Artikel

Hari Anti-Islamophobia Internasional Patut Disyukuri

 

Oleh:

KH Bachtiar Nasir || Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia 

 

Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam semesta. Apa yang diajarkan Islam sepenuhnya adalah manfaat bagi manusia dan segenap penghuni semeta. Sayangnya, misi yang dibawa oleh Islam tersebut tak lantas disambut baik oleh umat manusia di bumi ini. Banyak orang yang belum mengerti apa itu Islam dan apa yang diajarkan oleh Islam.

Sehingga banyak prejudice yang berkembang menjadi stigma negatif, intimidasi, kekerasan, bahkan genosida yang dilakukan terhadap umat Islam. Ditambah lagi realita bahwa umat Islam saat ini belum bersatu dan banyak yang berada di posisi negara dunia ketiga.
Oleh karena itu, keputusan PBB untuk menetapkan Hari Anti-islamophobia Internasional pada15 Maret 2022 adalah tindakan yang sangat tepat untuk melindungi umat Islam dengan payung hukum internasional. Mengingat kondisi umat Islam hari ini secara mayoritas cukup memprihatinkan.

Berdasar pada keputusan PBB tersebut, saya Bachtiar Nasir, selaku Ketua Umum Perkumpulan AQL, Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) mengajak kepada bangsa Indonesia sebagai negeri berpopulasi Muslim terbesar di dunia agar menjadi negara yang terdepan dalam menyambut dan mengawal ketetapan PBB dalam realisasi antiislamophobia; dengan aksi nyata sebagai berikut:

Pertama, stop kekerasan yang dilakukan terhadap umat Islam. Violence (kekerasan) yang dilakukan disini mencakup tindakan fisik, verbal, maupun non verbal.

Kedua, stop diskriminasi terhadap hak-hak warga negara yang memeluk agama Islam; baik berupa peraturan yang memberatkan dan berbagai bentuk lainnya.

Ketiga, stop ujaran kebencian apa pun bentuknya, agar dijauhkan dari Islam karena Islam bukanlah seperti apa yang dituduhkan.

WTC 9/11

Islamphobia yang mulai dilancarkan oleh pihak-pihak yang memusuhi Islam ini, dimulai dengan konspirasi WTC 9/11. Dampaknya secara global terus menerjang berbagai aspek, bagaikan bola salju hingga hari ini. Mengubur kepercayaan dunia internasional dan menjadikan Islam sebagai simbol terorisme global. Sebagai agama yang radikal, intoleran, barbar, dan berbagai stigma negatif lainnya.

Konspirasi jahat ini tentu bukan tanpa alasan. Tidak ada satu pun musuh Islam (termasuk dunia Barat) yang ingin terusik dengan kekuatan Islam yang mulai menggeliat. Bila Islam sudah masuk dalam percaturan kekuatan Internasional dalam aspek apa pun, hal itu akan sangat mengganggu stabilitas Amerika dan sekutunya sebagai super power dunia saat ini.

Oleh karena itu, momentum hari antiislamophobia ini harus kita manfaatkan semaksimal mungkin – karena juga belum banyak dari kaum Muslimin sendiri yang mengetahui adanya momentum ini.
Saya mengajak semua elemen Islam untuk melakukan publikasi dan edukasi tentang Islam secara besar-besaran. Terutama melalui media sosial dan berbagai media publikasi yang dapat digunakan. Ramaikan jagad media dan tampilkan kreasi inovatif yang dapat membuat membuka mata dunia bahwa Islam bukanlah seperti yang dituduhkan selama ini. Dan, tunjukkan pula pada dunia bahwa kita memerangi Islamophobia dalam bentuk apa pun dengan cara yang baik, santun, dan bermakna.

Saya juga mengajak kepada seluruh khatib Jumat pada hari ini untuk menyelipkan pada isi khutbahnya agar kita menjadi benteng sekaligus mampu memberikan berbagai serangan balik terhadap berbagai bentuk serangan Islamophobia. Dengan cara yang baik, sesuai dengan syariat Islam, dan tentunya bertujuan menciptakan perdamaian dan menjunjung harkat kemanusiaan.

Sehingga sinar kebenaran Islam dapat terkuak dengan sempurna. Serta, terwujudnya Islam sebagai rahmatan lil alamiin akan semakin dekat dan nyata.*

Exit mobile version