KSP

Hanya Allah, Ilah yang Berhak Disembah 

Oleh KH Bachtiar Nasir

Kata ilah selalu ada dalam zikir-zikir kita. Kita sebagai makhluk ibadah diciptakan untuk beribadah dengan ikhlas. Apa pun status kita, ingatlah kita diciptakan oleh Allah bukan seperti yang sedang kita lakoni hari ini, tetapi Allah Al-Ma’bud sebagai Zat Disembah atau diibadahi. Allah sebagai tempat kita mengabdi hanya kepada-Nya.

Ilah artinya sesembahan. Dialah satu-satunya yang memiliki hak dan absolut untuk disembah. Dialah yang paling utama untuk kita cintai, kita harapkan, sandarkan, dan kita takuti. Dia adalah pusat kebahagian kita, Dialah titik tersedih jika kita jauh dari-Nya. Dialah titik puncak semua capaian untuk kita jumpai. Dialah juga titik puncak semua kecemasan jika kita jauh dari-Nya.

Dialah Allah yang berfirman di dalam Surah An-Nisa ayat 171:

اِنَّمَا اللّٰهُ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۗ

Sesungguhnya hanya Allah saja sesembahan yang hak dan satu-satunya tidak ada yang lain.

Di surah An-Nisa ini disebut kata “sesungguhnya hanyalah Allah”. Kata itu menegaskan bahwa hanya Allah satu-satunya ilah, sesembahan yang hak disembah dan hanya satu Dia saja.

Tidak ada sekutu bagi Allah, baik dalam Rububiyah. Artinya keyakinan bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Pencipta, Pengatur, dan Pemelihara alam semesta. Juga Allah sebagai pendidik, pelindung.

Semua nama yang Dia sandang dengan nama-Nya itu memiliki sifat-Nya yang agung. Termasuk kata ilah disematkan dengan na’budu, kami menyembah (نَعْبُدُ), Dia yang disembah, ditakuti, dan tempat kita bergantung segala sesuatu. Ketika nama na’budu disematkan kepada Allah, maknanya lebih dalam lagi.

Kata ilah bisa dilekatkan kepada siapa saja untuk disembah, ditakuti. Tetapi hanya Allah sesembahan yang hak dan absolut. Al-Ma’bud bilhaqqi, hanya satu-satunya yang absolut untuk disembah, diagungkan, ditaati, ditakuti. Hanya Allah tempat kita bergantung.

Jika Al-Ma’bud dilekatkan pada benda apa saja atau siapa saja. Ada orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah, dan sesembahannya yang ditaati dan diikuti.

Kalau al-Ma’bud (menyembah) disematkan pada hawa nafsu, makanya yang disembah adalah harta, jabatan, uang, kekuasaan.

Misal dilekatkan pada batu, tidak cocok untuk disembah. Atau ada orang yang masuk ke suatu tempat ada syarat bawa ini itu, harus pakai baju ini atau itu, harus membaca ini dan itu. Ini artinya sudah taat, tunduk, melakukan sebuah ritual. Itu sudah berilah kepada selain Allah.

Karenanya jika kata ilah disandingkan dengan Allah maknanya menjadi sempurna. Pada penggalan ayat 171 Surah An-Nisa itu ada kata-kata “sesungguhnya hanyalah” sebagai Yang disembah.

Pada masa sekarang yang disembah itu uang tetapi uang sekarang tidak dalam bentuk fisik. Ada banyak yang disembah selain uang, misalnya jabatan. Banyak orang yang menghinakan diri untuk jabatan. Bahkan bisa menjadi munafik untuk mendapatkan jabatan. Meskipun pagi beriman sorenya kafir.

Itulah fenomena orang modern dalam beriman, seperti yang disebut oleh Rasulullah, bahwa semua yang disembah manusia adalah batil, kecuali hanya Allah saja dengan bermacam ibadah dan hanya Allah pusat ibadah kita.

Kita harus punya keyakinan penuh dan siap menerima konsekuensi ujian keimanan. Tetapi yakinlah kita dijaga oleh Allah.

Lailahailallah bukan hanya artinya tidak ada Tuhan selain Allah, tetapi artinya Tidak ada sesembahan yang berhak disembah dan diibadahi selain Allah.

Tujuan manusia diciptakan oleh Allah adalah hanya untuk beribadah kepada-Nya.

Allah befirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ۝٥٦

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Ada hadits dari Mu’adz bin Jabal:

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba-Nya ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : (yaitu)“hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, (dan) tahukah engkau hak hamba terhadap Allah ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : “Dia tidak akan mengadzab mereka.” (HR Bukhari no 373)

Dari firman Allah Ta’ala dan hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam di atas, inilah yang merupakan inti dakwah para Rasul, pertama menolak sesembahan selain Allah. Kedua, menetapkan seluruh ibadah hanya kepada Allah saja.*

Exit mobile version