Lama Menikah Belum Dikaruniai Anak? Ini Nasihat KH Bachtiar Nasir

JAKARTA—Memiliki keturunan merupakan dambaan bagi setiap pasangan suami istri. Apalagi jika usia pernikahan sudah belasan tahun, tentu sangat mendamba dikaruniai anak. Berbagai cara dilakukan demi mendapatkan keturunan.
KH Bachtiar Nasir memberikan nasihat atas persoalan ini. Pada Kuliah Semangat Pagi edisi Sabtu (5/8/2023), yang disiarkan secara langsung di Youtube Bachtiar Nasir terlontar curhat sekaligus pertanyaan dari seorang jemaah perempuan yang sudah menikah 12 tahun tetapi belum memiliki anak. Apakah bisa ruqyah menjadi solusi?
KH Bachtiar Nasir meminta kepada pasangan yang mengharapkan keturunan agar meningkatkan takwa. Ulama yang akrab disapa UBN ini mencontohkan Nabi Zakaria Alaihissalam bertakwa dan bertawakal kepada Allah saat menginginkan keturunan.
Nabi Zakaria berdoa, rabbi lā tażarnī fardaw wa anta khairul-wāriṡīn (Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), sedang Engkau adalah sebaik-baik waris).
“Kemudian pada akhirnya ketika sedang shalat di mihrabnya, malaikat pun mengabarkan bahwa dia, Nabi Zakaria hendak diberi keturunan bernama Yahya,” ujar UBN.
Menurut UBN, segala persoalan hidup seperti kesembuhan penyakit, rezeki, jodoh, maupun keturunan, maka mulailah dulu semuanya dengan cara takwa.
“Adapun cara-cara teknis, itu harus mengikuti takwa. Jangan didahulukan persoalan teknis. Sebab nanti bisa melenceng biasanya. Apalagi kalau kurang iman, nanti dapat bisikan ini, bisikan itu sehingga kehilangan tauhidnya,” ungkap UBN.
Umumnya, jelas UBN, orang-orang yang lama tidak memiliki keturunan justru biasanya diberikan setelah tidak lagi mengebu-gebu, pasrah. Artinya ketika mampu mengontrol emosinya, mengontrol keinginannya, sehingga rahimnya kemudian dalam kondisi siap.
“Berbicara kondisi rahim siap ini, memang sangat membutuhkan rahmat Allah. Ketenangan, tidak grasa grusu, tawakal, tidak usah sedih, gimana kalau sudah tua, takut nanti suami begini,” kata UBN.
Setelah takwa ini dikuatkan, maka baru lah kita berikhtiar secara teknis. “Berobat ke sana, berobat ke sini. Makan ini, terapi itu. Sampai kepada ruqyah tadi. Itu yang paling penting,” ujar UBN.
UBN kembali mengingatkan bahwa rahim dan misteri kelahiran anak ini adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Kalau sudah waktunya untuk memberi, Allah pasti mengarahkan ikhtiarnya kemana,” kata UBN menguatkan.*