Tadabbur

Hanya Hari Ini yang Benar-Benar Kita Miliki

Oleh:

KH. Bachtiar Nasir

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18).

Hasan al-Bashri pernah memberikan nasihat yang tetap hidup melintasi zaman. “Wahai anak Adam, jauhilah kebiasaan menunda-nunda. Sesungguhnya engkau hanya memiliki hari ini, bukan hari esok. Jika esok masih menjadi bagian hidupmu, maka beramallah pada esok sebagaimana engkau beramal hari ini. Namun jika esok bukan lagi milikmu, engkau tidak akan menyesali kesempatan yang telah hilang.”

Nasihat itu terasa semakin relevan di era digital. Teknologi menjanjikan kecepatan, kenyamanan, dan kemudahan. Banyak pekerjaan selesai hanya dengan satu sentuhan. Namun, di balik segala kemudahan itu, muncul jebakan baru: budaya menunda, larut dalam hiburan, dan tenggelam dalam angan-angan.

Padahal, semakin mudah kehidupan, semestinya semakin produktif pula seorang Muslim. Teknologi seharusnya menjadi sarana memperbanyak amal, bukan alasan untuk mengurangi ikhtiar. Sayangnya, tidak sedikit yang justru kehilangan fokus karena terlalu sibuk mengejar hal-hal yang tidak mendekatkan diri kepada Allah.

Hakikatnya, manusia hanya benar-benar memiliki hari ini. Hari kemarin telah berlalu dan hanya menyisakan pelajaran. Jika kemarin dipenuhi kebaikan, bersyukurlah. Jika dipenuhi dosa, segeralah bertaubat. Adapun hari esok masih menjadi rahasia Allah. Tidak seorang pun mengetahui apakah ia masih diberi kesempatan menghirup udara esok pagi.

Karena itu, jangan biarkan kecemasan terhadap masa depan merampas keberkahan hari ini. Jangan pula biarkan penyesalan masa lalu melumpuhkan langkah menuju perbaikan. Islam mengajarkan keseimbangan: belajar dari masa lalu, berikhtiar untuk masa depan, tetapi hidup sepenuhnya pada hari ini.

Fenomena hikikomori di Jepang menjadi cermin bagaimana sebagian manusia kehilangan makna hidup. Mereka memilih mengurung diri, mengganti interaksi nyata dengan dunia digital, hingga lupa bahwa setiap detik adalah amanah dari Allah. Kehidupan yang seharusnya dipenuhi amal berubah menjadi ruang kesendirian yang miskin makna.

Bagi seorang mukmin, setiap hari adalah kesempatan memperbanyak bekal menuju akhirat. Sebab, yang paling dekat dengan kehidupan bukanlah kesuksesan, kekayaan, atau usia tua, melainkan kematian. Tidak ada manusia yang mengetahui kapan ajal akan menjemput. Ia bisa datang kepada yang muda maupun yang tua, kepada yang sehat maupun yang sedang sakit.

Kesadaran inilah yang membuat seorang Muslim memandang hidup sebagai ibadah. Allah berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56).

Orang yang hidupnya berorientasi ibadah tidak akan menghabiskan waktunya untuk angan-angan panjang. Ia sibuk memperbaiki salatnya, menjaga lisannya, menunaikan amanah, membantu sesama, dan terus mencari ridha Allah. Baginya, keberhasilan bukan sekadar bertambahnya harta, melainkan bertambahnya keberkahan dan ketenangan hidup.

Mereka yang sadar bahwa kematian adalah kepastian akan menggunakan setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya. Hari ini menjadi ladang amal. Masa lalu menjadi bahan muhasabah. Masa depan diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar terbaik dilakukan.

Imam Syafi’i pernah mengingatkan:

“Berbekallah dengan takwa, karena engkau tidak tahu; ketika malam telah gelap, apakah engkau masih hidup hingga fajar. Betapa banyak orang sehat meninggal tanpa didahului penyakit, dan betapa banyak orang sakit yang tetap hidup dalam waktu yang lama.”

Karena itu, jangan menunggu waktu yang dianggap lebih tepat untuk berubah. Jangan menunda amal saleh hingga esok yang belum tentu kita jumpai. Sebab, yang benar-benar berada dalam genggaman hanyalah hari ini. Gunakanlah ia sebagai bekal takwa, agar ketika panggilan Allah datang, kita telah mempersiapkan jawaban terbaik melalui amal yang dilakukan sejak hari ini.*

Exit mobile version