Naskah Juara Pertama Lomba Artikel Tadabbur Al-Quran se-Indonesia

PELITA (PELAJAR INDONESIA TAAT AGAMA) SEBAGAI TRANSFORMASI GEN Z DENGAN MEDIA DAKWAH UNTUK MENGUATKAN JIWA KEINDONESIAAN DALAM MENCAPAI CITA-CITA BANGSA DI ERA SOCIETY 5.0
Oleh:
Faris Ariwibowo || Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Indonesia juga disebut sebagai negara maritim, negara dengan ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, Miangas sampai Pulau Rote. Negara yang dilalui garis khatulistiwa ini memiliki garis lintang 6˚LU-11˚LS serta garis bujur 95˚BT-141˚BT. Letak astronomis inilah yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang strategis sebagai jalur perdagangan dunia, sehingga banyak sekali wisatawan mancanegara yang datang. Kedatangan wisatawan mancanegara sangat penting untuk roda perekonomian di Indonesia dan menjadi pendatang khusus yang saling berbaur dengan budaya, agama, dan kebiasaan warga sekitar. Kondisi inilah yang sangat mendukung kekuatan kedaulatan Indonesia di era society 5.0 yang penuh toleransi dari segi agama dan etika seluruh masyarakat Indonesia, terutama para generasi Z sebagai bentuk gambaran Indonesia masa depan dalam perspektif tadabbur Qur’an. Indonesia telah merdeka sejak tahun 1945 yang dimana banyak melibatkan tokoh-tokoh penting dalam memperjuangkan kemerdekaan dengan mengorbankan pertumpahan darah.
Tema “Peran Generasi Z dalam Dakwah Tadabbur Qur’an untuk Menguatkan Jiwa Keindonesiaan di Era Society 5.0” sangat sesuai dengan kondisi kehidupan di masa sekarang. Generasi Z mejadi tonggak perubahan untuk memulai langkah baru sebagai upaya menyebarkan dakwah tadabbur Qur’an untuk menguatkan tujuan kemerdekaan negara Indonesia yang saling hidup damai serta mengedepankan toleransi. Subtema yang dipilih yaitu “Indonesia Masa Depan dalam Perspketif Tadabbur Qur’an” sebagai pandangan pencapaian cita-cita negara Indonesia di masa depan untuk terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Kondisi masyarakat Indonesia saat ini sangat dekat dengan kedaruratan dalam hal kaitannya dengan keagamaan. Banyak sekali tersebar kasus-kasus aliran sesat, mengaku nabi, hingga toleransi antar umat beragama yang sangat rendah. Allah SWT telah berfirman dalam Q.S. Al-A’raaf:94 “Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada suatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri”. Hal ini dapat disebabkan karena masyarakat di Indonesia terdiri dari berbagai suku, budaya, ras, dan agama, sehingga kasus-kasus ini bisa dapat terjadi kapan
saja dan di mana saja atas dasar tidak dilandasinya dengan iman yang kuat dan jiwa yang sehat. Jika dilihat jumlah penduduk di Indonesia menduduki peringkat keempat terpadat di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Menurut Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementrian Dalam Negeri mencatat, jumlah penduduk Indonesia mencapai 273,87 juta jiwa pada 31 Desember 2021. Jumlah penduduk yang besar ini mayoritas beragama Islam dan menjadikan negara ini menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Terdapat data bahwa di Indonesia ada sekitar 238,09 juta jiwa atau 86,93% penduduk Indonesia yang tercatat beragama Islam (Hermansyah et.al., 2022).
Langkah-langkah modernisasi pendidikan Islam di Indonesia yang sudah berkembang menjadikan lembaga-lembaga pendidikan terutama madrasah dan pondok pesantren banyak berdiri dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Bagi generasi Z sendiri mondok memiliki tujuan untuk mendidik menjadi hafidz Al-Qur’an yang berakhlakul karimah. Al-Qur’an merupakan pedoman dalam kehidupan. Generasi Z sendiri merupakan generasi yang lahir setelah generasi Y yang lahir di tahun 1995 sampai tahun 2010 (Widarti, 2022). Generasi ini disebut dengan generasi yang sangat dekat dengan kemajuan teknologi. Kemajuan Negara Indonesia tidak bisa lepas dari adanya perkembangan teknologi yang sangat canggih.
