KSP

Keistimewaan Shalat Subuh, Disaksikan para Malaikat

Oleh KH Bachtiar Nasir

Shalat Subuh memiliki keistimewaan tersendiri, meskipun shalat lainnya juga sama-sama istimewa. Apa yang membedakan keistimewaan shalat Subuh ini?

Kita lihat makna dari Surah Al-Isra ayat 78:

اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِۗ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا ۝٧٨

Artinya: Dirikanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

Ayat 78 Surah Al-Isra ini berkaitan dengan semangat shalat Subuh berjemaah.

Secara global makna ayat ini Allah memerintahkan shalat pada rentang waktu sejak pagi hingga malam hari.

Ada pengkhususkan secara spesifik di ayat ini, yakni وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِۗ – waquranul fajr – atau bacaan pada shalat Subuh. Bacaan Qur’an pada waktu subuh disaksikan. Disaksikan oleh siapa?

Shalat Subuh Disaksikan 

Point khusus ayat ini pada akhir ayat, قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا qur’ânal-fajri kâna masy-hûdâ, karena disaksikan oleh malaikat malam dan malaikat siang secara bergantian. Pergantian shift mereka terjadi di waktu subuh.

Mayoritas mufasir merujuk kalimat itu pada shalat Subuh, berdasarkan kata qur’ânal-fajri, yakni saat merekahnya cahaya setelah kegelapan malam.

Analoginya, ada rumah yang besar dan mewah, lampu menyala terus tetapi terasa gelap. Sementara tidak jauh dari sana ada rumah sederhana tetapi terasa hidup, ada cahaya iman yang menyala pada waktu subuh. Inilah gambaran rumah seorang mukmin. Inilah merekahnya cahaya setelah kegelapan malam.

Subuh adalah shalat yang bersaksi atas cahaya hidup seseorang, berada di  rentang waktu antara dari malam ke siang.

Inti tafsir ayat 78 ini adalah tafsir paling tegas tentang keistimewaan shalat Subuh.

Keistimewaan shalat Subuh, pertama, berada di titik transisi antara malam dan siang. Kedua, menuntut pengorbanan. Ketiga, shalat Subuh sisaksikan secara khusus oleh Allah dan malaikat-malaikat siang dan malam.

Secara kontekstual, Subuh memisahkan dua jenis manusia. Pertama adalah manusia yang hidupnya dipimpin oleh syahwat tidur. Dan kedua, manusia yang hidupnya dipimpin oleh panggilan Robb-nya. Inilah gambaran perbedaan laki-laki yang kuat dan lemah.

Coba perhatikan kalimat azab subuh,

اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ, ash-shalaatu khairum minan-nauum, shalat lebih baik dari tidur. Maka seseorang yang tidak mengikuti syahwat tidur dia akan bangkit segera demi memenuhi panggilan Robb-nya.

Pembiasaan Keluarga dengan Shalat Subuh 

Orang yang menjaga shalat subuhnya, dia sedang melatih disiplin, tidak reaktif. Bila keluarga terbiasa menjaga shalat Subuh, akan lahir dari keluarga ini:

1. Hikmah hidup yang lebih tertib.

2. Ruh ibadahnya lebih kuat.

3. Akhlak biasanya lebih terjaga.

4. Keputusan hidupnya lebih tajam

Sebaiknya, bila umat kehilangan subuhnya, biasanya akan kehilangan kesiapannya.

Keluarga atau umat seperti itu kehilangan kesadaran, disiplin, dan kehilangan peradaban dari pagi hari.

Membangun keluarga sakinah bukan dari teori yang sulit, tetapi dimulai bagaimana keluarga itu sejak Subuh: ramai atau sepi? Sudah siap melaksanakan shalat Subuh sejak awal atau masih lelap tidur?

Kalau pun kita sendiri di rumah, jika sejak subuh atau sebelum subuh sudah bangun dan shalat, akan ramai dengan para malaikat rahmat yang masuk ke dalam rumah.

Berbeda orang yang bangun sejak subuh orientasinya duniawi dan akhirati.

Anak-anak yang dibangunkan sejak subuh, dia sedang diajarkan pada struktur hidupnya yang