KSPParenting

Pelajaran Besar dari Istri Nabi Luth

Dari pelajaran kisah Nabi Luth Alaihissalam, ada lagi hikmah yang bisa kita ambil.

Pagi ini dalam program UBN Newsroom, KH Bachtiar Nasir mengajak kita menyelami sejarah figur seorang istri dari seorang nabi.

Salah satu bagian paling mengguncang dari kisah Nabi Luth adalah kehancuran yang tidak hanya menimpa kaumnya yang durhaka, tetapi juga menyeret orang yang berada di dekat Nabi Luth Alaihissalam. Dialah istrinya yang tidak berpihak pada kebenaran.

Istri Nabi Luth bukan pelaku penyimpangan tetapi berada dalam barisan yang membocorkan atau merestui kerusakan.

Bentuk Pengkhianatannya menurut tafsir, bukan dalam bentuk zina, melainkan pembangkangan akidah. Ketika malaikat datang bertamu dalam wujud pria tampan, sang istri memberi tahu kaum Luth agar mereka bisa mengganggu tamu tersebut.

Suami dan istri adalah salah satu bentuk relasi yang ada dalam kehidupan keluarga. Bagaimana jika istri seperti pada kisah Nabi Luth, dia tidak membantu suaminya dalam mendakwahi kaumnya yang melakukan penyimpangan seksual.

Ini menjadi pelajaran besar bagi umat. Dalam krisis moral, sikap netral terhadap kebatilan bisa berubah menjadi bentuk keberpihakan.

Keluarga muslim tidak akan ada yang berkata seperti ini, “Kan, yang penting anak saya baik-baik saja.” Sementara budaya rusak dibiarkan mengepung sekolah, media, tontonan, bahasa, pergaulan, dan kebijakan publik.

Diamnya orang soleh menjadi ruang tunggu bagi kehancuran yang lebih besar. Namun perjuangan ini harus dilakukan. Membela fitrah bukan berarti menyebar kebencian, menjaga keluarga bukan berarti menghinakan manusia. Menolak normalisasi dosa bukan berarti kehilangan kasih sayang.

Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) mengisahkan, “Ada cerita menarik. Seorang sahabat yang biasa membuat acara memberi makan di masjid. Suatu hari di luar sana dari kejauhan ada seorang laki-laki berpenampilan seperti transgender, sepertinya ingin meminta makanan.”

“Kemudian sahabat ini sebagai pengurus masjid memanggil pemuda tersebut, dilayani dan diberinya makan. Penampilannya itu, jika disaksikan orang yang kurang sabar mungkin akan mengusirnya. Tetapi sahabat ini kemudian memanggilnya dan menyalaminya, dan memberi makan. Alhamdulillah, tak lama pemuda tersebut memakai peci dan bergabung menjadi jemaah shalat Jum’at di masjid itu. Dia merasa dihormati, disayangi, tetapi bukan dinormalisasi.”

“Inilah pengalaman menghadapi mereka, jangan dengan emosi. Jangan sampai mereka takut,” jelas UBN.

Tapi jangan juga dinormalisasi dengan menerima dia keadaan demikian.

Tegas tidak harus keras. Kalau pendekatannya salah, maka bahaya akan lebih besar.

Dari pengalaman sahabat tadi, menghadapi para pelaku penyimpangan seksual akhirnya bisa mengajak kembali mereka ke jalan yang benar.