Indonesia saat ini sedang membutuhkan sumber daya manusia yang unggul. Banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh oleh para generasi Z di dalam dunia kerja. Saat ini pemerintah sedang berusaha keras mendongkrak roda perekonomian Indonesia setelah terpuruk akibat pandemi covid-19. Indonesia sempat mengalami resesi ekonomi
pada saat awal mula merebaknya covid-19, banyak perusahaan yang harus melakukan efisiensi dalam usahanya dengan melakukan PHK massal terhadap karyawannya, sampai dengan tidak mampu memberikan pesangon terhadap karyawan yang di PHK (Achiel et.al., 2020). Ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 mengalami kontraksi sebesar minus 5,32 persen dibandingkan kuartal II tahun sebelumnya (BPS, 2020).
Pembahasan
Sejarah Penyebaran Islam di Indonesia
Kemerdekaan negara Indonesia tidak lepas dari sejarah perjuangan peradaban Islam yang telah lama diperkenalkan di bumi Nusantara ini. Sejarah Islam telah menjadi saksi perjuangan bangsa Indonesia dalam misi menuntaskan kemerdekaan. Islam dibawa ke Nusantara (Indonesia) pertama kali pada abad ke-7 pada tahun 31 H/651 M. Penyebaran Islam di Nusantara (Indonesia) pada awalnya didorong oleh meningkatnya jaringan perdagangan di luar Nusantara. Pedagang dan bangsawan dari kerajaan besar Nusantara biasanya adalah yang pertama mengadopsi agama Islam. Banyak ditemui bangunan peradaban Islam yang masih kokoh berdiri hingga sekarang, misalnya Masjid Menara Kudus, Masjid Agung Demak, Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Masjid Agung Surakarta, dan Masjid Agung Banten. Bauto (2014) menyatakan bahwa sejak awal perkembangannya, agama di Indonesia telah banyak menerima akomodasi budaya, sebagai contoh agama Islam, dimana agama Islam sebagai agama faktual banyak mempengaruhi norma-norma atau aturan tentang kehidupan dibandingkan dengan agama-agama lain.
Gambar 1. Peta Masuknya Islam ke Indonesia.
(Nasution, 2020)
Norma-norma dan tatanan kehidupan bernegara telah banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, bahkan para Nabi telah banyak mengisahkan salah satunya adalah hidup dengan norma dan tatanan hidup yang baik. Allah SWT telah berfirman dalam Q.S. An Nahl:120 “Sesungguhnya Ibrahim ialah seorang yang bisa dijadikan sebagai teladan yang patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk hamba yang menyekutukan (Allah)”. Teladan-teladan ini juga perlu diterapkannya dalam kehidupan bernegara untuk terciptanya rasa nasionalisme dan cinta tanah air terhadap negaranya sendiri. Nasionalisme merupakan sikap yang menunjukkan rasa cinta terhadap tanah air serta siap berkorban untuk memajukan bangsa dan negara.
Pentingnya Kedamaian dalam Hidup Bernegara Bagi Generasi Z
Negara Indonesia adalah negara dengan penduduknya yang ramah dan banyak disegani oleh masyarakat luas. Tetapi di lain sisi keramahannya banyak kehidupan masyarakatnya khususnya adalah beberapa gen Z yang hidupnya saling intoleransi dan sering mengusik kehidupan orang lain. Padahal kedamaian perlu diterapkan sedini mungkin untuk terus bersatu menjaga kedaulatan bangsa. Kedamaian perlu diterapkan baik sesama manusia maupun kepada sang pencipta. Bauto (2014) menyatakan bahwa terwujudnya suatu “kedamaian” apabila didukung dengan adanya penyerahan serta kepatuhan (Islam) terhadap Sang Pencipta. Allah SWT telah berjanji kepada siapa pun yang menyerahkan diri disertai amal sholeh, maka akan mendapatkan kedamaian, karena dalam penyerahan (Islam) ini terdapat konsekuensi sikap muslim yang logis, tidak pernah gentar, pesimis, dan takut dalam hidupnya. Besyukurlah kita bisa hidup di negara Indonesia yang dimana negara ini menjunjung tinggi aksi perdamaian baik di dalam negeri maupun di luar negeri, misalnya Indonesia terlibat aktif dalam misi perdamaian di negara-negara lain seperti Mesir, Libanon, Palestina, Irak, Filipina, Kamboja, Vietnam, Ukraina, Georgia, dan Bosnia.
Gambar 2. Kontingen Garuda.
