Artikel

Penerbangan Bayangan, Jejak Relokasi Tersembunyi Warga Gaza

Oleh:

Ustaz Bachtiar Nasir 

 

MESIN pesawat charter Global Airways masih bergetar pelan ketika matahari siang membakar landasan Bandara O.R. Tambo, Johannesburg. Di dalam kabin yang terasa semakin sempit karena panas, seorang perempuan muda Palestina menahan tangis sambil merekam dirinya dengan ponsel.

“Kami pergi dua hari lalu, melarikan diri dari kematian dan kehancuran,” ucapnya pelan, suaranya bergetar. “Sekarang kami terdampar di Afrika Selatan. Tak ada tujuan, tak ada yang mendengar. Anak-anak lapar dan kehausan.”

Tangis bayi dan anak-anak memenuhi kabin. Sudah hampir 12 jam mereka terkunci di pesawat, tanpa makanan, tanpa air yang layak, bahkan tanpa popok untuk bayi. Mereka hanya membawa paspor tanpa stempel, beberapa ponsel, dan satu-dua ransel kecil. Gaza mereka tinggalkan di belakang, tapi ke mana mereka sebenarnya menuju pun tak ada yang tahu.

Pesawat yang mereka tumpangi pada 13 November 2025 itu membawa 153 warga Gaza, keluarga, anak-anak, perempuan hamil yang sebelumnya dikeluarkan secara senyap lewat Israel, diterbangkan ke Nairobi, lalu diarahkan ke Afrika Selatan. Tidak satu pun dari mereka menyangka akan terlibat dalam polemik internasional tentang dugaan relokasi terselubung yang dibungkus dengan istilah “evakuasi kemanusiaan”.

“Ini perjalanan penuh penderitaan,” kata Loai Abu Saif dalam wawancara. “Kami diperiksa tentara Israel, paspor kami tidak distempel. Kami kira itu prosedur biasa. Ternyata itu masalah besar begitu kami mendarat.”

 

Operasi Senyap dari Ramon

Apa yang dialami Loai bukan kejadian tunggal. Sejak perang Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023, Bandara Ramon di selatan Israel perlahan berubah menjadi titik keberangkatan yang jarang muncul di berita. Pesawat-pesawat sewaan, dari Boeing hingga Airbus, tampak lepas landas membawa warga Gaza yang baru keluar dari wilayah terkepung. Arah mereka tersebar: ke Mesir, Turki, Maroko, Yordania, Eropa, bahkan Amerika.

Di permukaan, semua ini terlihat seperti jalur kemanusiaan. Namun laporan investigasi dari Haaretz, Al Jazeera, dan beberapa media lain menyingkap gambaran berbeda. Perjalanan yang berlangsung tanpa transparansi, tanpa pengawasan PBB, dan tanpa jaminan hak kembali bagi para penumpang.

Dan di tengah jaringan yang samar ini, nama yang terus berulang adalah Al-Majd Europe.

 

Al-Majd Europe dan Jejak yang Tak Jelas

Di internet, Al-Majd Europe tampil sebagai organisasi kemanusiaan yang membantu komunitas Muslim di zona konflik. Mereka mengklaim berdiri di Jerman sejak 2010, dengan kantor pusat di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur. Tetapi ketika jejak digitalnya ditelusuri, gambaran yang muncul justru berlawanan. Domainnya baru dibuat pada 2025. Foto para pengurus diduga hasil buatan AI. Tidak ada alamat kantor nyata, tidak ada nomor telepon, tidak ada registrasi resmi yang bisa diverifikasi.

Namun di lapangan, nama Al-Majd muncul dalam banyak kesaksian warga Gaza yang berhasil keluar. Mereka menemukan Al-Majd lewat tautan di media sosial atau WhatsApp. Mereka diminta mengirim data lengkap: paspor, akta kelahiran, identitas seluruh keluarga. Orang yang bepergian sendirian cenderung ditolak, seolah-olah hanya keluarga tertentu yang memenuhi syarat.

Lalu ada soal biaya. Untuk bisa keluar dari Gaza, mereka harus membayar antara seribu hingga enam ribu dolar Amerika, terkadang bahkan lebih. Pembayaran dilakukan lewat rekening pribadi atau dompet kripto, tanpa kontrak tertulis dan tanpa jaminan pengembalian. Banyak keluarga menjual harta terakhir atau meminjam dengan bunga tinggi demi satu kesempatan meninggalkan Gaza.

Bus kemudian menjemput mereka menuju perbatasan Kerem Shalom. Di sana, tentara Israel memeriksa tubuh, barang bawaan, bahkan pakaian mereka. Sebagian besar barang harus ditinggalkan. Hanya ponsel, sedikit uang, dan tas kecil yang boleh dibawa.

Yang paling mencolok, ketika mereka tiba di Bandara Ramon, paspor mereka tidak distempel. Secara administratif, perjalanan mereka seakan-akan tidak pernah ada. Mereka baru menyadari betapa fatal hal itu ketika tiba di negara tujuan. Mereka tak bisa membuktikan dari mana mereka datang, dan tak punya dokumen keluar resmi dari mana pun.

Di berbagai bandara transit seperti Nairobi, barulah mereka tahu ke mana mereka akan dikirim. Ada yang diarahkan ke Afrika Selatan, ada yang ke Indonesia, Malaysia, atau negara lain. Tiket yang dipegang penumpang sering tidak sesuai dengan tujuan sebenarnya. Beberapa penumpang yang akhirnya mendarat di Johannesburg mengaku tiket mereka bertuliskan tujuan ke India atau Malaysia.

 

Harga Mahal

“Kami melihat ada koordinasi erat antara Al-Majd dan tentara Israel,” ujar seorang pria Gaza kepada media internasional. Hubungan itu berjalan mulus, tapi dengan harga yang tidak kecil.

