Tabligh Akbar di UMS, UBN: Al-Qur’an Jadi Syifa untuk Sembuhkan Penyakit Umat

SOLO — Pembina AQL Islamic Center, Ustaz Bachtiar Nasir atau karib disapa UBN, mengajak umat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai syifa atau penawar bagi berbagai penyakit yang melanda kehidupan umat. Pesan tersebut disampaikan dalam Tabligh Akbar yang diselenggarakan Forum Ma’ahid wa Madaris Qur’an Indonesia (FORMAQIN) di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (3/10/2026). Tabligh Akbar dihadiri lebih dari 10.000 jemaah.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian International Islamic Edu Fair (IIEF) 2026. Dalam tausiyahnya, UBN mengingatkan bahwa berbagai persoalan umat, mulai dari kegelisahan pribadi, problem rumah tangga hingga perpecahan di tengah masyarakat, membutuhkan penanganan yang bersumber dari Allah SWT.
“Dari semua kegelisahan kita, dari semua penyakit dan problematika umat ini, tidak ada yang bisa menyembuhkannya kecuali syifa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Qur’an sebagai syifa, bukanlah sekadar pembawa kesembuhan. Tapi Qur’an itu sendiri adalah syifa,” ujar UBN.
Ia kemudian mengutip Surah Al-Isra ayat 82 yang menyebut Al-Qur’an sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang beriman.
“Wa nunazzilu minal-qur’aani maa huwa syifaaa’uw wa rahmatul lil-mu’miniin. Wa laa yaziiduzh-zhaalimiina illaa khasaaraa,” katanya.
Menurut UBN, penggunaan kata nunazzilu dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap. Ia mengibaratkan pembacaan Al-Qur’an secara rutin seperti mengonsumsi obat sesuai dosis dan aturan.
“Ketika kita baca dengan teratur, kita konsumsi Al-Qur’an setiap hari, maka dia akan menjadi obat,” kata dia.
UBN menjelaskan, Al-Qur’an memiliki fungsi penyembuhan yang tidak hanya berkaitan dengan penyakit jasmani. Mengutip penjelasan Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir, ia menyebut Al-Qur’an dapat menjadi obat bagi penyakit kebodohan, kesyirikan, keragu-raguan, kebingungan, hingga kecenderungan kepada kebatilan.
Di sisi lain, UBN menegaskan bahwa Al-Qur’an juga dapat menjadi syifa bagi penyakit jasmani melalui ruqyah dan doa. Namun, hal tersebut menurutnya tidak berarti menafikan pengobatan secara medis.
Ia juga mengingatkan umat agar tidak menjadikan praktik ruqyah sebagai tontonan atau kegiatan yang justru menimbulkan ketakutan. Menurutnya, majelis Al-Qur’an semestinya menghadirkan ketenangan, sebagaimana hadis yang menyebut turunnya ketenteraman dan kehadiran para malaikat dalam majelis zikir dan pembacaan Al-Qur’an.
Sembuhkan Penyakit dari Rumah
Dalam kesempatan tersebut, UBN mengajak umat memulai proses penyembuhan dari lingkaran terkecil, yakni keluarga. Menurutnya, persoalan rumah tangga menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kekuatan umat.
Ia mengingatkan agar keluarga Muslim tidak berhenti pada kondisi rumah tangga yang sekadar tenteram secara hubungan manusiawi. Rumah tangga, kata dia, perlu diarahkan menuju keluarga yang beriman dan diberkahi Allah SWT.
“Maksud saya, mari naikkan kelas rumah tangga ini, rumah tangga kita. Kalau hari ini kita sudah tidak berkelahi lagi, bukan berarti rumah itu sudah As-Sakinah. Kalau rumah itu As-Sakinah, bukan berarti tanpa konflik di dalam rumah itu,” ujar UBN.
Ia kemudian mengaitkan konsep keluarga dengan Surah Ar-Rum ayat 21 tentang sakan, mawaddah, dan rahmah. Menurutnya, keluarga perlu memiliki arah yang lebih tinggi, yakni menjadikan Allah SWT sebagai tujuan.
“Keluarga disebut Sakinah kalau iman yang ditegakkan. Keluarga yang punya arah adalah ketika Quran dibacakan di dalam rumah,” katanya.
UBN juga mendorong keluarga untuk membiasakan membaca Al-Qur’an di rumah. Ia mengingatkan agar aktivitas tersebut tidak hanya dilakukan sekali ketika seseorang baru menempati rumah.
“Perbedaannya antara rumah dengan kuburan adalah dibacakan surah Al-Baqarah atau tidak. Maka harus sering diulang-ulang dan sering dibacakan agar rumah kita sembuh dari berbagai macam penyakit, terutama penyakit tanpa arah,” ujarnya.
Al-Wahn Penyakit Umat
Lebih jauh, UBN menyoroti persoalan perpecahan di tengah umat Islam. Ia mengatakan kekuatan materi dan kekuasaan tidak cukup untuk menyatukan hati manusia.
“Berapa pun uangmu, berapa pun kekuasaanmu, kamu nggak akan pernah bisa satukan hati manusia. Dan yang bisa menyembuhkan cuma Allah Subhanahu wa Ta’ala,” kata UBN.
Ia kemudian mengingatkan umat mengenai penyakit al-wahn, yakni kecintaan berlebihan terhadap dunia dan ketakutan terhadap kematian.
“Penyakit al-wahn sudah massal nggak di umat Islam saat ini? Apa itu al-wahn? Hubbud dunyaa wa karaahiyatul maut, cinta dunia dan takut mati,” ujarnya.
Menurut UBN, jalan keluar dari penyakit tersebut adalah kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Ia mengutip perkataan Imam Malik, Maa shaluha aakhiru haadzihil ummah illaa bimaa shaluha bihii awwaluhaa, yang bermakna umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan mengikuti sebab-sebab kebaikan yang telah menjadikan generasi sebelumnya baik.
Karena itu, UBN berpesan agar umat tidak meninggalkan Al-Qur’an meskipun hanya sehari. Ia mengibaratkan orang yang memiliki ilmu tetapi tidak membaca Al-Qur’an seperti memiliki mobil mewah tanpa bahan bakar.
“Jangan pernah meninggalkan Quran walau satu hari. Anda yang belajar tafsir tiap hari, Anda yang menjadi dosen tafsir setiap hari, kalau tidak baca Quran setiap hari ibaratnya Anda punya mobil mewah tapi tidak ada bensinnya,” kata UBN.
Menutup tausiyah, UBN mengajak jamaah membaca Surah Al-Fatihah dengan niat memohon kesembuhan kepada Allah SWT. Ia mengingatkan bahwa salah satu nama Al-Fatihah adalah Asy-Syifa.
“Niatkan sebagaimana salah satu nama Al-Fatihah adalah Asy-Syifa,” ujar UBN.*