(Sumber : https://akurat.co/amp/alhamdulilah-ribuan-prajurit-kontingen-garuda-di lebanon-aman-dari-ledakan)
Negara Indonesia termasuk negara yang diberikan bonus demografi dalam menuju Indonesia Emas 2045. Banyak sekali remaja-remaja (gen Z) siap kerja yang menjadikan dampak positif tersendiri dalam kemajuan sebuah negara. Allah SWT telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah:126 “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah
buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruknya tempat kembali”. Indonesia membutuhkan peran dari para generasi Z untuk turut serta bergotong royong membangun Indonesia Emas 2045. Generasi Z harus terus dididik untuk memberikan pembekalan dan pandangan yang baik. Pembekalan ilmu dapat melalui media dakwah yang sama seperti dilakukan oleh para nabi ketika menyebarkan agama Islam.
Kehidupan di Era Society 5.0
Kondisi kehidupan saat ini sangat terbantu dengan hadirnya sebuah teknologi yang membuat pekerjaan seseorang menjadi ringan. Kehidupan di era society 5.0 memungkinkan kita untuk memperbanyak wawasan ilmu pengetahuan yang berbasis AI, Robot, dan IoT untuk membantu pekerjaan manusia menjadi lebih mudah. Generasi Z harus dapat memanfaatkan teknologi dengan bijak serta harus dilandasi dengan pengetahuan yang luas. Perkembangan globalisasi tidak akan terlepas dari yang namanya teknologi. Negara Indonesia harus menghadapi era society 5.0 dengan memperhatikan dampak yang mungkin dapat terjadi di masa yang akan datang. Maka salah satu cara yang dapat dilakukan oleh negara Indonesia dalam menghadapi era ini yaitu dengan penguatan identitas nasional. Zulfa dan Najicha (2022) menyatakan bahwa identitas nasional adalah suatu ciri khas yang dapat dijadikan pembanding atau pembeda suatu bangsa. Perkembangan teknologi jangan sampai merusak moral dan rasa sosial dari masyarakat khususnya adalah generasi Z. Sering kali generasi Z menggunakan teknologi dengan tidak semestinya. Siahaan (2008) menyatakan bahwa teknologi yang canggih semestinya diciptakan untuk memperluas wawasan dan menambah pengetahuan serta bukan untuk merusak moral generasi muda. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu hukumnya wajib, bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”. Aisyah (2022) menyatakan bahwa Syaikh Az Zarnuji mengatakan, bahwa di antara hal yang penting dalam menuntut ilmu yang harus diperhatikan adalah fil jiddi (kesungguhan).
Gambar 3. Manfaat Penggunaan Teknologi.
(Dokumen Pribadi)
Penerapan Dakwah digital sebagai Media Pendidikan Moral
Pemanfaatan teknologi dalam media pendidikan moral dapat berupa media dakwah, dakwah dapat juga dilakukan dengan memanfaatkan teknologi, apalagi para generasi Z sangat dekat dengan penggunaan teknologi, seperti handphone, televisi, dan teknologi yang lainnya. Saragih (2012) menyatakan bahwa generasi Z merupakan anak yang sangat melek teknologi atau net generation. Enjang dan Aliyudin (2009) menyatakan bahwa dakwah merupakan suatu proses transmisi, transformasi, dan difusi serta proses internalisasi ajaran Islam. Dakwah dilakukan dengan tujuan untuk memberikan informasi dan ajaran agama yang berguna dalam mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridhoi oleh Allah SWT. Zaini (2015) menyatakan bahwa kehidupan di era modern ini menjadi kebaharuan bagi da’i untuk memanfaatkan segala teknologi yang ada untuk mempermudah pencapaian tujuan dakwah dan sasaran dakwah. Negara membutuhkan orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran dan berlaku adil. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Maidah:8 “Hai orang-orang yang beriman hendaknya kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah dan menjadi saksi yang adil. Dan janganlah sekali kali kebencian kalian terhadap suatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”.
Generasi Z sebagai sasaran dakwah disini disebut dengan iGeneration. Informasi dan ajaran dakwah juga harus mengikuti perkembangan zaman yang terus berkembang. Pola pikir generasi Z yang salah harus dihilangkan untuk nantinya dapat menjadi pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Kemajuan sebuah negara membutuhkan seorang pemimpin yang baik, hal inilah yang menjadikan tolak ukur bahwasannya generasi Z harus di bimbing dengan baik. Negara membutuhkan generasi muda yang berkarakter pemimpin, serta menjunjung tinggi akhlak dan moral. Generasi muda harus siap menggantikan generasi-generasi tua dalam menjalankan roda kemerdekaan bangsa.
