Menggantungkan Hidup kepada Allah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqarah ayat 255).
Hidup kita suka atau tidak suka pasti akan kembali kepada Allah. Jika sudah menyadari hal ini adalah pasti, maka persiapkanlah bekal dari sekarang untuk menuju Allah dan menghadap-Nya. Sebaik-baik bekal adalah takwa. Jangan gagal fokus dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Yakinlah bahwa sukses di dunia dan di akhirat itu adalah mencapai predikat bertakwa kepada Allah; dengan takwa sebenar-benarnya yang bukan sambil lalu.
Salah satu bekal terbaik adalah ayat 255 dari surat Al-Baqarah ini. Ibarat pedang yang tajam, maka berbagai bentuk ideologi kekafiran dan pemikiran sesat yang akan merobohkan imanmu akan tumbang oleh ayat ini. Inilah ayat teragung dalam Al-Quran. Dari semua Asmaul Husna, para ahli tafsir menyatakan bahwa asma Allah yang mengawali ayat ini adalah yang tertinggi. Ketika kalimat itu dikumandangkan, maka iblis, jin, dan setan akan lari tunggang langgang kepanasan. Ketika ayat ini diturunkan, maka runtuhlah segala kekuasaan dan singgasana raja-raja dzalim.
Dalam kajian yang lebih dalam, ini berarti bahwa umat Islam sesungguhnya memiliki kekuatan yang luar biasa yang dapat selalu dijadikan sandaran, yaitu Allah –sebagaimana yang terdapat di awal ayat ini. Namun sayangnya, kemusyrikan ummat ini sudah sampai di tahap pemikiran. Tanpa tahu malu, tanpa risih. Seperti menyapa mereka yang di luar Islam dengan salam. Padahal dalam Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan salam yang berbeda kepada orang-orang di luar Islam. Karena, tentu mereka -orang-orang musyrik- bukanlah mereka yang pantas mendapat rahmat dan berkah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jika hidup bukan dengan prinsip yang jelas, maka setanlah yang akan mengambil alih kendali atas jiwa kita. Sekejap saja kita lupa pada Allahurrahman, yang kita sangat bergantung pada rahmat-Nya, maka kita akan mendekat pada setan dan setan yang akan menjadi teman.
Maka seringlah untuk menyebut nama-Nya ketika kamu dalam kesendirian, dalam keadaan membutuhkan, dalam keadaan sedih, marah, atau kecewa; maka panggillah Dia dengan segenap kalbu Anda. Berbahagialah orang-orang yang selalu ingat kepada Allah, dimampukan jiwa dan raganya, dan dilembutkan hatinya untuk selalu menyebut asma-Nya.
Dia yang Maha Hidup
Laailaaha ilaa huwa al-hayyul qayyum. Tiada sesembahan yang pantas disembah kecuali Allah. Bila dijaman dahulu berupa patung berhala, maka di jaman ini, banyak sekali sesembahan modern yang dijadikan Tuhan. Dahulu kala, orang-orang Mesir banyak sekali memiliki tuhan-tuhan. Bahkan ada yang mereka jadikan sebagai tuhan harian. Apa yang mereka inginkan hari ini, maka mereka akan memilih, patung mana yang akan mereka sembah. Sehingga, sebenarnya yang mereka jadikan tuhan juga bukan patung atau berhala itu sendiri; melainkan keinginan yang ada di dalam hati mereka. Isa as dianggap sebagai tuhan juga karena dilahirkan tanpa ayah. Ketika itu, hal tersebut dianggap sudah sangat ilmiah. Maka, orang-orang yang buta hatinya itu pun menganggap Isa as sebagai tuhan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah ayat 23).
Tiada yang hak untuk diibadahi, tidak ada yang pantas untuk ditaati, dipatuhi dan menghinankan diri selain Dia. Allah, Al-Hayyu. Mayoritas manusia di dunia ini bertuhan kepada yang mati, atau bertuhan dengan yang akan mati, atau bahkan bertuhan pada yang sudah mati. Allah, tidaklah demikian. Dialah Yang Mahahidup dan terus hidup. Tidak ada kata mati untuk-Nya, bahkan Dialah yang menentukan kematian bagi mahluk lain. Dialah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Allah-lah Yang Mahahidup.
Dialah sumber kehidupan yang sebenarnya. Dia hidup bukan untuk dilayani bahkan Dia hidup untuk mengurus hamba-Nya. Allah pun tidak pernah lelah mengurus mahluk-Nya. Semua mahluk bergantung pada-Nya.
Benahi Orientasi
Ada orang yang rela meninggalkan keluarganya demi untuk mendapatkan pekerjaan. Demi untuk mendapatkan uang. Lalu rela melakukan apa saja demi mempertahankan pekerjaannya. Bahkan mengurangi hak Allah untuk diibadahi, hanya karena logika manusia yang dangkal. Yaitu, demi uang yang akan diperolehnya di akhir bulan. Ini tentu sangat menyedihkan karena sesungguhnya dia telah salah bersandar, salah bergantung. Perusahaan, pekerjaan, bahkan uang yang akan diperolehnya sesungguhnya akan tiada. Akan binasa pada waktu berakhir yang telah Allah tentukan. Sementara Allah adalah Zat yang tidak pernah terbatas waktu, tidak pernah binasa; bahkan Dialah yang Maha memberi apa yang membuat seorang hamba mengorbankan hak-Nya.
Disini, kita bisa melihat bahwa berhala masa kini yang paling dituju oleh manusia adalah uang, kekuasaan, harta benda, dan materi. Yang kemudian bermetamorfosa menjadi sesembahan dalam jiwa manusia-manusia hari ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran ayat 14).
Jika kita ingin menghadapkan jiwa kepada Allah Ta’ala laailaaha ilahuwal hayyul qayyum, maka engkau persiapkanlah diri untuk Tuhanmu yang tidak pernah mati. Bukan untuk bosmu yang akan mati, bukan untuk perusahaanmu yang akan binasa, bukan pula untuk kekuasaanmu yang serba terbatas; tetapi pasrahkanlah hanya untukTuhanmu tidak akan pernah mati selamanya.
Bagaimana caranya?
وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِۦ ۚ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا
“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan ayat 58).
Bertawakallah dan lihatlah bagaimana Allah akan mengurus hidupmu. Maka, total berserah dirilah kepada Allah. Pahamilah bahwa sebab yang paling penting adalah Allah itu sendiri. Bukan terletak pada ikhitiarmu yang terbatas. Bertawakal sepenuhnyalah kepada Allah bahkan melebihi keberserahan seorang bayi yang berada dalam dekapan ibunya.
Oleh karena itu, mari sadarilah dengan sebaik-baiknya bahwa sejatinya sebab kelemahan dan kemusyrikan kita, sesungguhnya adalah keinginan kita sendiri atas nama ikhtiar, sehingga melemahlah tawakal kita kepada Allah Ta’ala. Bertawakallah kepada Allah sebagaimana tawakal Ibrahim kepada Allah yang menyerahkan segala keputusan akhir pada ridha Allah Azza wa Jalla.
وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ
“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Ash-Shaffat ayat 99).
Allah-lah yang akan mengendalikan hidup kita, mengurus keperluan kita, dan menuntun kemana kita harus berjalan. Maka bertasbihlah pada waktu pagi dan petang untuk menyucikan dan meridhai segala takdir Allah Ta’ala.
وَعَنَتِ ٱلْوُجُوهُ لِلْحَىِّ ٱلْقَيُّومِ ۖ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا
“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman. (QS. Thaha ayat 111).*
