Mengenal Hakikat Bulan Syaban

Oleh KH Bachtiar Nasir
Bismillahirrahmanirrahim.
Allah yang menciptakan waktu-waktu terbaik untuk hamba-Nya. Ada hari terbaik dalam setahun, yakni hari Arafah. Hari terbaik dalam sepekan, yakni hari Jumat. Ada 10 hari terbaik dalam setahun, yaitu 10 hari di bulan Zulhijjah. Kemudian, setiap hari ada waktu istimewa yang Allah tetapkan untuk kita, yakni sepertiga malam.
Allah juga menetapkan bulan Syaban ini salah satu bulan yang istimewa, di mana di dalamnya banyak cabang-cabang kebaikan untuk menghadapi Ramadhan.
Keutamaan Bulan Syaban
Bulan Sya’ban merupakan bulan yang paling disukai Rasulullah setelah Ramadhan. Beliau bersabda, “Bulan yang paling Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sukai untuk berpuasa adalah Bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan Ramadhan.” (HR. Abu Dawud).
Puasa paling utama setelah Ramadhan adalah Sya’ban. Ini sesuai dengan sabda Nabi ketika ditanya mengenai puasa apa yang lebih utama setelah Ramadhan. Beliau menjawab: “Bulan Sya’ban untuk memuliakan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi)
Kenapa dinamakan Syaban?
Dinamakan Syaban karena di dalamnya banyak cabang-cabang kebaikan untuk menghadapi Ramadhan. Ada keberkahan yang kita dapati dari begitu banyak kebaikan.
Dalam kitab “Raudhatul ‘Ulamā” disebutan suatu riwayat yang redaksinya demikian, “Tahukah kenapa bulan itu dinamakan Sya’ban?” Maka dijawab, “Karena di dalamnya kebaikan yang banyak bercabang-cabang.” Maksudnya, di bulan ini, dibagi-bagikan kebaikan yang berlimpah untuk menghadapi Ramadhan.
Pada bulan Syaban ini kita dianjurkan memperbanyak ibadah dan amal saleh seperti qiyamul Lail, banyak berinfaq, banyak tilawah, dan berbagai macam bentuk ibadah lainnya.
Dalilnya
Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, “Usamah melanjutkan: kataku selanjutnya: “Dan kami tidak melihat engkau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya’ban?”. Beliau bersabda: “Itulah bulan yang orang-orang banyak yang lalai antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan ditampakkannya amalan-amalan, dan aku suka ketika amalanku diperlihatkan di hadapan Rabbku, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)
Umat Islam perlu memerhatikan bulan Syaban
Sebagai umat Islam kita perlu memerhatikan bulan Syaban ini, sebab ada beberapa peristiwa istimewa di dalamnya. Peristiwa pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Mekkah, pensyariatan puasa dan zakat, dan kewajiban berperang. Bila dianalisis, peristiwa-peristiwa dalam bulan Sya’ban ini sebagai persiapan bagi muslim untuk menyambut perjuangan sesungguhnya di bulan Ramadhan.
Terbukti, kemenangan agung pertama di lembah Badar yang di saksikan makhluk semesta, bertepatan dengan bulan Ramadhan dan awal pertama wahyu diturunkan. Mereka mendapat kegemilangan legendaris dalam sejarah, karena mereka pada bulan Sya’ban sudah disiapkan sedemikian rupa untuk menyambut kemenangan sejati di bulan Ramadhan.
Mengapa Syaban dilupakan Orang?
Dalam sabda Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, “Itulah bulan yang manusia lalai darinya”, mengisyaratkan bahwa sebagian waktu, tempat, atau pribadi tertentu yang sudah masyhur keutamaannya, bisa jadi yang lain lebih utama darinya, baik secara mutlak atau karena ada kekhususan (keistimewaan) padanya yang tidak dipahami oleh kebanyakan manusia, sehingga mereka lebih sibuk dengan hal-hal yang populer (masyhur) lantas melewatkan begitu saja untuk mendapat keutamaan (dari) yang tidak populer di kalangan mereka.
Bolehkan puasa di bulan Syaban?
Imam al-Nawawi Rahimahullah berkata dalam kitab “al-Majmuu’” (6/399): “Sahabat-sahabat kami dari kalangan madzhab Syafi`iyah berkata, “Tidak sah puasa yang dikerjakan pada hari syak (yang diragukan) terkait Ramadhan, ini tidak ada perbedaan. Jika ia berpuasa pada hari itu untuk mengqadha puasa, nazar, atau untuk membayar tebusan, maka itu cukup baginya. Karena, jika orang yang berpuasa sunnah pada hari tersebut karena sudah biasa dibolehkan, maka orang yang berpuasa wajib seharusnya lebih dibolehkan. Selain itu, jika dia ada tanggungan satu hari mengqadha puasa Ramadhan, maka dia boleh berpuasa pada hari syak itu, karena waktu pengqadhaannya semakin sempit.” (*)