Bangsa yang maju tidak hanya mempertimbangkan dari segi duniawi saja, melainkan juga mampu mempengaruhi penduduknya dalam pembentukan sifat individual yang baik. Apabila suatu negara memegang sepenuhnya kepentingan duniawi, namun akhirat diabaikan, maka bangsa yang besar sekalipun tidak ada artinya di hadapan Allah SWT. Sebagaimana kisah kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan Allah SWT karena kesombongan mereka. Maka itulah pentingnya suatu negara dalam membentuk penduduknya menjadi manusia yang taat dan kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ar-Ruum:7 “Mereka hanya mengetahui yang lahir/material (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai”. Allah SWT juga berfirman dalam Q.S. Al-Imran:196 “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri”.
Negara Indonesia memiliki cita-cita yaitu merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Negara Indonesia juga memiliki tujuan nasional yang tertuang dalam alinea keempat Pembukaan UUD RI 1945, yang berbunyi: “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”. Untuk mencapai cita-cita dan tujuan tersebut tidaklah mungkin suatu negara dapat berjalan sendiri tanpa adanya subjek penggeraknya yaitu generasi penerus bangsa.
Negara Indonesia telah merdeka sejak tahun 1945 silam, namun hingga saat ini menjaga keberagaman negara masih menjadi tantangan tersendiri bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perlu kiranya kita semua sebagai warga negara Indonesia khusunya para generasi Z untuk merefleksikan diri serta menadaburi ulang keberagaman sesuai dengan petunjuk agama. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat/49;13 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
Arti Penting Negara yang Besar dari Tadabbur Al-Qur’an
Berdasarkan ajaran agama dan parameter dari tadabbur Qur’an, negara yang besar bukanlah negara yang hanya maju dalam hal pencapaian prestasi-prestasinya saja. Melainkan negara yang besar adalah negara yang maju secara maknawi. Maknawi disini maksudnya yaitu selain meningkatkan kepentingan negara, tetapi juga memperhatinkan perkembangan moralitas dan norma-norma kehidupan penduduknya. Negara yang maju dalam perspektif Al-Qur’an adalah negara yang selalu bertakwa dan sesuai dengan isi sila pancasila sila pertama yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Bangsa Indonesia sedang dihadapkan dengan norma-norma kesopanan yang lambat laun terasa berkurang jika dibandingkan dengan zaman yang lalu. Pergaulan remaja saat ini sangat mengkhawatirkan karena perkembangan zaman begitu keras bagi generasi Z sehingga saat ini sangatlah menipis akhlah dan keimanan seorang remaja. Padahal generasi inilah yang akan menentukan baik atau buruknya negara ini kedepan. Kemunculan teknologi di era society ini membuat anak-anak menjadi kurang beretika dan bahkan tidak sama sekali memiliki etika saat bersosialisasi pada masyarakat.
Sebagaimana contohnya, saat ini banyak sekali generasi Z yang hidupnya meniru budaya barat seperti berpakaian seksi, berbicara kotor, dan berpakaian yang berlebih-lebihan yang banyak dilihat dari teknologi internet. Peran orang tua juga dibutuhkan untuk mendidik moral dan etika yang baik. Sebagai generasi Z khusunya generasi penerus bangsa yang sadar akan teknologi harus memiliki etika dan terus diterapkan baik di dunia nyata maupun dunia digital. Pemahaman etika digital yang baik harapannya dapat menghilangkan berita hoax, tindakan rasis, perundungan, cyberbullying, hate speech, dan kebocoran data yang dapat merugikan diri sendiri, orang lain, dan bahkan negara.
Kesimpulan dan Saran
Perkembangan kemajuan teknologi dan kehidupan yang serba bebas harus didampingi dengan moral dan etika yang baik. Toleransi antar umat beragama juga harus terus dijalankan untuk terciptanya kedamaian antar umat beragama. Perbedaan ini bukan merupakan pemecah kemerdekaan, namun sebagai pemersatu untuk terus berjuang bersama dalam menjaga kemerdekaan negara Indonesia di era society 5.0. Peradaban kemerdekaan Indonesia dari sisi tadabbur Qur’an harus terus dilaksanakan untuk terciptanya jiwa yang kuat serta menjadi pondasi dan pandangan hidup dalam mengiringi kemajuan negara Indonesia Emas 2045. Peran dari Generasi Z dalam melanjutkan roda kemerdekaan Indonesia terus dibutuhkan. Negara membutuhkan penerus bangsa yang memiliki jiwa pemimpin, berkeadilan, beretika baik, dan berakhlakul karimah.