Di tengah perang yang menghantam Gaza, dengan rumah sakit kolaps, obat-obatan habis, dan izin keluar yang hampir mustahil, tawaran Al-Majd tampak seperti satu-satunya jalan keluar. WHO menyebut ribuan orang memerlukan evakuasi medis mendesak. Banyak yang akhirnya meninggal karena izin yang tak kunjung keluar.

Dalam situasi seperti itu, meski biaya evakuasi tidak masuk akal bagi keluarga biasa, mereka tetap membayar. Hidup di Gaza berubah menjadi hitungan hari, kadang jam. Mereka membeli kesempatan untuk tetap hidup, meski tak tahu ke mana mereka akan dibawa.

Namun sesampainya di negara tujuan, banyak yang menemukan kenyataan lain. Tidak ada rencana jangka panjang, tidak ada status pengungsi yang jelas, hanya visa singkat atau izin tinggal sementara. Di Afrika Selatan, mereka hanya diberi visa kemanusiaan 90 hari, ditampung seminggu, lalu harus mencari cara bertahan sendiri.

 

Afrika Selatan, Solidaritas yang Dibayangi Kecurigaan

Pemerintah Afrika Selatan pun terkejut ketika pesawat misterius yang membawa 153 warga Gaza itu mendarat tanpa pemberitahuan. Paspor tanpa stempel dan ketiadaan visa langsung memicu alarm imigrasi. Presiden Cyril Ramaphosa, yang selama ini vokal mendukung Palestina, menyebut kasus itu sebagai bagian dari upaya “mengosongkan Gaza”. Ia memerintahkan investigasi oleh intelijen negara.

Pertanyaan yang mengemuka hampir sama, bagaimana pesawat itu bisa mendarat, siapa sebenarnya Al-Majd Europe, dan apakah ini bagian dari agenda untuk memindahkan penduduk Gaza ke luar wilayah mereka?

Aktivis HAM menuduh Al-Majd sebagai organisasi bayangan yang membantu relokasi paksa. Kedutaan Palestina di Pretoria mengatakan keluarga-keluarga itu “ditipu, dimintai uang, dan dibiarkan sendirian ketika masalah muncul”.

Di tengah silang tuduhan, para penumpang tetap berada di posisi paling rentan. Meninggalkan rumah yang hancur, tiba di negara yang kebingungan, dan bergantung pada organisasi misterius yang tak jelas keberadaannya.

 

Jejak Singgah ke Indonesia

Afrika Selatan bukan tujuan satu-satunya. Pada Juni 2025, lebih dari 100 warga Gaza disebut berhasil masuk ke Indonesia melalui jalur serupa. Prosesnya sama: pendaftaran online, pembayaran mahal, bus menuju Kerem Shalom, penerbangan dari Bandara Ramon ke Nairobi, lalu masuk Indonesia tanpa penjelasan yang jelas.

Pemerintah Indonesia membantah adanya program relokasi permanen. Namun kehadiran rombongan Gaza yang datang lewat jalur tidak resmi ini membuat situasinya rumit. Indonesia ingin menunjukkan solidaritas kepada Palestina, tapi juga dibayangi pertanyaan hukum dan politik tentang status mereka.

Padahal pemerintah Indonesia sendiri sebenarnya tengah menyiapkan evakuasi resmi 1.000 warga Gaza untuk perawatan medis. Namun rencana itu belum berjalan sepenuhnya. Yang lebih dulu bergerak justru jalur-jalur privat seperti Al-Majd yang mengisi kekosongan dengan caranya sendiri.

Pertanyaan besar kemudian muncul, apakah ini benar-benar operasi kemanusiaan, atau bagian dari upaya lebih besar untuk mengosongkan Gaza secara perlahan?

Aktivis Palestina dan sejumlah pengamat meyakini pola ini menyerupai rekayasa demografi. Bukan pengusiran terang-terangan, tetapi serangkaian “keberangkatan sukarela” yang lahir dari situasi yang memaksa: bombardir tanpa henti, kelaparan, dan runtuhnya layanan publik.

Israel menyebut ini pilihan sukarela bagi warga Gaza. Amerika Serikat mendukung ide tersebut. Namun bagi keluarga yang menghabiskan malam di tenda pengungsian yang terendam banjir, atau pasien yang menunggu izin keluar sambil menahan rasa sakit, kata “sukarela” terdengar seperti ejekan.

“Siapa di Gaza yang benar-benar punya pilihan?” kata seorang penumpang.

 

Gaza yang Kian Kosong

Sejak perang 2023, hampir seluruh penduduk Gaza telah mengungsi berkali-kali di dalam wilayah sempit itu. Ribuan berhasil keluar untuk perawatan medis. Jalur privat seperti Al-Majd membawa ratusan lainnya ke berbagai negara.

Setiap keluarga yang naik bus menuju perbatasan meninggalkan satu rumah kosong, satu masa depan yang menggantung. Evakuasi mungkin menyelamatkan nyawa, tetapi juga menambah pertanyaan besar tentang siapa yang kelak akan kembali dan apakah Gaza yang mereka kenal masih ada.

Dalam laporan terakhirnya dari Bandara Ramon, jurnalis Al Jazeera Nesiba Musa menutup dengan kalimat yang menggantung: evakuasi ini membawa harapan bagi sebagian orang, tetapi juga membuka ketidakpastian panjang bagi masa depan Gaza dan hak para pengungsi untuk pulang.

Bagi Loai Abu Saif dan ratusan warga Gaza yang kini tersebar di negara-negara asing, harapan itu sesederhana doa: semoga suatu hari nanti, jalan pulang masih menunggu mereka dan Gaza mereka belum benar-benar terhapus dari peta.*

Exit mobile version