyah ini adalah rumus dasar yang harus kita pahami. Bahwa kita hanyalah seorang pemberi peringatan. Tugas kita hanya mengingatkan agar mereka kembali ingat bahwa mereka adalah mahluk lemah yang Allah Azza wa Jalla ciptakan. Menyampaikan kebenaran dari-Nya sebagai berita gembira dan pemberi peringatan.
“Engkau tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan. Sungguh, Kami mengutus engkau dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan.” (QS. Fathir ayat 23-24).
Jadi, tugas kita hanyalah mengingatkan, menyampaikan kebenaran dan kabar gembira. Bila kita menghadapi manusia-manusia musyrik (yang hatinya mengakui Allah sebagai Ilaah tetapi masih menuhankan jabatan, uang, popularitas, dan lain sebagainya) atau manusia yang ingkar atas kebenaran yang tiba kepadanya, atau follower jin dan setan; layaknya Firaun yang ingkar dan sombong, maka ingatlah bahwa kita hanyalah pemberi peringatan dan kepada Allah lah kita semua akan kembali. Kepada-Nya pula lah kita akan memberikan laporan pertanggungjawaban atas hidup yang telah dijalani. Bukan wilayah kita menyiksa mereka bahkan juga tidak untuk mengubah hati mereka atas nama hidayah.
Wilayah dakwah tingkatan tertinggi memang jihad dalam bentuk qital untuk menyingkirkan peghalang-penghalang dakwah. Namun demikian, semua itu juga tidaklah sampai pada domain untuk menyiksa mereka yang menghalangi dakwah.
Dalam versi kisah para rasul Allah, mungkin kita juga terkadang bertanya-tanya mengapa bukan Musa Alaihissalam saja yang memiliki kekuasaan. Dengan demikian, Musa Alaihissalam dapat menyampaikan dakwahnya dengan efektif. Namun, mengapa justru Firaun-lah sang penguasa? Pada akhirnya, Musa Alaihissalam juga tidak berhasil mendakwahkan tauhid pada Firaun. Musa hanyalah alat Allah Ta’ala untuk memancing Firaun turun ke dasar laut yang terbelah. Untuk kemudian Allah cabut nyawanya di dasar laut. Musa Alaihissalam juga tidak berhasil membawa Bani Israil menjadi taat kepada Allah kecuali hanya sebagian kecil dari mereka saja.
Juga mengapa Ibrahim juga tidak berhasil membuat Namrud masuk Islam, padahal dialah Bapak para Nabi? Mengapa bukan Ibrahim as saja yang menyiksa Namrud, padahal dialah rasul Allah. Mengapa penyebab kematian Namrud juatru adalalah seekor nyamuk kecil?
Jawabannya, sekali lagi karena tugas kita sebagai hamba Allah hanyalah sebagai pengingat saja. Bukan wewenang kita untuk mengubah hati mereka; juga bukan wewenang kita untuk menyiksa mereka. Siksa Allah akan datang dengan dua syarat:
Pertama, kita sudah menjadi pengingat yang berulang-ulang.
Kedua, mereka sudah berpaling dan ingkar.
Siksaannya pun sudah jelas datang dari Allah Ta’ala, bukan wilayah kita untuk mengaturnya sesuai dengan yang kita inginkan. Mengapa kita tidak diberi kekuasaan untuk memberi hidayah, mengubah hati seseorang, atau menyiksa mereka yang jelas-jelas telah ingkar dan berpaling? Jawabannya sudah jelas pada ayat ke-25 surat Al-Ghasyiyah yaitu,”Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka”. Jadi, kepada Allah-lah berpulang segala keingkaran mereka, kedegilan mereka, dan kebebalan mereka. Karena, Allah-lah muara segala hal buruk yang mereka lakukan, maka Allah Ta’ala pula yang berhak untuk memberi mereka ganjaran yang setimpal.
Tidak ada yang bisa lolos dari Allah. Suka atau tidak suka. Hanya kepada Allah saja. Tidak ada yang tidak kembali pada Tuhan mereka, apa pun keyakinan dan perbuatan yang telah mereka lakukan di dunia ini. Misalkan mereka di dunia menyembah dewa-dewa, mereka tidak akan pernah pulang kepada dewa-dewa itu. Mereka tidak akan pernah tiba di Nirwana. Begitu pun mereka yang menyembah rasul Allah sebagai anak tuhan. Tidak akan ada penebusan dosa yang akan membebaskan mereka dari hisab dan tidak akan pernah ada rasul-Nya yang akan menggantikan mereka menerima azab Allah Yang Mahasuci akibat mengadakan tuhan selain Dia.
Bergerak Maju
Ingatlah bahwa semua yang bernyawa pasti akan mati. Semua pasti akan meninggalkan alam yang kini dihuninya ke alam yang baru. Meninggalkan alam yang ini ditinggalinya ke alam yang selanjutnya. Alam yang baru itulah yang mengantarkannya lebih dekat pada perjumpaannya dengan Penciptanya, Allah Ta’ala.
Kita akan meninggalkan alam dunia ini menuju alam kubur. Ketika kita dihidupkan kembali untuk mengikuti persidangan di alam akhirat, maka disitulah akan berlangsung hisab terhadap segala hal yang telah dikerjakan di dunia. “Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” Inilah fase yang pasti akan kita semua hadapi.
A. Hassan berkata dalam tafsirnya, “Kemudian atas tanggungan Kamilah perhitungan amal mereka.” Allah-lah yang akan bertanggung- jawab penuh atas penghitungan amal baik dan amal buruk kita. Tidak ada yang bisa lolos dari-Nya dan tidak ada hal sekecil atom pun yang mampu tersembunyi dari-Nya. Maka persiapkanlah kembalinya kita di hari perhitungan kepada Allah. Sekecil apa pun kebaikan yang pernah kita lakukan maka kita akan melihat balasannya dari Allah Ta’ala.
Bekerja keraslah untuk kehidupan kita di akhirat nanti. Jangan terpengaruh oleh kebebalan orang kafir atau kebodohan orang musyrik. Bergerak majulah terus untuk senantiasa mengingatkan yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Walau itu semua tidak mudah. Ada Allah yang akan menyempurnakan ikhtiar kita. Karena, sejatinya kita hanyalah diminta menjadi alat Allah; untuk membuktikan sejauh mana ketaatan kita dan kesungguhan kita bekerja untuk akhirat. Berhitunglah; sudah siapkah amal saleh kita sebelum Allah Azza wa Jalla yang kelak menghitungnya.*