Tadabbur

Kita Butuh Rasulullah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah ayat 128).

Hari ini, mari memperkuat kembali ketakwaan kita lewat memperkuat kecintaan kita kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam sosok beliaulah sebenarnya panduan terbaik untuk menjadi orang-orang yang sukses dunia dan akhirat. Akan sangat merugi diri manakala kita mati kemudian di akhirat nanti, kita tidak tercatat sebagai pengikut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak dapat berbaris di belakang beliau.

Tentu kita pernah bertanya, mengapa para sahabat begitu mencintai dan setia kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sehingga mereka mau all out melakukan segala sesuatu demi Islam dibawah kepemimpinan Beliau. Mau berhijrah bahkan mau berperang dan mempertaruhkan nyawa demi keselamatan beliau. Kalau kita telusuri secara psikis dan kontekstual, mengapa mereka bisa sampai pada tahapan sedemikian mencintai dan mengikuti pemimpinnya, maka kita akan menemukan jawabannya.

Ada kenikmatan iman yang mereka rasakan manakala bersama Rasulullah. Ada sesuatu yang nyata, bila bersama Rasulullah bahwa mereka akan bahagia bersama beliau. Meraka benar-benar melihat dan merasakan itu. Bahkan, tidak seorang pun yang akan menyana bahwa kehidupan di padang pasir Arab yang dulunya demikian jahiliyyah, semenjak kehadiran seorang Rasulullah Muhammad yang tumbuh besar di “rumah” mereka sendiri, menjadi maju dengan peradaban Al-Quran.

Sukses Bersama Rasul
Banyak di antara Nabi dan Rasul yang tidak dapat melihat dan merasakan langsung keberhasilan dari dakwah yang mereka lakukan. Umat di zaman mereka hidup pun tidak semua dapat merasakan kebahagiaan hidup dalam naungan risalah. Barulah generasi setelah mereka yang hidup dalam kemakmuran bersama iman. Namun, tidak demikian dengan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta umat Islam. Mereka melihat langsung betapa bersinarnya Jazirah Arab di bawah naungan Islam dan kepemimpinan Baginda Rasul.

Sahabat-sahabat yang dikirim oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan surat kepada Kisra Persia maupun Kaisar Romawi tidak pernah merasa gentar sekalipun berhadapan dengan pemimpin dua imperium besar itu. Mereka merasa sangat bangga dan terhormat menjadi utusan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, manakala Kisra Persia memerintahkan ajudannya untuk mengambil surat dari utusan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, sang utusan dengan berani menolak dan mengatakan bahwa Rasulullah Muhammad saw mengutusnya untuk menyerahkan surat itu langsung kepada Kisra Persia. Langkahnya mantap dan hatinya begitu yakin bahwa isi surat yang dibawanya dari Rasulullah saw itu kelak akan mengubah peradaban dunia.

Keyakinan akan kebenaran akan risalah yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dan mata yang telah menyaksikan sendiri betapa majunya sebuah bangsa dengan tuntunan Ilahiyah membuat generasi penerus para sahabat ini pun tidak sudi terwarnai oleh pendidikan kaum Quraisy di saat itu. Mereka memilih untuk belajar bersama Rasul saw ketimbang belajar pada kurikulum peradaban Quraisy yang terkenal dengan syairnya, tetapi justru mengakibatkan mereka terjatuh dalam jurang penghambaan kepada berhala dan sesama manusia. Ini semua karena mereka melihat langsung bagaimana sempurnanya sosok Rasulullah saw; sebagai rasul Allah, sebagai pemimpin bangsa, sebagai kepala keluarga, sebagai suami dan ayah, dan sebagai apa pun fungsi kebaikan yang ada.

Lalu, bagaimana dengan kita yang ingin melihat kesempurnaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ingin mencintai beliau? Maka, lihatlah surat At-Taubah ayat 128 sebagaimana yang telah dicantumkan di atas. Allah Azza wa Jalla menggambarkan sosoknya dengan begitu indah. Idaman setiap manusia; bagaimana pun kondisinya saat ini. Sosoknya adalah harapan besar setiap manusia tentang adanya seorang pemimpin yang benar-benar hadir berpandu hukum Sang Pencipta alam semesta; yang sangat mengerti penderitaan dan harapan yang membebani. Di samping itu dia pula yang senantiasa mengharapkan hati yang kuat dan kebahagiaan untuk seluruh ummatnya, tidak terkecuali. Inilah profil yang sangat didamba siapa pun manusia untuk memimpin mereka.

