Jadikan Agenda Itikaf Sebagai Kamp Strategi

Oleh KH Bachtiar Nasir
Di sepuluh hari terakhir Ramadhan, mari memantaskan diri untuk mendapatkan Lailatul Qadr. Itikaf adalah salah satu cara bagaimana kita mendekatkan diri kepada Allah.
Itikaf bukanlah program mengisolasi diri dan tertutup dengan dunia luar. Tetapi jadikan agenda itikaf sebagai kamp strategi.
Kita ingat bagaimana kekalahan pasukan muslim di Perang Uhud?
Mari lihat Surah Ali Imran ayat 123:
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ١٢٣
Sungguh, Allah benar-benar telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu (pada saat itu) adalah orang-orang lemah. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu bersyukur.
Di ayat 123 Surah Ali Imran ini menjelaskan kondisi umat Islam setelah Perang Uhud. Di sini Allah memotivasi.
Allah mengingatkan pada Perang Badar, di mana Allah memenangkan pasukan muslim meskipun jumlahnya sedikit dan perlengkapan perang terbatas.
Karena itulah Allah berfirman, bahwa kalian dalam keadaan lemah, jumlah sedikit dan perlengkapan terbatas. Tetapi kalian ditolong Allah dan dimenangkan.
Allah mengatakan, Wa antum adziilah وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌۚ , kalian dalam keadaan lemah dan rapuh.
Isyarat dari ayat ini, bahwa kekalahan di Uhud tidak melemahkan kaum muslimin. Setelah itu mereka justru menjadi kuat.
Perang silih berganti antara menang dan kalah. Setelah terpuruk kaum muslim kuat kembali dan bangkit.
Di ujung ayat, Allah mengatakan, “Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu bersyukur.” Ini tentang keterangan waktu.
Ketika Allah mengingatkan tentang nikmat kemenangan yang besar, maka Allah juga mengingatkan bahwa nikmat menuntut adanya syukur. Di sinilah hal yang sering dilalaikan manusia, sehingga Allah berkepentingan mengingatkan kepada manusia.
Sudah seharusnya kemenangan itu disertai dengan bersyukur, agar tidak hanyut pada kesedihan saat kekalahan di perang Uhud.
Bagaimana implementasi syukur dalam konteks amal perbuatan dulu dan sekarang?
Di antara bentuk syukur dalam mengamalkan ayat ini adalah:
1. Teguh menghadapi musuh meskipun baru saja terpukul baru saja kalah dalam Perang Uhud.
2. Tetap menaati perintah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dalam keadaan suka dan duka.
3. Tidak membiarkan kekalahan Perang Uhud melemahkan semangat mereka.
Itulah substansi dari ayat 123 ini, kekuasaan juga diputar oleh Allah, dikocok oleh alam agar bergilir dan harus bergilir.
Dalam perang, menang lelah dipergilirkan. Tetapi dalam keadaan apa pun umat Islam, dalam kondisi menang atau terpuruk, kita tetap harus bangkit, bersyukur mengingat kebaikan-kebaikan yang telah Allah berikan. Puncak semua ini adalah senantiasa bersyukur kepada Allah azza wa jalla atas semua nikmat dan semua pertolongan-Nya.
Dalam konteks di sepuluh malam terakhir Ramadhan ini, meskipun betapa lelah dan sibuknya kita, jangan sampai kehilangan semangat penting yang telah Allah racik.