Lima Perusak Cahaya Hati (3)

Oleh KH Bachtiar Nasir
Perusak cahaya hati yang keempat adalah banyak makan.
Ada dua sisi penyebab kerusakan cahaya hati dari sisi makanan. Pertama, makanan dapat merusak cahaya hati karena zatnya yang haram.
Ada makanan haram secara zatnya, karena Allah yang telah menentukannya. Karenanya haram bagi kita karena bisa merusak tubuh.
Kedua, makanan dapat merusak cahaya hati jika volume atau takarannya terlalu banyak. Kita dibuat sibuk terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya yang dikomandani oleh setan.
Zat-nya tidak haram, tetapi takaran makanannya yang haram karena berlebihan. Ikuti perintah Nabi, makan dan minumlah tetapi jangan berlebihan.
Kenapa makanan yang halal menjadi haram?
Karena makanan yang berlebihan akan mengurangi ketaatan kepada Allah. Shalat jadi terasa berat.
Kebanyakan makan juga akan menyulitkan diri jika kegemukan dan perut buncit.
Ada makanan halal yang sama dengan haram dari sisi akibatnya, yakni makan berlebihan. Karena dampaknya bisa membuat kerasnya hati, susah untuk taat, dan malas beribadah. Ini sama halnya terhadap dampak makanan yang haram secara zatnya.
Perjalanan menuju Allah Subhana Wa Ta’ala menjadi berat.
Sadarkah kita, bahwa makan berlebihan menyebabkan kita sibuk hanya fokus pada makanan saja. Yang dipikirkan hanya makanan, besok mau makan apa, di mana. Hal ini bisa menyebabkan tidak fokus pada hal lainnya. Termasuk tidak fokus pada hal-hal yang berkaitan dengan ibadah.
Ada kerusakan fisik dan batin yang disebabkan karena makanan. Karenanya orang yang sibuk dengan wisata kuliner akan tampak ada kerusakan tubuh dan susah berpikir.
Ada hadits Nabi yang berbunyi, “Sesungguhnya setan itu mengalir pada anak Adam melalui aliran darah”.
Solusinya adalah puasa
Ibnu Taimiyah menjelaskan kaitannya dengan makanan, bahwa darah berasal dari makanan dan minuman. Ketika seseorang makan dan minum, “jalur” setan yang berupa darah menjadi lebih luas. Sebaliknya, ketika berpuasa, jalur ini menyempit, sehingga hati menjadi lebih bersemangat untuk melakukan kebaikan.
Puasa adalah sang penjaga yang menghadang nafsu syahwat (termasuk makan).
Yang membuat setan masuk lancar ke tubuh kita adalah kalau kita kekenyangan, sehingga kita malas, malas bangun malam, malas beribadah.
Kenyang memperkuat pengaruh setan di dalam jiwa kita.
At-Tirmidzi dalam satu riwayat haditsnya mengatakan,
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، حَسْبُ الْآدَمِيِّ، لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ غَلَبَتِ الْآدَمِيَّ نَفْسُهُ، فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ، وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ، وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ
Artinya: “Tidak ada wadah yang lebih buruk yang dipenuhi oleh manusia daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus makan lebih banyak, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafas.” (HR. Tirmidzi, no. 2380)