Berbuat Baik tapi Musyrik

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا
“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Surat Al Furqan ayat 23).
Betapa banyak manusia yang terlihat ramah, gemar bersilaturahim, suka berbagi, memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi, baik dengan tetangga. Bahkan dia menjadi benteng pada suatu bangsa. Tetapi dia musyrik.
Dia menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menyekutukan Allah dalam hal kekuasaan. Menyekutukan Allah dalam hal kesucian. Ada penguasa yang menyamakan dirinya dengan Tuhan.
Dalam fakta kehidupannya, dia terlihat sangat adil dalam memakmurkan bangsa. Dalam membantu orang-orang di lingkungannya. Singkat kata, mereka ini jika diukur kira-kira kebaikannya seperti gunung. Gunungnya terlihat berbukit-bukit panjang. Terlihat besar akan kebaikannya, tetapi sejatinya dia musyrik.
Kita kemudian bertanya, lalu di mana keadilan Tuhan? Orang sebaik dia, orang sehebat dia kebaikannya, kenapa terhapus seluruh pahala kebaikan di hadapan Tuhan? Orang sebaik dia, rela mengeluarkan hartanya bahkan mengorbankan nyawa untuk banyak orang harus tinggal kekal di dalam neraka.
Jawabannya adalah karena kemusyrikan adalah bentuk kezaliman yang tiada taranya. Terlalu kecil semua kebaikan yang seperti gunung tadi, dibandingkan kejahatannya yang sangat besar di hadapan Tuhan ketika dia sudah menyekutukan Tuhan.
Semua kebaikan yang dia lakukan, tetapi dilatarbelakangi oleh kemusyrikan. Padahal Tuhan yang menciptakan nya, yang memberi kekuatan, yang memberikan harta benda, yang membuat dia menaklukan orang lain. Allah Subhanahu wa Tala yang memberikan semua itu. Bukan karena dia sendiri.
Tetapi orang ini, begitu rendah, begitu hina di mata Tuhan. Allah Ta’ala yang kasih dia tubuh yang sempurna. Allah yang kasih dia pendengar dan penglihatan. Allah yang kasih energi dan kekuatan. Allah yang tumbuhkan makanan dari bumi, Allah yang memberikan oksigen buat dia bernafas, tetapi dia menyekutukan Allah.
Inilah sebabnya, kenapa orang yang kelihatan baik, kenapa orang yang kelihatan nya menjadi pelindung banyak orang, kenapa orang yang perbuatan baiknya seperti gunung, tetapi habā`am manṡụrā. Tidak lebih dari debu-debu berterbangan.*