Hanya dalam Islam
Inilah Islam, agama satu-satunya di muka bumi ini yang menjadikan seorang rasul atau utusan Allah dari kalangan manusia sendiri. Seorang manusia biasa yang berada di bawah pengawasan Rabb-nya dan menuntun manusia untuk kembali kepada tuhannya, bukan malah menjadi tuhan. Inilah agama yang satu-satunya menjadikan manusia sebagai utusan yang bisa diteladani secara manusiawi karena memang dia dari kalangan manusia. Bukan dari kalangan malaikat atau dewa-dewi yang tidak berperilaku dan tidak berperasaan seperti manusia. Namun, manusia biasa ini dibawah tuntunan risalah menjadi manusia luar biasa yang mengubah dunia. Karena, tunduk kepada hukum dan ketetapan Allah Azza wa Jalla.

Lantas bagaimana cara beriman yang benar kepada Rasulullah Muhammad saw? Ini dua rukun syahadat Rasul: Abduhu wa rasuluhu”. Kita harus mengimani bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia biasa, tetapi hamba pilihan-Nya. Tidak sama dengan kita. Allah Ta’ala mencintainya dan kita juga wajib untuk mencintai beliau.

Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia biasa, tetapi dia menjadi luar biasa karena dia adalah utusan Allah Ta’ala. Tidak akan mungkin bisa kita menyamai Rasulullah Muhammad saw karena dia adalah hamba pillihan-Nya dan namanya dilekatkan dengan Allah Ta’ala karena dia adalah kecintaan Allah. Warosuluh, Muhammad adalah manusia biasa, tetapi dia menjadi luar biasa dan sempurna karena dia adalah utusan Allah Ta’ala.

Allah Azza wa Jalla mengutus Muhammad sebagai Rasulullah untuk Anda. Utusan Allah untuk Anda. Sejatinya ini adalah tanda cinta yang Allah Ta’ala berikan kepada kita hamba-hamba-Nya yang hidup di akhir zaman ini agar tidak salah jalan. Agar tetap lurus dan selamat hingga sampai di surga. Agar tidak tersesat hingga akhirnya tercebur di neraka. Agar kita hidup mulia dan tidak terhina. Agar kita hidup dengan hati yang kokoh dan selalu berbahagia dengan naungan rahmat dari-Nya.

Bayangkan jika hidup kita “ngarang bebas”. Bangun tidur hanya memikirkan perut karena terasa lapar. Di pagi hari hanya memikirkan jam masuk kerja dan tumpukan perkerjaan di kantor. Pagi hari bangun dihantui oleh berbagai beban dan amarah yang masih tersisa dari kemarin. Tidak ada shalat Subuh yang didirikan sebagai tanda syukur telah diberi satu hari lagi kesempatan untuk menikmati karunia Allah Azza wa Jalla.

Tidak ada dzikir pagi dan tasbih untuk menyucikan hati kita dari segala amarah, gelisah, dan kekhawatiran. Tidak ada takbir yang terucap untuk membangun harapan dan membangkitkan semangat beramal terbaik. Inilah yang terjadi, manakala tidak ada seorang manusia utusan Allah yang menuntun kita untuk melakukan berbagai hal yang akan menyelamatkan dan membahagiakan hidup kita. Jangankan sampai di surga, di dunia saja yang akan kita rasakan melulu gelisah dan derita.

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin itu adalah orang yang bisa menerima dan diterima orang lain, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bisa menerima dan tidak bisa diterima orang lain. Dan sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Thabrani).

Inilah visi besar yang seharusnya dimiliki seseorang manakala memulai harinya. Tanpa adanya Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka akan sangat sulit visi besar ini tercetus dalam benak kita. Sebab, manusia pada dasarnya adalah mahluk egois yang hanya akan melakukan segala sesuatu yang menyenangkan dirinya saja. Namun, hadirnya Rasulullah menuntun jalan kita adalah agar peradaban manusia bukanlah seperti perilaku hutan rimba dan isinya. Agar Anda menjadi pribadi takwa yang dicintai Allah dan kelak kembali selamat sampai akhirat. Itulah mengapa, ada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hadir menuntun kita dengan risalah Allah Azza wa Jalla.*

Exit mobile version