Umat Dakwah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
UMAT Islam adalah umat dakwah, yaitu umat yang mengemban risalah Allah SWT untuk disampaikan dan disebarkan demi kebaikan dan kemaslahatan seluruh umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Umat Islam adalah penerus risalah kenabian kepada umat manusia. Oleh karena itu, berdakwah, menyeru dan mengajak manusia menuju Allah SWT adalah suatu kewajiban yang bersifat kifa`i bagi keseluruhan umat Islam, dan kewajiban ke atas setiap individu umat Islam menurut kadar kemampuan dan ilmunya. Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran [3]: 104).
Allah SWT. juga memerintahkan kita untuk menyeru manusia ke jalan Allah SWT.
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..(QS. al-Nahl [16]: 125).
Dalam ayat lain, Allah SWT. mengaskan bahwa menyeru dan mengajak manusia menuju Allah SWT itu adalah sebaik-baik perkataan. Allah SWT berrfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّـهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (QS. Fushshilat [41]: 33).
Dan dalam haditsnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menegaskan bahwa umat Islam harus menyampaikan risalah Islam itu kepada manusia, meskipun itu hanya satu ayat.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
Abdullah bin ‘Amru meriwayatkan bahwa Nabi SAW. bersabda: “Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat..” (HR. Bukhari).
Maka sebagai pribadi yang mengikrarkan diri kita sebagai seorang muslim, kita harus menyadari bahwa berdakwah dan berbuat untuk Islam ini bukan monopoli satu individu atau kelompok, bukan hanya tugas para kiyai, ustadz atau para da’i, bukan juga hanya tugas satu organisasi atau jamaah. Tetapi berdakwah menyeru manusia ke jalan Allah SWT itu adalah tanggung jawab setiap pribadi yang menyebut dirinya muslim. Setiap orang sesuai dengan kemampuan dan bidangnya masing-masing. Ustaz atau kiyai berdakwah menyeru manusia ke jalan Allah SWT dengan ilmu agamanya, dokter berdawah dengan ilmu kedokterannya, ahli ekonomi berdakwah dengan ilmu ekonominya dan begitu seterusnya.
Setan dengan segala tipu dayanya mungkin akan membisikkan kepada setiap kita bahwa kita tidak layak dan pantas untuk bergerak dalam bidang dakwah karena kita penuh dengan dosa dan segala perbuatan maksiat, karenanya cukup bagi kita hanya melaksanakan ibadah-ibadah fardhu dan meninggalkan dosa dan maksiat saja. Padahal dengan bisikan itu setan telah menjerumuskan kita kepada dosa yang lain. Maka jangan sampai kita menambakan kepada dosa-dosa yang telah kita lakukan dosa yang lain yaitu dosa tidak mau melaksanakan kewajiban berdakwah dan berbuat untuk Islam dan umat Islam.
Saling Kerja Sama
Dan untuk berdakwah menyeru manusia ke jalan Allah SWT pada zaman ini tidak mungkin lagi hanya mengandalkan semangat dan perjuangan individu-individu tanpa bekerjasama dan saling bersinergi. Dakwah pada zaman ini sangat memerlukan kerjasama dalam suatu wadah apapun itu namanya yang menghimpun individu-individu dari segala bidang ilmu dan keahlian untuk berjuang dan berdakwah bersama dalam wadah tersebut. Para ulama menjelaskan bahwa bekerjasama dalam berdakwah dan berbuat untuk Islam ini secara syar’i adalah suatu kewajiban dan secara realitanya adalah suatu kebutuhan mendesak yang harus dilakukan.
Secara syar’i, Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu tolong-menolong dan bahu membahu dalam melakukan kebaikan dan untuk ketaqwaan. Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۖ إِنَّ اللَّـهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah [5]: 2).
Dan berdakwah di jalan Allah Ta’ala merupakan salah satu amal kebaikan dan ketaqwaan yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Bahkan ia merupakan misi dikeluarkannya umat Islam bagi umat manusia sebagai pengemban risalah kenabian menyampaikan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada seluruh umat manusia.
Dan jika kita melihat realita yang ada di lapangan, kita dapat mengambil pelajaran bahwa perjuangan secara individu-individu, betapapun semangat dan ikhlasnya individu tersebut, tidak membawa perubahan dan pengaruh yang diharapkan, baik dari segi waktu maupun luasnya cakupan dakwah. Hal itu karena terbatasnya kemampuan dan kekuatan individu-individu tersebut.
Begitu juga, meskipun orang yang berdakwah itu banyak, namun jika semuanya jalan sendiri-sendiri tanpa ada sinergi dan kerjasama, bahkan mungkin saling menjatuhkan, tentu itu juga melemahkan pengaruh dakwah itu sendiri di tengah masyarakat.
Dan kalau kita melihat kepada pihak yang menentang dan memusuhi dakwah Islam itu, kita dapat melihat bahwa meskipun nama, tujuan dan cara mereka berbeda antara satu dengan yang lain, namun mereka bekerjasama, bersinergi dan membentuk organisasi yang mempersatukan usaha dan perjuangan mereka untuk melemahkan umat Islam. Karena itulah Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al-Anfal [8]: 73).*