Ukuran Keberhasilan Mendidik Anak

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
PENDIDIKAN paling mendasar yang wajib ditanamkan oleh seorang suami dan ayah di dalam rumah bukanlah sekadar kecakapan hidup, apalagi semata kemampuan mencari nafkah. Pendidikan yang paling utama adalah menanamkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Rasa takut ini bukan ketakutan yang melumpuhkan, melainkan ketakutan yang melahirkan ketaatan. Dan pintu awalnya adalah shalat. Anak yang takut menunda shalat, takut meninggalkan shalat berjamaah, takut menunggu qamat baru melangkah ke masjid, sejatinya itulah fondasi disiplin sejati.
Dari shalat, lahirlah kejujuran. Dari shalat, tumbuh hidup yang sederhana, hemat, dan tidak boros. Dari shalat, terbentuk disiplin kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Inilah ukuran keberhasilan yang hakiki.
Sayangnya, banyak orang tua keliru dalam menilai keberhasilan anak. Anak dianggap mandiri ketika sudah bekerja sendiri, sudah mampu mencari uang, sudah lepas dari tanggungan orang tua. Padahal, itu bukan ukuran utama.
Anakmu benar-benar mandiri ketika ia mampu bangun untuk shalat Subuh berjamaah tanpa dibangunkan. Anakmu telah mandiri ketika ia membuka Al-Qur’an atas kesadaran sendiri, bukan karena disuruh.
Dan puncaknya, ketika ia mampu bangun di sepertiga malam, berdiri dalam tahajud dengan penuh keikhlasan.
Jika itu yang terjadi, maka sungguh orang tua tersebut telah sukses mendidik anaknya. Sukses melahirkan pribadi yang merdeka jiwanya, karena hidupnya terikat kepada Allah.
Memperbaiki Rumah Dimulai dari Shalat
Jika ingin memperbaiki keadaan anak, memperbaiki suasana rumah tangga, memperbaiki arah kehidupan mulailah dari ibadah. Perbaikilah shalatmu dan perbaikilah cara berdoamu.
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”
Ketika doa ini menjadi kebiasaan, dan shalat benar-benar ditegakkan dalam praktik kehidupan, maka dengarkan janji Allah, “Perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.”
Perintahkan seluruh keluargamu untuk shalat. Bersabarlah, banyak-banyak bersabar dalam mengajarkan shalat kepada mereka. Karena mendidik iman bukan pekerjaan sehari dua hari, tetapi perjalanan panjang yang membutuhkan keteguhan.
Dan ketika itu sudah dilakukan, Allah menenangkan hati para ayah dan ibu dengan janji-Nya, “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”
Dalam tafsir dijelaskan maknanya, “Aku tidak akan membebanimu dengan kelelahan mencari rezeki. Aku sendiri yang akan mendatangkan rezeki ke rumahmu, jika shalat telah ditegakkan di dalam rumah itu.”
Maka, bangunlah rumah dengan shalat. Didiklah anak dengan teladan shalat. Dan tenangkanlah hati dengan janji Allah. Karena rumah yang dihidupkan dengan shalat, tidak akan dibiarkan Allah tanpa pertolongan dan keberkahan. Wallahu ‘alam bish shawab.*