Berita

UBN Ungkap Pentingnya Tadabbur Quran Dipelajari di Lembaga Pendidikan Islam

Ilustrasi

JAKARTA–Rektor Akademi Tadabbur Quran (ATQA) KH Bachtiar Nasir mengatakan selama ini metode tadabbur Quran banyak ditinggalkan, bahkan dilupakan lembaga pendidikan Islam. Padahal tadabbur Quran ini sangat penting, karena merupakan metode dasar dalam berinteraksi dan menyelami Alquran.

“Bisa dikatakan di lembaga-lembaga resmi pendidikan Islam banyak yang meninggalkan atau bahkan melupakan metode tadabbur Quran ini. Lebih asyik melakukan pendekatan-pendekatan yang sebetulnya bukan dari Alquran,” ungkap UBN saat menjadi narasumber pada Studium Generale ATQA, Jumat (2/6/2023) malam.

UBN menilai dalam berinteraksi dengan Alquran justru banyak umat Islam yang terjebak tasywih (pengelabuan atau pengaburan). Atau menafsirkan Alquran dengan pendekatan hermeneutika.

“Pendekatan yang diawali dengan mencurigai bahwa Alquran mengandung sedikitnya sesuatu yang tidak orisinil, sebagaimana mereka memandang kitab suci yang lain,” jelas Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) ini.

Menurut UBN, tadabbur Quran ini merupakan pondasi dasar metodologi interaksi Alquran dengan tujuannya agar umat mendapat hidayah Alquran.

UBN berkisah, di sebuah konferensi di Malaysia, ada penegasan dari peserta yang mengatakan para pengajar tafsir atau para mahasiswa-mahasiswi tafsir banyak yang tidak mendapatkan hidayah Alquran pada saat belajar mengajar.

“Karena fokus berinterkasi dengan Alqurannya lebih fokus kepada sainsnya. Ilmunya. Lupa, bahwa ujung daripada ilmu yang dipelajari dalam Alquran adalah hidayah,” ujar UBN yang juga Pimpinan AQL Islamic Center ini.

UBN mengapresiasi dengan menyampaikan kegembiraan karena saat ini tadabbur Alquran sudah masuk disiplin ilmu yang diajarkan pada pada program Pascasarjana di berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah. Ini bertanda, umat sudah mulai sadar pentingnya tadabbur Alquran.

Bahkan, jelas UBN, setelah konferensi tingkat tinggi di Doha, para tokoh dan ulama tafsir Quran menyampaikan penyesalan. “Para ulama tafsir menyampaikan penyesalan, kenapa tidak sejak dulu kita memulai pendekatan tadabbur sebagai cara untuk menikmati banyak manfaat yang ada dalam Alquran,” ungkap UBN.

UBN mengatakan, kehadiran ATQA (Akademi Tadabbur Quran) ini juga dalam upaya menghidupkan metode tadabbur dalam menyelami Alquran.

“Saya menyampaikan apresiasi kepada manajemen ATQA yang telah meletakkan dasar-dasar tadabbur Quran. Mungkin di Indonesia yang secara sungguh-sungguh mengerjakan secara akademik sampai terbentuknya ATQA ini mungkin mudah-mudahan kita yang terdepan,” demikian dikatakan UBN.*

 

Exit mobile version