Orang Munafik, Ancaman dalam Gelap

Oleh:
KH. Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَرِحَ ٱلْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَٰفَ رَسُولِ ٱللَّهِ وَكَرِهُوٓا۟ أَن يُجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَالُوا۟ لَا تَنفِرُوا۟ فِى ٱلْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَّوْ كَانُوا۟ يَفْقَهُونَ
“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang), merasa gembira dengan duduk-duduk diam sepeninggal Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata, “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah (Muhammad), “Api neraka Jahanam lebih panas,” jika mereka mengetahui.” (QS. At-Taubah ayat 81)
Berbagai krisis kini terjadi di dunia hari ini; krisis moral, bahan pangan, ekonomi, politik maupun krisis keamanan dan kemanusiaan, layaknya yang terjadi di Gaza belakangan ini. Saat ini, kekuatan takwa dalam hati kita sangat diperlukan agar selamat dari kondisi tak menentu ini.
Perilaku Orang Munafik
Di tengah kalutnya kondisi dunia, ada orang-orang yang menelikung dan berkhianat kepada agama dan saudara-saudaranya sendiri. Merekalah orang-orang munafik. Barisan mereka ada di berbagai lini informasi dan strategi sehingga mereka menimbulkan berbagai distorsi dan kekacauan. Melalui hoaks, framing informasi, maupun penggembosan di dalam tubuh kaum muslimin sendiri. Keberadaan mereka tentu berbahaya. Allah Ta’ala mengabadikan perbuatan mereka ini, salah satunya dalam surat At-Taubah ayat 81 di atas.
Mereka inilah orang-orang yang memilih untuk duduk diam manakala kafilah perang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah siap berangkat. Orang-orang munafiq biasanya sangat berat manakala diminta berkorban jiwa maupun harta di jalan Allah Ta’ala. Justru ketika mereka ketinggalan di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka sangat gembira. Karena mereka takut mati, karena mereka khawatir harta mereka akan berkurang, dan mereka takut terpisah dari apa yang mereka senangi di dunia. Namun, yang paling berbahaya dari orang-orang munafik ini adalah mereka yang acapkali menjadi orang-orang yang menggembosi kaum Muslimin. Melemahkan semangat juang, menggerogoti dari dalam, bahkan memfitnah kaum Muslimin. Inilah sisi yang sangat berbahaya dari mereka.
Dalam bahasa Al-Quran, mereka berkata, “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang dalam panas terik ini.” Namun, dalam bahasa kekinian, mereka biasanya berkata “lagi mager”, “hidup lagi capek-capeknya” atau “lagi jadi kaum rebahan”. Sungguh, tidak pernah berubah perilaku orang-orang munafik yang disebutkan dalam Al-Quran manakala diserukan berjihad pada mereka. Hanya beda kata.
Inilah yang dari waktu ke waktu membuktikan buruknya persepsi mereka, lemahnya opini mereka, apalagi jika mesti bicara tentang konsistensi iman. Mereka tidak punya pengetahuan tentang kekuasaan Allah Azza Wajalla. Mereka sangat picik dalam memandang harta sehingga tanpa buka mata –apalagi buka hati. Dengan sengaja mereka menerima uang bayarannya sebagai buzzer, sebagai ulama yang membelokkan kebenaran, sebagai pengkhianat; tak lain demi uang dan kepuasannya.
Allah Azza wa Jalla kemudian berfirman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mengatakan kepada kaum mukminin agar mengabaikan saja orang-orang bermuka dua, pengkhianat, dan buzzer ini. Biarlah api neraka jahanam yang menungu kedatangan mereka kelak di kehidupan yang abadi. Sungguh api jahanam berkali lipat panasnya dari api yang ada di dunia.
Menengok pada Sejarah
Di Indonesia, mari kita melihat sejenak ke belakang manakala bangsa ini memperjuangkan kemerdekaan, apakah kita memiliki persenjataan untuk melawan Belanda, Inggris, Jepang dan tantara sekutu lainnya? Sungguh, kita hanya memiliki iman dan bambu runcing. Namun, negara-negara Islam lah menyeludupkan senjata dan artileri berat agar Indonesia mampu berdiri menghadang tantara-tentara kafir. Manakala ada pembantaian di Surabaya, merekalah yang mengangkat tangan untuk berbela sungkawa dan mendoakan kita lewat shalat ghaib yang mereka dirikan. Begitu pula, negara-negara ini turut memblokade kapal-kapal Belanda yang akan melalui perairan mereka. Mereka mengibarkan bendera merah putih dan menghalau kapal-kapal itu ke laut lepas agar tidak memasuki perairan mereka.
Itulah yang saudara-saudara kita kaum muslimin di Timur Tengah lakukan, walau sekali lagi dengan campur tangan orang-orang munafik, sejarah ini kemudian sengaja ditutupi. Sehingga generasi bangsa ini tidak akan pernah tahu bahwa kemerdekaan mereka didapatkan juga berkat dukungan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Bahwa, Indonesia bukan hanya merdeka lewat bambu runcing dan perundingan belaka, tetapi di belakangnya ada upaya nyata dari saudara-saudaranya sesama umat Rasulullah Muhammad saw yang membantu dengan doa, senjata, pasokan dana, bahkan diplomasi di berbagai forum dunia.
Oleh karena itu dengan bekal takwa, dengan bekal persaudaraan yang kuat di antara kita, janganlah hari ini, kita di Indonesia menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih dengan mengatakan, “Kita sendiri susah, buat apa peduli pada Palestina!” atau, “Itu ‘kan gegara Hamas yang menyerang Israel lebih dahulu.” Bahkan memfitnah Hamas adalah syiah. Itu sangat keterlaluan dan tidak berdasar.
Ayat 81 surat At-Taubah ini menggambarkan situasi yang terjadi di Perang Tabuk. Dimana udara panas yang sangat terik mesti dihadapi oleh orang-orang beriman yang berangkat memerangi orang-orang kafir. Rasulullah saw beserta sahabat-sahabatnya berada dalm kondisi yang memprihatinkan akibat cuaca panas yang sangat tinggi ketika itu. Namun, orang-orang munafik malah menggembosi kaum muslimin yang harus berangkat menyambut seruan jihad dengan provokasi mereka.
Cobalah Anda bayangkan, jika Anda yang sekarang berada di Gaza. Menjadi rakyat Palestina. Menjadi seorang pejuang Hamas. Di saat kondisi yang sangat sulit. Cuaca panas, kekurangan air, bahan makanan, bahan bakar; bom setiap malam berseliweran di udara. Anak-anak Anda masih kecil-kecil dan Anda hanya bisa saling memandang, kapan kira-kira bom itu jatuh di atas rumah dan membinasakan seluruh anggota keluarga. Sementara Anda bersama keluarga masih juga difitnah sebagai orang Syiah dan pencari gara-gara.
Namun, ingatlah bahwa para pejuang Palestina adalah orang-orang yang memilih untuk menyambut perintah Allah Ta’ala, “Berangkatlah kamu (untuk berperang), baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah.” (QS At-Taubah ayat 41).
Semoga hati kita dikuatkan Allah Ta’ala menghadapi berbagai kondisi yang kini tengah terjadi. Di antara sulitnya perekonomian dan genosida yang kini tengah membayangi saudara kita di Palestina. Semoga Allah kuatkan iman kita untuk berdiri dalam barisan kebenaran, layaknya para pejuang di Palestina. Tanpa tersentuh oleh provokasi kaum munafik dan mampu menjadi pembasmi mereka.*