UBN: Kedaulatan Pangan Penting Hadapi Perang Hibrida

JAKARTA — Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir mengingatkan Indonesia agar mewaspadai perang hibrida yang tidak hanya berlangsung melalui kekuatan militer, tetapi juga menyasar sektor pangan, energi, ekonomi, informasi, hingga sumber daya strategis.
“Perang hibrida ini samar. Perang melumpuhkan pangan sedang berlangsung, perang melumpuhkan energi sedang berlangsung, perang memblokade dan melemahkan sumber-sumber persenjataan dan bahan-bahan baku juga sedang berlangsung,” ujar Bachtiar dalam pertemuan dan silaturahmi bertajuk “Kedaulatan Pangan untuk Ketangguhan Bangsa” di Aula Maqdisi AQL, Masjid Baitul Maqdis Indonesia, Tebet, Jakarta Selatan, Ahad (9/8/2026).
Menurut UBN, kondisi tersebut menjadi peringatan bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan nasional. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar dapat membuat suatu bangsa rentan ketika menghadapi gangguan ekonomi, sosial, maupun geopolitik.
Ia menilai kedaulatan pangan karena itu tidak boleh dipahami sebatas kemampuan menyediakan makanan bagi masyarakat. Kedaulatan pangan merupakan bagian dari strategi bangsa untuk menghadapi perubahan geopolitik dan menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat.
“Ketahanan pangan harus menjadi perhatian bersama karena pangan berkaitan langsung dengan ketahanan sebuah bangsa,” ujarnya.
UBN mengatakan, penguatan kedaulatan pangan membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Lembaga, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat perlu membangun sinergi agar Indonesia memiliki ekosistem pangan yang mandiri dan tangguh.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan yang digelar AQL dalam rangka menyambut 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Pertemuan itu menjadi ruang untuk membangun kepedulian, mempertemukan gagasan, sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Selain pangan, UBN mengingatkan pentingnya memperkuat ketahanan energi dan sektor strategis lainnya. Menurut dia, perubahan tatanan global menuntut Indonesia memiliki kemampuan untuk mengelola sumber daya sendiri sehingga tidak mudah ditekan oleh kepentingan eksternal.
Dalam kesempatan itu, UBN juga mengingatkan kembali peran umat Islam dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia menilai kekuatan zakat, infak, sedekah, dan wakaf pernah menjadi bagian penting dari kekuatan sosial umat dalam menopang perjuangan bangsa.
Semangat kemandirian dan gotong royong tersebut, kata UBN, perlu dihidupkan kembali dalam pembangunan Indonesia saat ini. Salah satunya melalui penguatan ketahanan pangan sekaligus ekonomi umat.
“Karena itu, kita perlu membangun kekuatan dari masyarakat, menguatkan kemandirian, dan memastikan sumber daya strategis bangsa tidak mudah dikendalikan oleh pihak lain,” katanya.
Melalui agenda “Kedaulatan Pangan untuk Ketangguhan Bangsa”, AQL mendorong terbangunnya kolaborasi untuk menghadirkan langkah konkret dalam memperkuat kemandirian pangan dan meningkatkan ketangguhan bangsa.*