Tadabbur

Bertasbih untuk Mendekat dan Memohon Ampun kepada Allah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir

ALHAMDULILLAH, segala puji hanya milik Allah Azza Wajalla yang telah memberikan nikmat yang begitu besar kepada kita. Yaitu nikmat bisa memperbaiki diri, meminta ampun, dan beribadah dengan tenang, kapan saja dan dimana saja. Kita diberi nikmat berupa kesempatan untuk bisa memasuki surga tertinggi dengan segenap kebahagiaan yang kita rasakan di dunia dan akhirat.

Mari bersama, kita memahami hikmah ayat berikut ini,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّـهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١

رَبَّنَا إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ ﴿١٩٢

رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ۚ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ ﴿١٩٣

رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ ﴿١٩٤

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang yang zalim. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,’ maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami dan matikanlah kami bersama orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui Rasul-rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat. Sungguh, Engkau tidak pernah mengingkari janji.” (Surat Ali Imran ayat 191-194).

Ini adalah rangkaian doa yang dipanjatkan oleh para Ulul Albab. Yaitu, orang-orang yang selalu mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Merekalah orang-orang yang selalu mensyukuri nikmat Allah dalam keadaan apa pun. Mereka juga memikirkan maksud dan hikmah penciptaan laingit dan bumi yang sempurna. Perpaduan antara zikir dan fikir ini membuahkan pengakuan, “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”

Segala yang ada di langit dan di bumi, tidaklah ada yang diciptakan Allah dengan sia-sia. Semua yang diciptakan oleh Allah saling terhubung dan menghasilkan manfaat. Misalkan, matahari dengan mata yang ada di kepala kita. Meski pun kita memiliki mata kepala, akan tetapi akan sangat sulit melihat jika tanpa adanya matahari. Puncak keilmuan orang-orang yang berilmu adalah pengakuannya terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, ada ungkapan, bila engkau tidak menemukan makna di balik sebuah persoalan, maka bertanyalah kepada ahli dzikir. Kenapa bukan pada para scientist? Karena, ada hal-hal yang tidak terjangkau oleh ilmu yang mampu dipahami oleh otak kita sebagai manusia. Ada pun jawaban dan maknanya diungkap oleh Allah Azza wa Jalla melalui hikmah yang diajarkan hanya kepada para ahli zikir.

Mencari Ilmu untuk Allah
Puncaknya ilmu adalah yakin dan buah dari ilmu adalah hikmah yang mampu dipahami oleh penalaran kita yang terbatas sebagai manusia. Mungkin ada orang-orang yang mampu sampai pada keyakinan pada ilmu versi dirinya. Namun demikian, tidak akan pernah ada hikmah yang akan dipetik dari ilmu itu. Karena, tidak lain, hikmah hanya berasal dari Allah Azza wa Jalla dan hanya dapat terbaca oleh orang-orang yang beriman dan senantiasa mengingat Allah, apa pun keadaannya.

Orang-orang yang senantiasa mengingat Allah inilah yang akan mampu mengenal Allah dengan segala sifat dan ketinggian-Nya. Sehingga, tiada kata yang diucapkannya kecuali, Subhanaka ma khalaqta hadza bathilaa (Mahasuci Engkau, tidak ada yang sia-sia dari apa yang Engkau ciptakan).

Orang-orang Ulul Albab inilah mereka yang mencari dan mempelajari ilmu dengan tujuan untuk berma’rifah atau semakin mendekatkan diri kepada Allah. Di saat ia melihat, apa yang diciptakan Allah tak lain adalah alat atau media untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dia menemukan bahwa hakikat dari semua penciptaan di langit dan di bumi ini tak lain hanyalah untuk menunjukkan “wujudnya/ adanya” Allah Azza wa Jalla. Kekuasaan Allah, kehendak Allah; dan ini semua adalah bagian dari ilmunya Allah.

Subhanaka itu adalah tasbih yang artinya menjauhkan/ menolak Allah dari hal-hal yang tidak layak disematkan kepada Allah. Disaat kita bertasbih dengan subhanaka, maka disaat itulah kita membersihkan pikiran dan hati serta ilmu dan keyakinan kita dari berbagai sisipan dan susupan yang mengotori sifat dan dzat Allah Ta’ala.

Disaat itulah kita membersihakan atau mensucikan dzat, asma, sifat, dari perbuatan Allah Ta’ala. Empat hal ini (dzat, asma, sifat, dan perbuatan) Allah ini saling berkaitan. Perbuatan Allah yang suci berasal dari dzat-Nya yang suci. Asma-Nya yang suci berasal dari dzat-Nya yang suci.

Biasanya tasbih itu menjauhkan Allah dari dua sisi:
1. An-Naksh atau nukshon menjauhkan Allah dari sifat kekurangan. Misalnya dari sifat lupa. Tidak mungkin Allah lupa.
2. Al-Mumatsalah lil makhluqa: Menyamakan atau menyetarakan Allah dengan makhluk-Nya.

Bertasbih ini mengandung dua isi di atas. Bila kita sedang bertasbih, maka seharusnya di saat itu, pikiran kita terbebas dari dua hal yaitu Allah memiliki kekurangan dan Allah dapat disetarakan dengan makhluk-Nya. Manakala kita bertasbih, maka Allah mengampuni dosa-dosa yang disebabkan oleh kebodohan kita dalam mengenali dan memahami sifat-sifat Allah. Jadi, akibat kita bodoh tidak mengenal dan memahami sifat-Nya maka kita sering salah menyikapi Allah. Inilah letak dosa kita. Contohnya adalah kita sering mengeluh dan tidak bersyukur pada ketentuan Allah.

Tasbih ini salah satu fungsinya juga mengampuni dosa orang yang suka mengeluh dan mengumpat. Orang yang suka mengeluh, biasanya tidak mengenal Allah dan banyak berdosa. Inilah fungsi tasbih bagi kita, yaitu untuk mengampuni dosa kebodohan kita tentang sifat Allah, nama Allah, dan perbuatan Allah Azza wa Jalla.

Sering-seringlah bertasbih, terutama mereka yang ilmunya sudah tinggi dan bercampur dengan ilmu keduniawian. Ada banyak kejadian, semakin tinggi ilmu yang dimiliki, malah semakin jauh mereka dari Allah Ta’ala. Untuk manusia-manusia dengan jenis seperti ini, maka membersihkannya tidak menggunakan air dan sabun cuci lagi, tetapi sudah harus dengan teknologi antivirus dan pemrograman ulang hati dan fikir, berupa tasbih.

Orang-orang yang banyak mengeluh, kurang bersyukur, dan mudah merasa tak berdaya/ menjadi korban keadaan; harus sering-sering bertasbih. Sebagai jalan untuk memohon pengampunan dosa kepada Allah atas kebodohan mereka yang tidak mengenali dan memahami sifat-sifat Allah Azza wa Jalla.

Dan tak kalah penting, bila kita beribadah tetapi minus mahabbah; seperti shalat, tetapi tidak disertai rasa cinta di dalam hatinya. Tidak bergetar hati kita manakala menyebut nama-Nya, tidak bertambah iman dan tawakal kita manakala membaca bacaan shalat dan Alquran, maka memohonlah ampun kepada-Nya karena sesungguhnya kita sudah berdosa. Berhati-hatilah dengan kebodohan yang kita miliki, bertasbilah selalu untuk menghapus dosa-dosa ini, dan mohonlah hidayah-Nya agar selalu mendekat kepada-Nya.*

Exit mobile version