Era society 5.0 bukan menjadi suatu hal yang buruk bagi kita semua khususnya adalah generasi Z. Perkembangan teknologi harus dijalankan dengan sewajarnya, jangan sampai kualitas dari manusia akan terkalahkan dengan datangnya sebuah teknologi. Kita sebagai penurus bangsa harus pintar dalam memanfaatkan teknologi dengan mengedepankan etika digital yang baik. Harapannya dengan pemanfaatan teknologi di era society ini pemuda generasi Z sebagai penerus bangsa dapat menjalankan bangsa Indonesia ini menjadi lebih maju dan lebih baik lagi, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang maju secara maknawi. Jadikanlah era society ini sebagai bentuk kemajuan sebuah peradaban yang dimana akan membawa kita menjadi lebih baik lagi. Sebuah peradaban harus dilandasi dengan sebuah pondasi yang kuat seperti Al-Qur’an. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan ke depan agar hidup ini menjadi penuh makna dengan kita mengamalkan isi Al-Qur’an. Allah SWT menurunkan Al-Qur’an untuk diimani, dipelajari, dibaca dan direnungkan. Harapannya dengan kita mengamalkan isi Al-Qur’an kita dapat menjadi insan yang memiliki jiwa dan iman yang kuat dalam melanjutkan kehidupan.
Daftar Pustaka
Achiel, Y., B. Soffy, A. A. Eka, dan J. R. Kumaya. 2020. Dampak pandemi covid-19 bagi pekerja “PHK, pemotongan gaji, dan motivasi kerja”. Jurnal Psikologi Wijaya Putra. 1(2). hlm.1-10.
Ainurrahman. 2020. Alhamdulillah, Ribuan prajurit kontingen Garuda di Lebanon aman dari ledakan. (Diakses tanggal 12 Agustus 2023). https://akurat.co/amp/alhamdulilah-ribuan-prajurit-kontingen-garuda-di lebanon-aman-dari-ledakan
Aisyah, A. 2022. Konsep karakteristik pendidik dan peserta didik ideal dalam tafsir Al Qur’anul adhim. Ulumul Qur’an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. 2(1). hlm.77-97.
Bauto, L. M. 2014. Perspektif agama dan kebudayaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia (suatu penebusan sosiologi agama). Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial. 23(2). hlm.11-25.
Enjang dan Aliyudin. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Dakwah: Pendekatan Filosofis dan Praktis. Bandung: Widya Padjadjaran.
Hermansyah, R., F. P. Amaliya, M. I. Nurhakim, S. Komalasari, S. Susilawati, S. Hidayatullah, M. Asbari dan A. Purwanto. 2022. Peran agama Islam untuk mewujudkan kerukunan di lingkungan masyarakat. Jurnal Pengabdian dan Pelibatan Masyarakat. 2(5). hlm.31-36.
Nasution, F. 2020. Kedatangan dan Perkembangan Islam ke Indonesia. Mawa Izh Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan. 11(1). hlm.26-46. Saragih, J. F. B. 2012. Fenomena bermain generasi Z dan hubungannya dengan eksistensi ruang bermain terbuka di ligkungan perumahan sederhana. Journal ComTech: Computer Mathematics and Engineering Applications. 3(1). hlm.8-14. Siahaan, G. 2008. Orang tua, sekolah dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi terhadap perkembangan anak. Jurnal Teknodik. hlm.061-074.
Statistik, B. P. 2020. Ekonomi Indonesia Triwulan II 2020 Turun 5,32 Persen. No.64/08/th.XXIII.
Widarti, R. 2022. Inovasi Sistem Layanan Pengiriman Buku di Perpustakaan FEB UGM. Media Informasi. 31(2). hlm.157-167.
Zaini, A. 2015. Dakwah melalui televisi. At-Tabsyir: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam. 3(1). hlm.1-20.
Zulfa, A. dan F. U. Najicha. 2022. Urgensi penguatan identitas nasional dalam menghadapi society 5.0 di era globalisasi. Jurnal Kalacakra: Ilmu Sosial dan Pendidikan. 3(2). hlm.65-71.