Kita Tidak Bisa Hidup Tanpa Hidayah Allah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah ayat 5).
Menjadi orang yang beruntung sesungguhnya bukanlah perkara kebetulan. Mendapatkan keberuntungan dalam ayat Qs. Al-Baqarah ayat 5 di atas, diawali dengan petunjuk dari Allah. Caranya juga tidak sulit. Yaitu, ikutilah jejak orang-orang yang senantiasa beruntung. Yaitu, “(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah ayat 7).
Kita adalah mahluk yang senantiasa membutuhkan hidayah Allah Ta’ala. Semakin banyak hidayah yang kita peroleh, maka akan semakin sempurna nikmat yang akan kita dapatkan. Untuk mendapatkan keberuntungan atau taufiq harus dimulai dengan mendapatkan hidayah. Taufiq sendiri adalah bertemunya keinginan Allah Azza wa Jalla dengan keinginan seorang hamba. Selarasnya keinginan Allah dengan hamba-Nya inilah keberuntungan bagi seorang hamba.
Dalam surat Al-Fatihah ayat 6, kita diajarkan untuk memohon dengan “Ihdina” yang berarti tunjukilah kami. Selama kita shalat maka selama itu pula, kita akan senantiasa memohon hidayah kepada Allah Azza wa Jalla. Mengapa memohon petunjuk ini sangat penting? Karena, semakin sempurna hidayah dimiliki oleh seorang hamba, maka semakin sempurna pula nikmat yang akan kita dapatkan. Akan semaki sempurna keberuntungan yang kita dapatkan.
Tingkatan hidayah terbagi menjadi tiga:
Al-Bayan wad-dilalah adalah petunjuk yang datang dari para nabi dan ulama. Yaitu, bimbingan dan petunjuk dari para nabi dan ulama yang nantinya akan membimbing kita kepada petunjuk selanjutnya. Yaitu, petunjuk dari Allah Azza wa Jalla.
Al-Quran diturunkan ke dunia untuk menjadi petunjuk bagi manusia. Siapa yang memberikan bimbingan dan menjelaskannya? Itulah tugas para nabi dan Rasul. Begitu pula contoh prakteknya. Itulah mengapa nabi dan Rasul tidak diciptakan dari golongan malaikat. Karena, tugas para ulama, nabi, dan Rasul adalah membimbing dan mencontohkan kepada manusia.
At-Taufiq wal ilham :
Ini merupakan wilayah hidayah yang turun dari Allah Azza Wajalla. Allah memberi petunjuk kepada seorang hamba agar dengan daya upayanya, menuju titik yang Allah Azza Wajalla inginkan. Ilustrasinya begini, seorang mahasiswa yang tengah mengikuti bimbingan disertasi tiba-tiba teringat, bahwa manuskrip yang dia butuhkan ternyata tersimpan di museum London.
Nah, untuk mendapatkan manuskrip tersebut, maka ia diberi petunjuk oleh dosennya untuk pergi ke tempat tersebut dengan menemui seorang rekanannya yang memiliki akses dan ahli untuk dapat melihat manuskrip tersebut. Tidak hanya orang yang direkomendasikan, selama disana, sang dosen juga memberikan tempat yang sekiranya bisa menjadi tempat tinggal sang mahasiswa dengan harga yang murah dan nyaman. Setibanya di London, sang mahasiswa langsung dapat menemui orang yang dimaksud. Manuskrip yang dituju pun dapat dengan mudah ditemukan dan dijelaskan oleh dosen yang direkomendasikan oleh dosennya di Indonesia. Alhasil, disertasinya dapat diselesaikan dengan baik dan hasilnya memuaskan.
Inilah yang dimaksudkan dengan petunjuk Allah: At-taufiq wal hidayah. Bertemunya kehendak Allah dengan kehendak sang hamba. Melalui bimbingan dan kemudahan yang Allah Ta’ala berikan sehingga dapat selaras dengan apa yang seorang hamba inginkan. Hamba ini juga dimudahkan oleh Allah untuk mengamalkannya secara maksimal dan membawa manfaat kepadanya.
Hidayah di hari Kiamat
Inilah hidayah tertinggi yang akan Allah berikan kepada hamba-Nya. Hidayah ini akan didapatkan seorang hamba manakala ia berada dalam kebingungan dan kekhawatiran di hari Kiamat. Di saat ia harus menempuh sirathal mustaqim untuk menuju surga. Di sinilah hamba tersebut diberi bimbingan dan kemudahan untuk dapat berjalan di atasnya.
Bagaimana cara mendapatkan bimbingan ini sedari di dunia? Ikutilah sirathal mustaqiim yang terbentang sedari di dunia. Yaitu jalan Al-Quran yang telah para ulama, nabi, dan Rasul ajarkan di dunia. Siapa yang paling teguh dan bersabar berjalan di atas jalan Al-Quran di dunia, maka dialah yang paling teguh dan aman berjalan di atas shirat-Nya di akhirat.
Satu hal lagi yang membuat hidayah itu sangat kita butuhkan. Yaitu, di saat apa yang kita inginkan kemudian dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Kita harus tetap berhati-hati. Pasalnya, ada orang-orang yang dihendaki, tapi tidak dicintai oleh Allah Azza Wajalla. Seperti Qorun. Andaikata di masa itu sudah ada majalah Forbes, maka pastilah yang dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia adalah Qorun. Namun, apakah Qorun kemudian termasuk orang yang dicintai oleh Allah Azza Wajalla? Tentu saja tidak.
Meski Allah Ta’ala tetap berkehendak memberinya harta yang luar biasa. Nah inilah yang kemudian disebut sebagai istidraj. Kita dicelakakan akibat keinginan kita sendiri dari arah yang disukai.
Oleh karena itu, orang-orang yang sudah mendapat hidayah akan bersabar manakala kehendaknya dikabulkan oleh Allah Ta’ala.
Karena, ini adalah keinginannya, yang belum tentu menjadi kehendak Allah Ta’ala juga. Kecuali, bila keinginannya dikabulkan oleh Allah Ta’ala dan sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah, maka dia wajib berbahagia. Di sisi lain, manakala kehendaknya tidak dikabulkan oleh Allah Ta’ala, dia tetap bersyukur karena inilah keinginan Allah Ta’ala dan dia dipelihara dari keinginannya; yang bisa jadi mencelakakan dirinya sendiri. Dan, mereka selalu yakin bahwa setiap takdir Allah yang berlaku atas dirinya adalah kebaikan.*
