Panjang Angan, Pendek Amal

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dalam firman-Nya:
“Biarkan mereka (di dunia ini) makan, bersenang-senang, dan terlena oleh angan-angan kosong. Kelak mereka akan mengetahui akibatnya. Kami tidak membinasakan suatu negeri kecuali sudah ada ketentuan waktunya. Tidak ada satu umat pun yang bisa mempercepat atau menunda ajalnya.” (QS. Al-Hijr: 3–5)
Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya, yang bisa menjauhkan kita dari Allah dan melemahkan tekad, adalah panjang angan-angan. Kenapa? Karena angan-angan yang terlalu jauh membuat kita meremehkan pentingnya hidup dan waktu. Kita merasa masih punya banyak kesempatan, padahal waktu yang lewat takkan kembali, dan ajal tak pernah menunggu.
Bahaya Panjang Angan
Ketika pikiran kita melayang terlalu jauh, kita kehilangan kepekaan terhadap nikmat Allah dan sulit mengambil hikmah dari hidup. Kita tidak lagi bersyukur atau berpikir jernih. Kita sibuk mengejar sesuatu yang jauh “di seberang mata”, hingga tidak menyadari apa yang nyata dan patut disyukuri. Bahkan, panjang angan bisa mendorong seseorang berperilaku buruk demi mengejar keinginannya.
Para psikolog pun menyebut, orang yang suka berkhayal panjang biasanya memiliki tingkat stres tinggi dan motivasi rendah. Mereka tidak bisa menikmati apa yang dimiliki dan pikirannya tidak pernah benar-benar “hadir” pada momen saat ini. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa para pengkhayal bisa menghabiskan 46,9% waktu hidupnya hanya untuk berangan-angan. Bayangkan betapa besar ruginya.
Ali bin Abi Thalib berkata, “Hal yang paling aku takutkan adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Hawa nafsu menjauhkan dari kebenaran, sedangkan panjang angan membuat seseorang lupa akhirat.”
Ibnul Qayyim menggambarkan panjang angan sebagai lautan ilusi, kapalnya adalah mimpi kosong, modalnya janji setan, keuntungannya hanyalah khayalan, dan penumpangnya adalah orang yang suka menunda taubat dan kebaikan. Semakin ia tenggelam, semakin ia lupa di mana daratan itu berada.
Mereka yang larut dalam angan-angan akhirnya mengabaikan Allah dan mencari jalan pintas untuk memuaskan keinginan, meski dengan cara salah atau melanggar hukum. Saat gagal, mereka cepat menyalahkan Allah, seolah Allah tidak adil. Padahal keberhasilan itu milik orang yang sungguh-sungguh berikhtiar dan mencari pertolongan Allah.
Bangun dan Bergeraklah!
Perjalanan menuju Allah itu berat jika tidak dimudahkan oleh-Nya. Kita tidak akan kuat tanpa amal yang sungguh-sungguh, kedekatan hati dengan-Nya, dan keikhlasan dalam berkorban. Keyakinan bahwa ridha Allah adalah kunci kebahagiaan dunia–akhirat seharusnya membuat kita bangkit, bukan hanya bermimpi.
Ridha Allah tidak diberikan pada angan-angan, tetapi pada tindakan nyata. Seperti hukum dunia, yang berusaha akan memperoleh hasil.
Panjang angan juga merusak fokus. Orang yang larut dalam angan-angan sibuk memikirkan hasil, iri pada keberhasilan orang lain, tetapi tidak mau menempuh proses. Mereka mengeluh soal nasib, tetapi tidak mengambil langkah.
Karena itu Abdullah bin Mas‘ud berpesan, “Jangan panjang angan dan jangan terlena olehnya. Yang dekat adalah apa yang terjadi sekarang, dan yang jauh adalah apa yang belum datang.”
Fokuslah memperbanyak amal dan memperbaikinya, karena kita tidak tahu amal mana yang akan diterima di hari penimbangan kelak. Ingat, Allah tidak memberi pahala pada mimpi, tetapi pada usaha mewujudkan mimpi tersebut.
Harapan boleh, cita-cita boleh, tapi harus ditemani ilmu, keyakinan, dan amal. Jika hanya ingin tanpa bergerak, itu bukan harapan, itu hanyalah khayalan. Niat baik itu berpahala, tetapi jangan jadikan alasan untuk diam.
Mahar surga adalah amal saleh, ibadah yang sungguh-sungguh, dan pengorbanan yang tulus. Bangkitlah. Bergeraklah. Karena waktu tidak pernah menunggu.