Tadabbur

Menyiapkan Estafet Kesalehan dalam Keluarga

Ilustrasi

Oleh: 

KH Bachtiar Nasir 

ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 112)

Kabar gembira tentang kelahiran Ishaq datang setelah rangkaian ujian, pengorbanan, dan kepatuhan yang ditunjukkan Nabi Ibrahim AS. Bisyarah itu tidak hadir sebelum pengorbanan, melainkan setelahnya.

Di balik kisah tersebut tersimpan pelajaran penting bagi setiap kepala keluarga. Ketika seseorang telah melewati berbagai pencapaian duniawi, orientasi hidup semestinya tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa lagi yang bisa saya kumpulkan?” Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: “Siapa yang akan melanjutkan estafet kebaikan ini?”

Sebab, keberhasilan sebuah keluarga bukan hanya diukur dari banyaknya harta yang berhasil diwariskan. Ada warisan yang jauh lebih berharga, yakni iman, ilmu, akhlak, dan kesalehan.

Imam al-Alusi menjelaskan adanya penekanan pada predikat minash-shalihin atau “termasuk orang-orang yang saleh” pada akhir ayat tersebut. Bahkan seorang nabi pun disertai dengan predikat kesalehan. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan tidak semata-mata terletak pada kedudukan, keturunan, atau status seseorang, tetapi pada kesalehan yang melekat dalam dirinya.

Kenabian merupakan hak prerogatif Allah SWT. Tidak seorang pun dapat mengusahakannya. Namun, menjadi pribadi yang saleh adalah jalan yang terbuka bagi setiap manusia melalui iman, ibadah, ilmu, dan amal kebaikan.

Karena itu, keluarga Muslim tidak semestinya dibangun hanya untuk menikmati kehidupan dunia dalam satu generasi. Rumah tangga adalah tempat pertama untuk menanam benih yang diharapkan terus tumbuh bahkan ketika orang tua telah tiada.

Keteladanan dalam shalat, kejujuran dalam bekerja, kesabaran menghadapi ujian, kecintaan kepada Alquran, serta kepedulian kepada sesama adalah bagian dari pendidikan yang mungkin tidak selalu terlihat hasilnya seketika. Namun, benih-benih itu dapat tumbuh menjadi karakter anak dan menjadi bekal bagi generasi setelahnya.

Di sinilah pentingnya orang tua memikirkan estafet kesalehan. Anak bukan sekadar penerima harta, nama keluarga, atau jabatan. Lebih dari itu, anak adalah amanah untuk meneruskan nilai-nilai kebaikan yang telah ditanamkan.

Orang tua memang tidak pernah bisa memastikan seperti apa masa depan anak-anaknya. Ikhtiar mendidik adalah kewajiban, sedangkan hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah SWT.

Tugas orang tua adalah menanam dan merawat benih sebaik mungkin. Menanam tauhid, membiasakan ibadah, memberikan teladan akhlak, serta mengajarkan kecintaan kepada kebaikan.

Selebihnya, biarkan Allah SWT yang menumbuhkan dan memberkahinya.

Sebab, boleh jadi harta yang diwariskan suatu hari habis. Rumah bisa berpindah tangan. Jabatan akan berakhir. Bahkan nama seseorang perlahan dilupakan.

Namun, ketika seorang anak tumbuh menjadi pribadi saleh, lalu kesalehan itu mengalir kepada anak-anaknya dan generasi setelahnya, di situlah sebuah keluarga memiliki peluang meninggalkan warisan yang melampaui usia.

Maka, setelah mengejar keberhasilan dunia, jangan lupa menyiapkan siapa yang akan meneruskan kebaikan. Sebab, salah satu bentuk keberhasilan orang tua bukan hanya meninggalkan sesuatu untuk anak, tetapi meninggalkan sesuatu melalui anak yang terus mengalir menjadi amal kebaikan.*

Exit mobile version