Berita

UBN: Kedaulatan Pangan Adalah Jihad Peradaban dan Syarat Kemandirian Bangsa

JAKARTA — Ulama nasional Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) menegaskan bahwa kedaulatan pangan merupakan fondasi utama bagi kemandirian dan masa depan bangsa.

Dalam perspektif jihad peradaban dan manifestasi tauhid di era modern, ia menilai bangsa yang tidak berdaulat atas pangannya tidak akan benar-benar berdaulat atas masa depannya.

Menurut UBN, di abad ke-21 pangan tidak lagi sekadar urusan dapur, melainkan telah menjadi isu strategis yang menyangkut kekuasaan, stabilitas, keamanan nasional, hingga martabat bangsa.

Saat konflik global terjadi dan rantai pasok terganggu, mulai dari energi hingga pupuk yang diuji bukan hanya mekanisme pasar, tetapi kemampuan negara dalam menjamin kebutuhan pangan rakyat tanpa ketergantungan pada pihak luar.

“Bangsa yang pangannya rapuh akan mudah ditekan, diatur, dan kehilangan keberanian untuk membela kepentingannya sendiri,” ujar UBN, Kamis (16/4/2026).

UBN mengaitkan pentingnya pangan dengan pesan dalam Surat Al-Quraisy, bahwa Allah memberi makan dari lapar dan memberi rasa aman dari ketakutan. Ia menekankan, lapar dan takut merupakan ancaman besar bagi peradaban, sementara pangan dan keamanan adalah fondasi masyarakat yang kokoh.

Kelaparan, kata dia, bukan sekadar persoalan perut, tetapi pintu masuk ketergantungan dan dominasi.

Lebih lanjut, ia menyebut pembangunan kedaulatan pangan sebagai bagian dari amanah tauhid: memakmurkan bumi, mengelola nikmat, menjaga kehidupan, serta menolak ketundukan kepada selain Allah. Dalam kerangka itu, sawah diposisikan sebagai benteng, petani sebagai penjaga negeri, air sebagai urat nadi, dan benih sebagai “senjata” masa depan.

UBN juga mengingatkan risiko jika sektor pertanian diabaikan. Lahan yang terbengkalai, petani yang dilemahkan, irigasi yang rusak, serta distribusi yang dikuasai pasar dan impor yang dijadikan solusi permanen, dinilai akan meruntuhkan daya tahan bangsa.

Dalam perspektif siyasah syar’iyah, ia menegaskan negara wajib hadir menjaga kemaslahatan publik, termasuk melalui pengelolaan air dan irigasi, penguatan logistik, penyediaan cadangan pangan, perlindungan lahan, serta keberpihakan kepada produsen kecil.

Ia pun mendorong perubahan nyata melalui kebijakan yang memuliakan petani, distribusi yang adil, penguatan riset dan teknologi pertanian, serta peningkatan kesadaran agraria dalam sistem pendidikan.

Di tingkat keluarga, UBN menyerukan revolusi mental untuk lebih menghargai pangan dan produk lokal. “Jihad pangan bukan hanya di sawah, tetapi juga di ruang kelas, laboratorium, kebijakan, pasar, dan rumah tangga. Setiap benih yang ditanam adalah perlawanan terhadap ketergantungan,” tegas Pimpinan Perkumpulan AQL itu.

UBN menutup dengan penegasan bahwa kedaulatan pangan merupakan jantung ketahanan bangsa dan syarat kemerdekaan sejati. Ia mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan isu ini sebagai gerakan bersama.

“Sudah saatnya kedaulatan pangan menjadi jihad peradaban nasional. Sebab jika lapangan tegak, bangsa pun tegak. Kemerdekaan sejati dimulai dari kedaulatan pangan,” pungkasnya.*