Ketika Luka Menyapa, Tasbih Menyembuhkan

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dialah Allah: Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa. Dia memiliki Asmaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Hasyr: 24)
Hari-hari datang silih berganti, seperti ombak yang tak pernah lelah mencium pantai. Di sela hembusan waktu itu, tak jarang terselip duka yang belum reda, luka yang masih berdarah, kecewa yang belum sempat dipulihkan. Hati sering kali menggigil dalam sunyi, lupa bahwa syukur adalah selimut yang menghangatkannya.
Dan meski lidah mengucap terima kasih, jiwa terkadang tetap terbenam dalam keluh dan kelam. “Sedikit sekali dari hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Kita pun lupa, bahwa di balik tiap takdir yang tampak suram, ada cahaya yang menunggu ditemukan. Tak ada hari yang buruk bila kita memaknainya sebagai anugerah. Setiap waktu adalah suci karena ia datang dari Sang Pemilik Waktu, Ad-Dahr, yang menggilir siang dan malam dalam hikmah yang tak terselami. “Anak Adam telah menyakiti-Ku: ia mencela waktu, padahal Aku-lah Sang Waktu. Aku-lah yang menggilir siang dan malam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tasbih, Obat dari Langit
Luka hati bukan untuk dibenci, tapi untuk disembuhkan. Obatnya adalah syukur. Setiap nikmat yang tertumpah jauh lebih banyak dari kesedihan yang singgah.
Dan saat kecewa menyentuh, maaflah yang menjadi pelipur. Jangan biarkan dendam tumbuh dari tanah kekecewaan, karena dosa hanya akan memperparah sakit yang dirasa.
Maka, saat hati mulai retak, dan keputusasaan mengintai di tikungan hari—angkatlah tasbih. Sampaikan pinta dalam bisikan yang suci:
“Ya Allah, Engkaulah Yang Mahasuci. Maka sucikanlah hatiku dari debu dosa, dan bersihkanlah pikiranku dari hiruk-pikuk dunia.”
Dengan tasbih, kita membersihkan hati dari debu kesedihan, dan pikiran dari kabut kekhawatiran. Hingga kelak mata hati memandang jernih: bahwa hidup ini tak pernah lepas dari kasih sayang-Nya.
Kita kembali ke asal mula: kepada Sang Pencipta, yang menulis takdir dengan cinta, membentuk rupa dengan indah, dan menggenggam segalanya dalam Asmaul Husna-Nya.
Mengenal Nama-Nya, Menyembuhkan Jiwa
Seringkali, tangis panjang yang tak berhenti adalah karena kita tak mengenal siapa Tuhan yang sedang kita keluhkan. Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi pernah berkata: “Ini adalah kenyataan yang Allah nyatakan sendiri. Sedikit sekali orang yang benar-benar bersyukur. Sebagian karena lalai, sebagian lagi karena jahil akan Rabb-nya.”
Padahal, lewat dzikir, jiwa yang lelah bisa pulang. Rasulullah ﷺ pernah mengajarkan kepada Fatimah ra: tasbih, tahmid, lalu takbir.
Tasbih menyucikan hati, tahmid memuji keagungan-Nya, dan takbir membawa kita pada tunduknya jiwa di hadapan kehendak-Nya yang Maha Kuasa.
Dan andai ditutup dengan, “Laa Ilaaha Illallah, wahdahu laa syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyi wa yumit, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadir,” maka seluruh laku dan harapan kita akan berada dalam naungan-Nya yang penuh perlindungan.
Istighfar dan Cahaya dari Dalam Sumur
Perbanyaklah tasbih. Ia seperti cahaya kecil yang membersihkan racun-racun dosa yang mungkin telah melekat diam-diam. Bersamanya, hidup terasa ringan, dan langkah terasa diberkahi.
Dan bila ada maksiat yang dilakukan, sadari dan mohonlah ampun. Istighfar adalah air yang membersihkan luka akibat kebodohan kita terhadap asma dan sifat Allah Ta’ala.
Sungguh, karena tak mengenal Allah, seseorang bisa jatuh pada syirik, takabur, atau kemunafikan—tanpa disadari. Tapi tasbih dan istighfar adalah jalan pulang. Ia mengikis noda, dan menetralkan racun yang menghitamkan jiwa.
Rawatlah hati, karena hati yang mati tak mampu lagi mencintai kebenaran. Namun hati yang hidup, akan terus menyala, meski tubuhnya terpenjara.
Lihatlah Imam As-Sarakshi. Sepuluh tahun berada dalam sumur gelap, namun dari sana lahirlah Al-Mabsuth—tiga puluh jilid cahaya yang menerangi mazhab Hanafi hingga hari ini.
Hati yang hidup adalah pelita. Ia tidak pernah padam, bahkan di tempat tergelap sekali pun.*