KSP

Lima Hal Perusak Cahaya Hati (2)

Oleh KH Bachtiar Nasir

Perusak cahaya hati yang ketiga adalah bergantung kepada selain Allah.

Kata Ibnul Qayyim, ketergantungan hati manusia kepada selain Allah adalah perusak paling besar secara mutlak.

Mereka sering berucap, “Untung ada saya.” Mereka merasa sukses karena usahanya sendiri.

Tidak ada yang bahaya bagi seorang hamba dibanding ketergantungannya kepada makhluk. Karena itu berarti dia telah memutuskan hubungannya dari Allah. Dia fokus pada kecintaannya kepada selain Allah, dan menjauhkan hatinya dari ketenangan dan kebahagiaan sejati.

Ibaratnya, kalau kita tergantung pada obat-obatan, ada efek samping terhadap organ kita seperti adanya gangguan ginjal.

Sama halnya kalau kita bergantung kepada selain Allah, rusaklah jiwa kita.

Sebaliknya jika badan kita mengonsumsi dengan benar, insya Allah tidak akan banyak efek samping. Sebagaimana orang-orang yang bergantung kepada Allah, berarti dia telah menyandarkan hatinya pada sandaran yang kokoh.

Masih menurut Ibnul Qayyim, jika hati seorang hamba menggantungnya hatinya kepada selain Allah, maka Allah akan menyerahkan dia kepada sesuatu yang dia gantungi itu. Allah akan meninggalkannya dan tidak akan melindunginya. Kita akan dibiarkan sendiri.

Nauzubillah mindzalik.

Bayangkan jika kita tidak dibimbing, tidak dilindungi oleh Allah. Maka kita akan menjadi sasaran kebuasan setan (iblis). Kita akan menjadi sasaran hawa nafsu kita sendiri.

Ketika seseorang berharap sesuatu kepada selain Allah, maka yang dia dapatkan hanyalah kehinaan dan penyesalan. Dia kehilangan yang dia harap dari makhluk dan kehilangan kedekatannya dari Allah.

Seharusnya adalah kedekatan kepada Allah menjadi tujuan utama dalam hidupnya.

Contohnya jika seseorang bergantung kepada manusia untuk kedudukan dan kekayaan, ia seperti orang yang berteduh di bawah sarang laba-laba. Jika dalam keadaan hujan kita berteduh di bawah sarang laba-laba. Bagaimana bisa? Sarang laba-laba itu rapuh.

Di dalam Surah Al-Hasyr ayat 19, Allah berpesan:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ۝١٩

Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.

Ingatlah, di dunia ini ada orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah membuatnya dia lupa pada dirinya sendiri.

Lihat Surah Thaha ayat 124:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى ۝١٢٤

Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”

Diingatkan dari ayat ini, bahwa sesiapa yang berpaling dari Allah, maka Allah akan membuatnya sempit. Obatnya adalah, berdoalah

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Tambahkan dengan zikir:

حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْم ۝١٢٩

 “Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik ‘Arasy (singgasana) yang agung.” (Surah At-Taubah ayat 129)