KSP

Jauhi orang-orang yang membuat iman kita defisit (2)

Oleh KH Bachtiar Nasir

Untuk menjaga agar iman tidak defisit, kita perlu memilih teman bergaul.

Namun demikian, kita juga harus punya komunitas yang dibangun dengan kesalehan. Bersama mereka, tujuannya agar kita bisa beramal saleh secara berjamaah (kolektif).

Jangan cuma melarikan diri dan menyendiri. Tetapi tetap harus membangun komunitas yang merupakan komunitas dakwah.

Sejarah mencatat, para sahabat Muhajirin, yang ketika masih berada di Mekkah, sangat tertekan. Tetapi Rasulullah mengajak para sahabat berhijrah, dan di tempat hijrah yang baru kaum Muhajirin menjadi entitas yang maju dan berdaulat dalam politik, ekonomi, militer.

Dalam tingkat individu, kalau ingin menjadi orang berbahagia, jauhilah manusia yang menyebabkan defisit iman. Solusinya adalah, jadikan rumah sebagai tempat kembali. Bukan sekadar menjadi tempat singgah. Di sanalah jiwamu beristirahat, dan pikiranmu disusun ulang dengan tenang. Ciptakan rumah yang seperti ini.

Landasannya adalah takwa

Rasulullah sebelum membangun masyarakat yang berdaulat, beliau memulai dari rumah dulu. Setelah dari rumah beliau kemudian membangun masjid, yakni Masjid Quba. Sebelum tahapan membangun masjid, Rasulullah memulai dulu soal takwa dari rumah.

Kenapa harus berlandaskan bertakwa dulu? Seperti masjid Quba, masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah setelah hijrah, yaitu masjid yang dibangun berlandaskan takwa.

Lihat Surah At-Taubah ayat 108:

لَا تَقُمۡ فِيۡهِ اَبَدًا ؕ لَمَسۡجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقۡوٰى مِنۡ اَوَّلِ يَوۡمٍ اَحَقُّ اَنۡ تَقُوۡمَ فِيۡهِؕ فِيۡهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوۡنَ اَنۡ يَّتَطَهَّرُوۡا ؕ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الۡمُطَّهِّرِيۡنَ‏ ١٠٨

Artinya; Janganlah engkau melaksanakan shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di sana ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.

Nama lain dari Masjid Quba adalah Masjid Takwa. Karenanya banyak nama masjid dengan nama Masjid At-Taqwa.

Demikianlah Rasulullah membangun komunitas orang-orang yang hijrah bersama beliau dan orang-orang Anshar atas dasar takwa.

Lihat Surah At-Taubah ayat 109:

اَفَمَنۡ اَسَّسَ بُنۡيَانَهٗ عَلٰى تَقۡوٰى مِنَ اللّٰهِ وَرِضۡوَانٍ خَيۡرٌ اَمۡ مَّنۡ اَسَّسَ بُنۡيَانَهٗ عَلٰى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانۡهَارَ بِهٖ فِىۡ نَارِ جَهَـنَّمَؕ وَاللّٰهُ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِيۡنَ‏ ١٠٩

 

Artinya: Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan(-Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Tekanan ayat ini, bagaimana umat Islam membangun masjid dari segi fisik,  dan dibangun atas dasar takwa. Dan takwa itu juga sebagai landasan hidup orang-orang.

Inilah contoh kasus bagaimana bergaul dan berinteraksi teman-teman yang membahagiakan dan menentramkan.

Demikianlah Rasulullah membangun sebuah entitas yang berdaulat secara ekonomis, hukum, secara politik dan budaya, juga secara pertahanan dan keamanan.

Menjelang bulan Ramadhan, jauhilah orang-orang yang membuat iman kita defisit.

Hindari keramaian-keramaian yang membuat kita jauh dari keimanan.

Ketentraman akan lahir dari kesibukan yang bermakna. Karena itu jangan banyak bercampur dengan orang-orang yang tanpa tujuan.

Tidak semua yang ramai harus dikomentari dan tidak semua yang viral harus diikuti.

Kebahagiaan sejati bukan karena banyaknya orang di sekitarmu, tetapi pada ketenangan jiwamu dan dekatnya hatimu pada makna-makna Al-Qur’an.

Exit mobile version