Artikel

Kenapa Bacaan Shalat Zuhur dan Ashar Secara Sirr?

Ilustrasi

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustaz, kenapa bacaan shalat Zuhur dan Ashar yang kita lakukan pada siang hari harus kita baca secara sirr (tidak dikeraskan)? Padahal dalam surat al-Isra’ ayat 110 kita diperintahkan untuk tidak terlalu mengeraskan dan juga tidak terlalu melunakkan, yang berarti tetap dengan suara tapi tidak terlalu keras. Mohon penjelasannya, Ustaz.

Hamba Allah.

Jawab:

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan larangan-Nya, sebagai mukmin seharusnya kita tunduk dan patuh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan tersebut. Baik kita tahu hikmahnya atau tidak. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّـهِ وَرَ‌سُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Surat An-Nur [24]: 51).

Begitu juga, kita dituntut untuk mencontoh dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang kita diperintahkan untuk mengikutinya baik kita tahu hikmahnya atau tidak. Karena Allah Ta’ala telah menegaskan kepada kita:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَ‌سُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْ‌جُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ‌ وَذَكَرَ‌ اللَّـهَ كَثِيرً‌ا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Surat Al-Ahzab [33]: 21).

Kita harus yakin bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya tidak memerintahkan atau melarang sesuatu kecuali ada maslahat bagi manusia dalam perintah dan larangan tersebut. Imam Syathibi dalam kitabnya al-Muwafaqat menegaskan bahwa sesungguhnya syari’at itu disyariatkan demi untuk kemaslahatan manusia. Di mana semua taklif (perintah dan larangan) adalah untuk menghindari mafsadah (kerusakan), untuk mendapatkan maslahat (kemaslahatan) atau untuk mendapatkan kedua-duanya. Imam Ibnu Qayyim juga menjelaskan dalam kitabnya i’lam al-muwaqqi’in bahwa sesungguhnya Syari’at Islam itu dasar dan asasnya adalah diatas hikmah dan untuk kebaikan umat manusia, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Syariat itu seluruhnya adalah keadilan, rahmat, kebaikan dan hikmah.

Tapi itu bukan berarti bahwa kita dilarang untuk menggali hikmah yang terdapat dalam setiap perintah dan larangan Allah SWT tersebut. Karena dengan menggali dan mendalami hikmah itu dapat menambah keyakinan kita kepada keagungan syariat Islam dan bahwa memang Islam itu datang dari Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Tahu segala yang baik dan dibutuhkan oleh manusia.

Para ulama kita telah mengkaji dan meneliti tentang hikmah dari perbedaan antara shalat-shalat yang kita lakukan pada waktu malam dan waktu siang dalam hal mengeraskan dan melunakkan suara. Di antara hikmahnya itu adalah bahwa waktu malam adalah waktu yang tenang, sepi dan hati lagi istirahat dari segala urusan dunia, maka waktu itu cocok dengan suara yang agak dikeraskan untuk menunjukkan kelezatan dan manisnya bermunajat kepada Allah SWT. Juga agar hati, lisan dan telinga kita semuanya fokus pada bacaan yang dibaca.

Sedangkan waktu siang hari yang merupakan waktu sibuk bekerja dan berusaha, di mana hati dan pikiran kita juga sedang disibukkan dengan segala urusan tersebut maka waktu itu cocok dengan bacaan sirr (tidak dikeraskan) agar setiap orang yang mengerjakan shalat di siang hari juga membaca bacaan tidak hanya sekadar mendengar bacaan imamnya sehingga pikirannya bisa fokus dan tidak memikirkan hal-hal lain selain shalatnya. Kecuali dalam shalat-shalat yang menjadi syiar agung umat Islam dan waktu berkumpulnya umat Islam dalam jumlah banyak seperti sholat Jumat, shalat Ied, shalat Istisqa` dan shalat gerhana. Hal itulah yang ditegaskan dalam Alquran:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا ﴿٦﴾ إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ‌ سَبْحًا طَوِيلًا

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).” (Surat Al-Muzammil [73]: 6-7).

Adapun ayat 110 surat al-Isra` yang berarti ‘Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya’, Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam menyebutkan sebab turunnya (asbab al-nuzul) ayat ini. Di antara pendapat itu adalah:

  • Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun kepada Nabi SAW di Mekkah, dimana jika beliau sholat bersama para sahabatnya, beliau mengeraskan suaranya dan jika orang-orang musyrik mendengar bacaan Nabi tersebut mereka menghina Alquran, Allah yang menurunkannya dan Rasulullah SAW. Maka Allah SWT. berfirman “Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu” sehingga bisa didengar oleh kaum musyrikin, dan “janganlah pula merendahkannya” sehingga para sahabatmu tidak bisa mendengarkannya. Dengarkanlah al-Qur`an kepada sahabatmu tapi jangan terlalu keras.
  • Diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan doa.
  • Ibnu Sirrin menjelaskan bahwa orang Arab biasanya mengeraskan suaranya dalam tasyahud maka turunlah ayat ini menjelaskan.
  • Ibnu Sirrin juga meriwayatkan bahwa Abu Bakar biasa melunakkan suaranya dalam shalat sedangkan Umar mengeraskannya. Ketika mereka ditanya kenapa melakukan hal itu, maka Abu Bakar menjawab bahwa beliau bermunajat kepada Tuhannya dan Dia maha mengetahui apa kebutuhannya. Sedangkan Umar menjawab bahwa aku ingin mengusir syaitan dan membangunkan orang yang tidur. Ketika ayat ini diturunkan maka dikatakan kepada Abu Bakar, “Keraskan suaramu sedikit!” dan dikatakan kepada Umar, “Rendahkan suaramu sedikit!”.
  • Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa maksudnya adalah janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalat pada waktu siang, dan janganlah kamu melunakkan suaramu dalam shalat pada waktu malam.

Tata cara sholat fardhu yang lima waktu telah dijelaskan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. dan hal itu telah dilakukan dan diikuti seluruh umat Islam sepanjang sejarah umat ini karena memang tata cara segala macam ibadah yang diwajibkan Allah SWT. kepada umat Islam hanya dapat diterima jika itu berlandaskan kepada apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Dan ayat 110 surat al-Isra` itu tidak menyangkut semua sholat, tapi berdasarkan salah satu pendapat dalam sebab turunnya ayat itu adalah kita tidak mengeraskan suara dalam sholat pada waktu siang, dan tidak melunakkan suara dalam sholat pada waktu malam, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas. Wallahu a’lam bish shawab.*

KH Bachtiar Nasir

 

Exit mobile version