Berita

Tiga Tahun Genosida Gaza, UBN Ingatkan Bahaya Al-Wahn

JAKARTA — Pimpinan Perkumpulan AQL Ustaz Bachtiar Nasir atau UBN menyoroti genosida yang berlangsung di Gaza. Ia mengingatkan umat Islam agar tidak kehilangan kepekaan kemanusiaan ketika menyaksikan penderitaan rakyat Palestina.

Hal itu disampaikan UBN pada Selasa (6/10/2026) saat mengulas tiga tahun berlangsungnya genosida di Gaza.

“Sobat, 7 Oktober 2024, genap tiga tahun sudah genosida di Gaza berlangsung. Inilah batas antara manusia dengan monyet,” kata UBN.

Menurut UBN, Alquran menggunakan diksi monyet dalam sejumlah ayat untuk menggambarkan manusia yang melampaui batas. Ia merujuk antara lain pada Surah Al-Baqarah ayat 65 dan Surah Al-A’raf ayat 166.

“Diksi monyet di dalam Al-Qur’an adalah tiga ayat yang menggambarkannya. Dua ayat menggambarkan tentang melampaui batas, keterlaluan. Apa yang melampaui batas di atas genosida? Puluhan ribu orang dibantai,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip penggalan ayat, “faqulnā lahum kūnū qiradatan khāsi’īn”, yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 65 dan Surah Al-A’raf ayat 166.

UBN juga mengingatkan bahwa Alquran menggambarkan adanya manusia yang mendapat hukuman akibat pembangkangan dan pelanggaran terhadap ketentuan Allah.

“Tetapi faktanya memang pernah mereka dikutuk menjadi monyet dan itu nyata. Di dalam Surah Al-Ma’idah digambarkan: wa ja’ala minhumul-qiradata wal-khanāzīr,” katanya.

Menurut dia, gambaran tersebut menjadi peringatan tentang batas antara kemanusiaan dan perilaku yang kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

“Inilah batas antara kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia dengan manusia yang sudah dikuasai oleh jiwa bermental monyet ini,” ujar UBN.

UBN kemudian mempertanyakan sikap umat Islam yang memilih diam ketika menyaksikan kemungkaran dan tragedi kemanusiaan, termasuk genosida di Gaza.

“Lalu bagaimana dengan kita yang diam? Akankah kita seperti setan bisu? Setan bisu adalah orang yang diam terhadap kemungkaran, kebatilan, bahkan ketika genosida berlangsung,” katanya.

Ia menilai umat Islam perlu melakukan muhasabah terhadap kondisi hati. Menurutnya, salah satu persoalan yang berbahaya adalah al-wahn, yakni kelemahan hati yang membuat seseorang takut dan mudah menyerah.

“Secara keseluruhan barangkali umat ini kalau kita mau bermuhasabah dengan rasa, mungkin sudah terserang penyakit yang sangat berbahaya yang sangat halus, lemah hati. Mereka sebetulnya kuat tapi takut, mereka sebetulnya bisa tapi menyerah sebelum melangkah,” ujar UBN.*

Ia menegaskan, kelemahan merupakan bagian dari sifat manusia. Namun, menurutnya, yang harus diwaspadai adalah kelemahan hati yang membuat manusia kehilangan keberanian dalam membela kebenaran.

“Lemah itu tidak hina karena manusia diciptakan dalam keadaan lemah, tetapi lemah hati ini yang Allah tidak suka. Itulah yang disebut dengan al-wahn,” katanya.

UBN mengingatkan bahwa al-wahn berkaitan dengan penyakit cinta dunia dan takut menghadapi kematian. Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk membangkitkan kembali kesadaran dan menjaga kemanusiaan serta keimanan.

“Ya, umat ini sudah terserang penyakit hubbud-dunya (cinta dunia) dan takut mati. Mari kita bangkit, mari kita sadar agar kemanusiaan kita tetap utuh di dalam jiwa kita, agar iman kita senantiasa terjaga, terbebas dan tidak terpapar al-wahn,” ujar UBN.

Ia menutup pesannya dengan kembali mengingatkan pentingnya menjaga kemanusiaan di tengah tragedi Gaza.

“Tiga tahun genosida di Gaza, batas antara manusia dan monyet,” kata UBN.*

Exit mobile version