Ketika Kematian Menyambut, Bukan Mengejar

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَدْعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ۘ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَىْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۥ ۚ لَهُ ٱلْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Janganlah engkau sembah di samping Allah tuhan yang lain. Tiada Tuhan selain Dia. Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya. Bagi-Nya segala keputusan, dan hanya kepada-Nya-lah engkau akan kembali.” (QS. Al-Qashash: 88)
Segala yang hidup, pada akhirnya akan menjadi kenangan. Segala yang kuat, pada waktunya akan rapuh. Kefanaan bukan ancaman, melainkan kepastian. Sedang keabadian, ia adalah pilihan yang dijemput dengan kesadaran.
Manusia sejatinya sedang berjalan, bukan dari kehidupan menuju kematian, tetapi dari kematian kecil menuju kehidupan yang sesungguhnya. Rumah sakit, tempat di mana harapan dan doa bersilangan, kerap menjadi persinggahan terakhir banyak jiwa. Orang datang ke sana mencari hidup, padahal bisa jadi takdir sedang memanggilnya pulang.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ
“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, ia pasti menjumpaimu.”
(QS. Al-Jumu‘ah: 8)
Lihatlah pilihan kata-Nya. Menjumpai, bukan mengejar. Artinya, maut tidak datang dari belakang untuk memburu, tapi menanti di depan untuk menyambut. Kita bukan sedang dikejar kematian, melainkan sedang melangkah menujunya, perlahan dan pasti.
Fisikawan Stephen Hawking, pernah berbisik dalam ketakjuban ilmiahnya, manusia akan binasa karena dirinya sendiri. Bukan karena bumi yang lelah, bukan karena langit yang runtuh, tetapi karena agresi dan keserakahan di dada manusia.
Ketika senjata menjadi dewa, dan kuasa menjadi iman, maka nuklir, thorium, dan segala ciptaan manusia hanyalah paku-paku kecil bagi peti matinya sendiri. Hawking berbicara tentang “asuransi kehidupan” di planet lain.
Namun, siapa yang dapat mengasuransikan nasib dari kehendak Tuhan? Sebab alam semesta ini telah tertulis dalam sistem yang sempurna, dan tak ada makhluk yang sanggup menentang ketetapan-Nya.
Di Persimpangan Fana dan Abadi
Kini, di hadapan kita terbentang dua jalan,
menjadi manusia biasa yang akan hilang bersama waktu atau menjadi hamba yang kekal dalam cahaya keabadian.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Janganlah engkau sembah di samping Allah tuhan yang lain.”
Inilah panggilan tauhid, seruan untuk meniadakan segala yang selain Dia.
Kafir menolak Allah sepenuhnya. Sedang syirik, menyembah Allah sambil memuja yang lain.
Orang Quraisy pun merasa tersinggung disebut musyrik, sebab mereka menganggap diri tetap menyembah Allah. Namun di hati mereka, berhala-berhala kecil berdiri berdampingan dengan nama-Nya.
Berhala masa kini bukan lagi patung batu.
Ia menjelma menjadi uang, jabatan, dan perempuan. Betapa banyak manusia yang mengorbankan waktu shalat demi tender, menukar sujud dengan rapat, menunda dzikir demi angka.
Ketika urusan dunia selesai, barulah ia kembali menghadap seakan-akan Tuhan hanya pantas disapa di sela waktu luang.
Ada pula yang setelah korupsi berangkat haji, setelah mencuri berangkat umrah, namun tetap merasa suci. Inilah syirik yang tak disadari, berhala yang tak terlihat, namun bersemayam di dada.
Islam datang untuk membebaskan jiwa dari segala sembahan selain Allah. Ia mengajarkan ketulusan, agar cinta hanya berporos pada Sang Pencipta.
Seperti ditulis Muhammad Thahir bin Asyur dalam Al-Tahrir wa al-Tanwir, “Ayat ini menolak tradisi yang membolehkan kemusyrikan dengan alasan mendekatkan diri kepada Allah. Padahal semua itu adalah syirik.”
Jauhilah syirik, sebab ia adalah kezaliman yang paling besar, penistaan kepada Allah, dan kebinasaan bagi jiwa. Wahai para ayah, wahai para suami, engkaulah penjaga pertama aqidah keluargamu.
Cintailah istrimu karena Allah, bukan karena rupa atau harta. Sayangilah anak-anakmu karena Allah, bukan karena kebanggaan dunia. Sebab jika cinta itu kau tanam dengan pupuk uang, maka saat harta habis, kasih pun layu. Anak-anak akan menilai ayahnya dengan timbangan materi, mereka akan mengelilingimu saat engkau kaya, dan meninggalkanmu saat engkau tua dan tak berdaya.
Mulailah hari ini ajarkan keluargamu mencintai karena Allah, menghormati karena Rasulullah, dan berpegang karena Al-Qur’an. Sebelum waktu menutup kesempatan.
Kalimat yang Menyelamatkan
Laa Ilaaha Illa Huwa. Tiada Tuhan selain Dia. Tiada kasih yang kekal kecuali kasih-Nya. Tiada kekuatan selain kekuatan-Nya.
Maka, perbanyaklah menyebut nama-Nya.
Basahilah lidahmu setiap pagi dengan Laa Ilaaha Illallah. Sebab lidah yang kering dari dzikir, akan menjadi ladang bagi setan dan hawa nafsu. Namun jiwa yang hidup dalam kalimat tauhid, akan dinaungi cahaya hingga kelak di hari yang tiada pertolongan kecuali dari Allah semata.
Dan pada akhirnya, semoga kita kembali kepada-Nya dalam ketenangan, dibangkitkan dalam tauhid, dan dihidupkan dalam keabadian surga-Nya. Aamiin ya Allah.*
