Tadabbur

Ketika Ujian Menjadi Jalan Datangnya Keberkahan

Ilustrasi

Oleh: 

KH Bachtiar Nasir 

SETIAP rumah tangga tentu merindukan keberkahan. Kita ingin keluarga menjadi tempat pulang yang menenangkan, anak-anak tumbuh dalam kesalehan, dan kehidupan berjalan dalam limpahan rezeki serta kasih sayang Allah SWT.

Namun, keluarga yang diberkahi bukan berarti keluarga yang terbebas dari ujian.

Jalan menuju keberkahan justru kerap dipenuhi onak dan duri. Ada proses panjang yang harus dilalui. Ada kesabaran yang mesti ditempa, ada ego yang harus ditundukkan, dan ada keteguhan yang terus diuji.

Sering kali kita menginginkan hasil manis dari kesalehan, tetapi lupa bahwa warisan para nabi bukan sekadar kenyamanan hidup. Mereka mewariskan ketangguhan, ketaatan, kesabaran, dan sistem nilai yang kokoh.

Dalam perjalanan membangun keluarga, benturan dengan realitas adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Pasangan mungkin belum selalu seirama. Anak bisa menghadirkan tantangan. Persoalan ekonomi terkadang terasa begitu berat. Bahkan amanah dakwah dan pekerjaan dapat membuat seseorang merasa berada di batas kemampuannya.

Pada kondisi seperti itu, manusia bisa terjebak dalam dua sikap ekstrem. Pertama, berpura-pura kuat seolah tidak memiliki masalah hingga akhirnya tumbang dalam diam. Kedua, membesar-besarkan beban hingga menjadikannya alasan untuk menyerah dan meninggalkan amanah.

Al-Qur’an mengajarkan cara pandang yang berbeda ketika mengisahkan ujian Nabi Ibrahim AS.

Allah SWT berfirman,

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 106).

Ayat ini turun setelah Nabi Ibrahim AS menjalankan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Allah menyebut peristiwa tersebut sebagai al-bala’ul mubin, ujian yang nyata.

Penegasan dalam ayat tersebut juga begitu kuat. Ada inna, lam, dan huwa yang memberikan penekanan bahwa apa yang dihadapi Nabi Ibrahim AS benar-benar sebuah ujian yang nyata.

Ujian itu bukan sekadar pergulatan perasaan. Ia hadir dalam bentuk tindakan yang menguji sejauh mana seorang hamba mampu menempatkan ketaatan kepada Allah SWT di atas segala sesuatu.

Namun, ujian dari Allah bukanlah bentuk penghinaan kepada hamba-Nya. Justru melalui ujian, kualitas iman dapat tersingkap dan derajat seorang hamba dapat diangkat.

Dari kisah Nabi Ibrahim AS tersebut, ada pelajaran penting bagi siapa pun yang sedang memikul amanah keluarga, kehidupan, maupun dakwah.

 

Jujur Menamai Beban

Ketika badai kehidupan datang, kita tidak harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Mengakui bahwa keadaan sedang berat bukan berarti lemah. Sebaliknya, kejujuran kepada Allah SWT dan keluarga dapat menjadi langkah awal untuk melihat persoalan secara lebih jernih.

Kita perlu berani mengatakan, “Ini berat.” Dengan begitu, kita tidak sibuk menyalahkan keadaan. Kita mulai mencari jalan keluar dengan kesadaran bahwa kita memang sedang berada dalam sebuah ujian.

Nabi Ibrahim AS tidak menghadapi ujian dengan mengabaikan kenyataan. Beliau menghadapi perintah Allah dengan kesadaran penuh atas besarnya ujian tersebut.

 

Di Balik Puncak Ujian Ada Pertolongan

Ketika tekanan hidup terasa semakin berat, iman mengajarkan kita untuk tidak hanya melihat kesulitan yang ada di depan mata.

Bisa jadi, justru di balik puncak kesulitan itu Allah SWT sedang menyiapkan pintu pertolongan.

Karena itu, jangan sampai pandangan kita hanya tertuju pada ‘usr atau kesulitan, sementara kita lupa bahwa Allah SWT juga menjanjikan yusr, kemudahan.

Kesulitan tidak selalu menjadi tanda bahwa Allah meninggalkan kita. Bisa jadi, kesulitan merupakan jalan yang sedang membawa kita menuju pertolongan-Nya.

 

Menyambungkan Kembali “Sambungan Langit”

Ada saatnya akal dan tenaga manusia mencapai batas. Pada titik itulah seorang mukmin harus kembali menyambungkan dirinya kepada Allah SWT.

Zikir kepasrahan dapat menjadi penguat hati: Hasbiyallahu la ilaha illa Huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa Huwa Rabbul ‘arsyil ‘azhim.

“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy yang agung.”

Perbanyak pula shalawat dan doa. Sebab, ketika manusia mengakui keterbatasannya dan menyerahkan urusan kepada Allah, hati mendapatkan ruang untuk menerima ilham, kelapangan, dan optimisme baru.

Beban yang semula terasa sebagai sesuatu yang menghimpit bisa berubah menjadi jalan datangnya rezeki dan keberkahan.

Inilah hakikat keluarga yang diberkahi. Bukan keluarga yang steril dari masalah, bukan pula rumah tangga yang tidak pernah menangis dan berselisih.

Keluarga yang diberkahi adalah keluarga yang mampu menghadapi ujian bersama. Mereka berani menamai beban dengan jujur, tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk melarikan diri dari amanah, lalu menundukkan hati dalam tawakal kepada Allah SWT.

Sebab, terkadang keberkahan tidak datang setelah ujian selesai. Keberkahan justru sedang tumbuh di tengah proses ketika sebuah keluarga memilih untuk tetap bertahan dalam ketaatan.*

Exit mobile version